IBNU Mas‘ud saat kecil menjadi pengembala kambing milik tokoh Quraisy, Uqbah bin Abi Mu’aith. Suatu hari, ketika saat sedang mengembala kambing, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar mendatangi Ibnu Mas‘ud. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Pengembala, apakah kamu mempunyai susu?”
Ibnu Mas‘ud menjawab,
“Ya, mempunyainya, tetapi aku hanyalah orang yang diamanahi untuk mengurus kambing ini.”
Beliau bertanya lagi,
“Adakah kambing yang tidak mengeluarkan susu?”
Ibnu Mas‘ud pun membawa kambing yang dimaksud. Lalu Rasulullah ﷺ mengusap kambing dan air susu pun keluar.
Rasulullah ﷺ memerah susu kambing itu ke dalam bejana kemudian meminumnya, lantas memberikan sebagian kepada Abu Bakar.
Kemudian Rasulullah ﷺ memegang kambing itu sambil berseru, “Mengempislah!” Sehingga kambing itu kembali seperti semula.
Setelah itu Ibnu Mas‘ud mendatangi Rasulullah ﷺ lantas memohon,
“Wahai Rasul, ajarilah aku perkataan itu.”
Permintaan itu ditanggapi oleh beliau seraya mengusap kepala Ibnu Mas‘ud dengan bersabda,
“Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kamu kelak menjadi pemuda yang akan dipenuhi ilmu.”
BACA JUGA: Teka-Teki Rasulullah ﷺ kepada Anak-Anak
Kelak sabda Rasulullah ﷺ ini terwujud. Ibnu Mas‘ud menjadi sosok yang berkah dengan ilmu.
Kisah Abdullah bin Mas’ud adalah pelajaran besar tentang bagaimana ilmu lahir dari kejujuran, adab, kedekatan dengan orang shalih, dan keberkahan doa. Ia hanyalah seorang anak pengembala miskin, bukan bangﷺan Quraisy, bukan pula orang terpandang. Namun Allah mengangkat derajatnya hingga menjadi salah satu ulama terbesar di kalangan sahabat.
1. Kejujuran Anak adalah Benih Kemuliaan
Ketika Rasulullah ﷺ meminta susu, Ibnu Mas‘ud sebenarnya mampu saja memberikan susu tanpa izin pemilik kambing. Namun ia berkata,
> “Aku hanyalah orang yang diamanahi.”
Kalimat sederhana ini menunjukkan karakter luar biasa:
- amanah,
- takut berkhianat,
- dan menjaga hak orang lain meski masih kecil.
Inilah fondasi ilmu yang berkah.
Sebab ilmu tanpa kejujuran hanya melahirkan kecerdasan yang berbahaya. Sedangkan hati yang amanah akan lebih mudah menerima cahaya ilmu dari Allah.
2. Pendidikan Karakter Mendahului Pendidikan Ilmu

Sebelum Ibnu Mas‘ud menjadi alim besar, ia lebih dahulu dikenal:
- jujur,
- amanah,
- dan beradab.
Rasulullah ﷺ melihat kualitas hati anak itu sebelum melihat kecerdasannya.
Ini pelajaran penting: pendidikan anak tidak boleh hanya fokus pada:
- hafalan,
- nilai akademik,
- atau prestasi dunia,
tetapi harus membangun:
- amanah,
- rasa takut kepada Allah,
- dan akhlak.
Karena ilmu paling mudah tumbuh di hati yang bersih.
3. Anak yang Dekat dengan Orang Shalih Akan Berubah
Satu pertemuan dengan Rasulullah ﷺ mengubah hidup Ibnu Mas‘ud kecil.
Ia tidak hanya melihat mukjizat keluarnya susu kambing, tetapi juga melihat:
- kelembutan Rasulullah ﷺ,
- akhlaknya,
- dan cahaya kenabian.
- Hatinya langsung terpaut kepada ilmu dan kebenaran.
Ini menunjukkan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi masa depan anak.
Anak yang sering dekat dengan:
- ulama,
- guru yang baik,
- majelis ilmu,
- dan orang-orang shalih,
akan lebih mudah tumbuh mencintai ilmu dan agama.
4. Pendidikan Dimulai dari Rasa Ingin Tahu
Perhatikan reaksi Ibnu Mas‘ud setelah melihat peristiwa itu. Ia berkata:
> “Ajarkanlah aku perkataan itu.”
Ia tidak meminta:
- harta,
- kambing,
- atau kedudukan.
Ia meminta ilmu.
Inilah tanda hati yang hidup: rasa ingin tahu terhadap kebaikan.
Orang tua dan guru perlu menumbuhkan rasa cinta ilmu pada anak, bukan hanya memaksa mereka belajar.
5. Doa dan Sentuhan Baik Sangat Mempengaruhi Anak
Rasulullah ﷺ mengusap kepala Ibnu Mas‘ud lalu mendoakannya:
> “Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kamu akan menjadi pemuda yang dipenuhi ilmu.”
Doa itu menjadi kenyataan.
Ini menunjukkan:
- doa orang shalih sangat besar pengaruhnya,
- sentuhan kasih sayang membekas pada jiwa anak,
- dan ucapan baik bisa menjadi energi kehidupan mereka.
Kadang satu doa tulus kepada anak lebih kuat daripada banyak hukuman.

6. Kemuliaan Tidak Ditentukan oleh Status Sosial
Ibnu Mas‘ud hanyalah:
- penggembala,
- miskin,
- dan bukan tokoh Quraisy.
Namun ia menjadi salah satu sahabat paling alim dalam Al-Qur’an dan fiqih.
Ini pelajaran penting: jangan meremehkan anak kecil karena:
- kemiskinan,
- pekerjaan,
- atau latar belakangnya.
Bisa jadi anak sederhana hari ini menjadi cahaya besar bagi umat di masa depan.
BACA JUGA: Anak-anak Berlarian Menyambut Kedatangan Rasulullah ﷺ di Madinah
7. Ilmu yang Berkah Berasal dari Hati yang Rendah
Ibnu Mas‘ud dikenal sangat tawadhu meskipun ilmunya tinggi. Semua itu berawal dari pendidikan jiwa:
- amanah,
- rendah hati,
- dan selalu ingin belajar.
Anak yang merasa sudah paling pintar biasanya sulit berkembang. Sedangkan anak yang rendah hati lebih mudah dipenuhi ilmu.
Renungan
Hari ini banyak orang tua ingin anaknya pintar, tetapi kurang memperhatikan:
- kejujuran,
- amanah,
- adab,
- dan lingkungan hatinya.
Padahal Rasulullah ﷺ tidak pertama kali memuji kecerdasan Ibnu Mas‘ud kecil. Beliau melihat kejujurannya terlebih dahulu.
Dari seorang pengembala kecil yang menjaga amanah itulah lahir seorang ulama besar umat Islam. Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa ilmu yang bercahaya tidak tumbuh dari kesombongan, tetapi dari hati yang bersih dan takut berkhianat kepada Allah. []
Sumber:
Mahmud Al-Misri, Ensiklopedia Sahabat Nabi, Pustaka Imam Syafi‘i, 2016, hal. 18-19
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

