Shalat Tahajjud di Awal Malam sebelum Tidur, Bolehkah?

Umar Faqih
5 Min Read
Foto: Azkia Karima Saefullah | Islampos Media

SHALAT Tahajjud adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat istimewa dalam Islam. Banyak kaum Muslimin berusaha menjaganya karena ingin lebih dekat kepada Allah, memohon ampunan, dan menguatkan hati di tengah kesibukan hidup. Namun di tengah semangat menjalankannya, muncul pertanyaan yang cukup sering ditanyakan: apakah shalat Tahajjud boleh dilakukan di awal malam sebelum tidur?

Sebagian orang mengira Tahajjud hanya sah jika dilakukan setelah tidur di tengah malam. Akibatnya, ada yang akhirnya tidak jadi shalat karena takut ketiduran atau tidak mampu bangun malam.

Padahal Islam adalah agama yang memberi kemudahan dan memahami kemampuan setiap hamba.

Apa Itu Shalat Tahajjud?

Tahajjud adalah shalat sunnah malam yang sangat dianjurkan. Para ulama menjelaskan bahwa Tahajjud pada asalnya adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur.

Karena itu, banyak orang mengerjakannya di sepertiga malam terakhir setelah bangun dari tidur. Waktu tersebut memang sangat utama karena menjadi waktu turunnya rahmat dan dikabulkannya doa.

Namun perlu dipahami, seluruh shalat sunnah yang dilakukan di malam hari secara umum termasuk dalam qiyamul lail atau shalat malam.

BACA JUGA:  Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?

Kalau Belum Tidur, Apakah Tetap Bisa Shalat?

Jika seseorang melaksanakan shalat sunnah di malam hari sebelum tidur, maka shalatnya tetap sah dan berpahala sebagai shalat malam. Hanya saja sebagian ulama membedakan istilahnya.

Mereka menjelaskan bahwa jika dilakukan setelah tidur, maka itu disebut Tahajjud. Sedangkan jika dilakukan sebelum tidur, ia termasuk qiyamul lail secara umum.

Namun dalam praktik sehari-hari, banyak orang tetap menyebutnya Tahajjud karena tujuannya sama-sama menghidupkan malam dengan ibadah.

Yang paling penting bukan sekadar istilah, tetapi semangat mendekatkan diri kepada Allah.

Bagi yang Takut Tidak Bangun Malam

Ada orang yang sangat ingin Tahajjud, tetapi kondisi tubuhnya lelah karena pekerjaan, menjaga anak, atau aktivitas harian yang berat. Ia khawatir jika tidur lebih dulu justru tidak bisa bangun lagi hingga Subuh.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian ulama menganjurkan agar ia shalat malam sebelum tidur agar tidak kehilangan kesempatan beribadah.

Hal ini juga pernah dijelaskan dalam hadits Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ memberi arahan bahwa orang yang khawatir tidak bangun di akhir malam boleh melaksanakan witir sebelum tidur.

Ini menunjukkan bahwa Islam memberi kemudahan sesuai kemampuan hamba-Nya.

https://s.shopee.co.id/8KjNfTuXxD

Sepertiga Malam Tetap Waktu yang Paling Utama

Meski shalat malam sebelum tidur tetap baik, waktu yang paling utama tetaplah di sepertiga malam terakhir. Pada waktu itu suasana lebih tenang, hati lebih khusyuk, dan manusia lebih jauh dari kesibukan dunia.

Banyak ulama salaf sangat menjaga ibadah malam di waktu tersebut. Mereka memanfaatkannya untuk shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa dengan penuh harap kepada Allah.

Karena itu, jika seseorang mampu bangun malam, maka itu lebih baik dan lebih utama.

Namun jangan sampai karena merasa belum mampu bangun malam, seseorang akhirnya meninggalkan shalat malam sama sekali.

Jangan Menunggu Sempurna Baru Beribadah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menunda ibadah karena merasa belum bisa menjalankannya secara ideal. Ada yang berkata, “Nanti saja Tahajjud kalau sudah bisa bangun jam tiga malam.”

Padahal bisa jadi kesempatan itu tidak pernah datang jika tidak mulai membiasakan diri dari sekarang.

Lebih baik memulai dengan kemampuan yang ada. Jika baru mampu shalat malam sebelum tidur, maka lakukanlah. Seiring waktu, seseorang bisa melatih dirinya bangun lebih malam secara bertahap.

Ibadah yang terus dijaga walaupun sedikit lebih dicintai Allah daripada semangat besar yang cepat hilang.

BACA JUGA: Shalat Tahajjud setelah Shalat Witir, Bolehkah?

Jangan Lupakan Keikhlasan

Shalat malam bukan sekadar rutinitas atau kebanggaan spiritual. Ia adalah ibadah yang sangat dekat dengan keikhlasan karena dilakukan ketika banyak manusia sedang terlelap tidur.

Karena itu, jangan sampai Tahajjud hanya menjadi ajang merasa lebih baik daripada orang lain. Fokuslah pada hubungan pribadi dengan Allah dan kebutuhan hati kepada-Nya.

Kadang dua rakaat yang dilakukan dengan tulus lebih bernilai daripada banyak rakaat tanpa kehadiran hati.

Penutup

Shalat Tahajjud atau shalat malam sebelum tidur tetap boleh dilakukan dan tetap berpahala. Meski sebagian ulama membedakan istilah Tahajjud untuk shalat yang dilakukan setelah tidur, ibadah malam sebelum tidur tetap termasuk amal yang sangat baik.

Jika mampu bangun di sepertiga malam terakhir, maka itu lebih utama. Namun jika khawatir tidak bangun, jangan tinggalkan shalat malam sama sekali.

Sebab yang paling penting adalah menjaga hubungan dengan Allah, meskipun dimulai dari langkah kecil yang sederhana. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *