Jangan Berikan Kemudahan untuk Anak

6 Min Read
Foto: freepik

MEMBANGUN  mental anak bukan dengan memanjakan semua keinginannya.
Bukan dengan membersihkan seluruh jalan agar ia tak pernah tersandung.

Anak yang selalu diberi kemudahan sering tumbuh rapuh.
Sedikit masalah membuatnya panik.
Sedikit kegagalan membuatnya menyerah.
Sedikit kritik membuatnya marah.

Bukan karena ia lemah sejak lahir.
Tetapi karena hidupnya terlalu steril dari tantangan.

Banyak orang tua mencintai anak dengan cara melindungi berlebihan.
Semua disiapkan.
Semua dibantu.
Semua dipermudah.

Tas dibawakan.
Masalah dibereskan.
Konflik diselesaikan.
Keinginan dipenuhi.

Niatnya baik.
Ingin anak bahagia.
Ingin anak tidak terluka.

BACA JUGA: Kasih Sayang Nabawi terhadap Anak-anak: Tradisi Doa, Sentuhan, dan Tabarruk

Namun hidup tidak berjalan seperti ruang berlapis busa.

Dunia nyata punya penolakan.
Ada kegagalan.
Ada kehilangan.
Ada rasa kecewa.
Ada orang yang tidak selalu mengerti dirinya.

Jika anak tidak dilatih sejak dini, ia akan kaget saat dewasa.

Mental kuat dibangun dari proses.
Dari kesulitan yang terukur.
Dari tantangan yang sesuai usia.

Biarkan anak belajar menunggu.

Tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi.
Kadang ia harus menahan diri.
Belajar sabar.
Belajar memahami bahwa hidup punya jeda.

Menunggu adalah latihan kecil untuk mengendalikan emosi.

Psikolog perkembangan, Walter Mischel, melalui eksperimen terkenal marshmallow test, menunjukkan bahwa kemampuan anak menunda kepuasan berkaitan dengan regulasi diri yang lebih baik di masa depan.

Artinya sederhana.
Anak yang terbiasa tidak selalu mendapatkan apa yang ia mau, cenderung lebih siap menghadapi kehidupan.

Biarkan anak mengalami frustrasi kecil.

Mainannya rusak.
Permainannya kalah.
Temannya tidak mau berbagi.

Jangan buru-buru menyelamatkan semuanya.

Kadang orang tua terlalu cepat hadir seperti pemadam kebakaran.
Semua masalah langsung dipadamkan.

Padahal sedikit rasa kecewa itu sehat.
Selama aman dan proporsional.

Dari situ anak belajar menghadapi rasa tidak nyaman.

Mental kuat bukan kemampuan menghindari rasa sakit.
Tetapi kemampuan bertahan saat rasa sakit datang.

Ajarkan tanggung jawab.

Jika ia membuat berantakan, ajak membereskan.
Jika ia salah, bantu mengakui.
Jika punya tugas, biarkan menyelesaikan.

Jangan biasakan anak selalu punya “tim penyelamat”.

Tanggung jawab menumbuhkan harga diri.

Anak merasa dirinya mampu.
Berguna.
Memiliki kontribusi.

Psikolog, Carol Dweck, menjelaskan pentingnya growth mindset.
Yaitu pola pikir bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan ketekunan.

https://s.shopee.co.id/3Vf1tnluRU

Karena itu, jangan terlalu sering memuji hasil.
Pujilah proses.

Bukan, “Kamu memang paling pintar.”
Tetapi, “Kamu tekun berusaha.”

Bukan, “Kamu hebat karena menang.”
Tetapi, “Kamu berani mencoba.”

Anak perlu paham bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh hasil akhir.

Ia berharga bahkan saat gagal.
Tetapi tetap harus belajar bangkit.

Berikan tugas sesuai usia.

Rapikan tempat tidur.
Susun buku.
Bantu menyapu.
Siapkan perlengkapan sendiri.

Tugas kecil melatih disiplin besar.

Anak belajar bahwa hidup bukan hanya menerima.
Tetapi juga memberi.

Jangan takut anak merasa capek.

Sedikit capek tidak berbahaya.
Justru membangun daya tahan.

Tubuh dan mental sama-sama perlu latihan.

Otot menjadi kuat karena diberi beban.
Mental juga demikian.

Namun ingat, jangan berubah menjadi keras tanpa kasih.

Tidak memberi kemudahan bukan berarti mempersulit tanpa alasan.

Bukan membiarkan anak tenggelam sendirian.

Anak tetap perlu dukungan.
Tetap perlu pelukan.
Tetap perlu tempat aman untuk pulang.

Bedanya, orang tua bukan mengangkat semua bebannya.
Tetapi mendampingi saat ia belajar mengangkatnya sendiri.

Seperti mengajari naik sepeda.

Awalnya dipegang.
Lalu perlahan dilepas.

Anak mungkin jatuh.
Mungkin menangis.
Mungkin takut.

Tetapi justru di situlah keberanian tumbuh.

Jika selamanya dipegang, ia tidak akan pernah seimbang.

Ajarkan juga menerima kata “tidak”.

Ini penting.

Tidak semua hal bisa dinegosiasikan.

Batas membuat anak belajar struktur.
Belajar aturan.
Belajar menghormati realitas.

Anak tanpa batas sering tumbuh sulit mengelola keinginan.

Ia terbiasa menjadi pusat dunia.

Padahal dunia tidak berputar mengelilinginya.

Semakin cepat ia memahami ini, semakin sehat mentalnya.

Yang paling penting, jadilah contoh.

Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat.

BACA JUGA:  Lebih Baik Anak Belajar Ngaji dengan Orang Tua atau Guru di Luar Rumah?

Jika orang tua mudah mengeluh, anak belajar rapuh.
Jika orang tua mudah marah, anak belajar reaktif.
Jika orang tua tenang menghadapi masalah, anak belajar kokoh.

Mental kuat diwariskan lewat teladan.

Bukan ceramah panjang.

Anak tidak membutuhkan hidup yang selalu mudah.
Ia membutuhkan hidup yang cukup aman untuk belajar menghadapi kesulitan.

Karena tujuan mendidik bukan membuat anak nyaman selamanya.

Tetapi membuatnya siap hidup.

Siap jatuh tanpa hancur.
Siap gagal tanpa berhenti.
Siap menang tanpa sombong.

Dan kelak, saat orang tua tidak selalu ada di sampingnya,
ia tetap mampu berdiri.

Dengan kaki sendiri.
Dengan hati yang tangguh.
Dengan mental yang sehat. []

Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.

Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *