Hukum Shalat Berjamaah tapi Shaff-nya Jarang-jarang

5 Min Read
Foto: Islampos

SHALAT berjamaah bukan hanya sekadar berdiri bersama dalam satu tempat. Islam juga mengajarkan adab dan kerapian dalam membentuk shaff. Karena itu, Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan barisan para sahabat sebelum shalat dimulai.

Beliau ﷺ bersabda:

“Luruskan dan rapatkan shaff kalian, karena meluruskan shaff termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Rapatkan shaff-shaff kalian dan jangan beri celah bagi setan.” (HR. Ahmad)

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa merapatkan shaff bukan perkara sepele. Ada nilai persatuan, kedisiplinan, dan ketaatan di dalamnya.

Apa yang Dimaksud Shaff Jarang-jarang?

Shaff jarang-jarang adalah ketika makmum berdiri dengan jarak yang terlalu jauh satu sama lain sehingga terlihat renggang dan banyak celah kosong di antara jamaah.

Padahal sunnahnya adalah:

Bahu saling sejajar
Kaki dalam posisi wajar dan dekat
Tidak membuat celah yang berlebihan
Tidak maju atau mundur sendiri

Tujuannya bukan berhimpitan secara menyulitkan, tetapi membentuk barisan yang rapi dan menyatu.

BACA JUGA:  Apakah Nabi Muhammad ﷺ Pernah Terlambat Shalat Berjamaah di Masjid?

Apakah Shalatnya Sah?

Para ulama sepakat bahwa shalat berjamaah dengan shaff yang renggang tetap sah. Artinya, shalatnya tidak batal hanya karena jarak antarjamaah terlalu longgar.

Namun, perbuatan tersebut dianggap menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ. Sebab Nabi ﷺ sangat menekankan pentingnya meluruskan dan merapatkan barisan.

Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa meluruskan dan merapatkan shaff termasuk sunnah yang sangat dianjurkan dalam shalat berjamaah.

Jadi, yang bermasalah bukan sah atau tidak sahnya shalat, tetapi hilangnya kesempurnaan dan adab berjamaah yang diajarkan Nabi ﷺ.

https://s.shopee.co.id/6Kxvb6YE1V

Kebiasaan yang Sering Terjadi di Masjid

Di sebagian tempat, ada orang yang sengaja mengambil jarak jauh saat shalat berjamaah. Kadang karena:

Tidak nyaman terlalu dekat
Merasa gerah
Tidak terbiasa
Ingin ruang lebih luas
Masih terbawa kebiasaan masa pandemi

Padahal jika kondisi sudah normal dan tidak ada kebutuhan khusus, maka sunnahnya kembali merapatkan shaff sebagaimana ajaran Rasulullah ﷺ.

Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله pernah menjelaskan bahwa shaff yang renggang termasuk kesalahan yang sering diremehkan banyak orang, padahal Nabi ﷺ sangat serius dalam urusan ini.

Bagaimana Saat Kondisi Darurat?

Ketika terjadi wabah atau kondisi tertentu yang mengharuskan adanya jarak demi keselamatan, maka para ulama memberikan keringanan. Sebab menjaga jiwa juga termasuk tujuan besar syariat.

Pada masa pandemi misalnya, sebagian ulama membolehkan adanya jarak antarjamaah karena kebutuhan dan alasan kesehatan.

Namun, hukum darurat tidak dijadikan kebiasaan permanen. Ketika keadaan kembali aman, maka sunnah merapatkan shaff tetap perlu dihidupkan lagi.

Kaidah fikih menyebutkan:

“Keadaan darurat diukur sesuai kadarnya.”

Artinya, keringanan berlaku selama memang ada kebutuhan nyata.

Hikmah Merapatkan Shaff

Merapatkan shaff bukan sekadar urusan posisi tubuh. Ada banyak hikmah besar di baliknya.

1. Melambangkan Persatuan

Saat orang kaya, miskin, pejabat, dan rakyat berdiri sejajar tanpa jarak, Islam sedang mengajarkan persaudaraan yang luar biasa.

Tempat Terlarang Shalat, Sujud Sahwi, Shalat berjamaah adalah ibadah yang mengandung banyak pelajaran tentang kebersamaan dan persatuan umat Islam.
Foto: Freepik

2. Melatih Kedisiplinan

Barisan yang rapi menunjukkan ketaatan kepada imam dan kepedulian terhadap keteraturan.

3. Menutup Celah Gangguan

Rasulullah ﷺ menyebut bahwa celah dalam shaff bisa menjadi pintu gangguan setan. Karena itu, shaff yang rapi membantu menghadirkan kekhusyukan.

4. Menghidupkan Sunnah Nabi ﷺ

Hal kecil yang sering diremehkan justru bisa menjadi tanda kecintaan kepada sunnah Rasulullah ﷺ.

BACA JUGA:  Hukum Shalat Berjamaah: Fardhu ataukah Sunnah?

Jangan Berlebihan dalam Memahami

Walaupun merapatkan shaff itu sunnah yang penting, seorang muslim juga tidak boleh berlebihan sampai menyakiti orang lain.

Sebagian orang terlalu memaksa membuka kaki lebar-lebar hingga mengganggu jamaah di sampingnya. Ini juga tidak tepat. Sunnah bukan berarti membuat orang lain tidak nyaman.

Yang benar adalah:

Berdiri wajar
Bahu sejajar
Tidak memberi celah besar
Tidak memaksa berlebihan

Islam selalu mengajarkan keseimbangan.

Menjaga Adab Berjamaah

Shalat berjamaah adalah ibadah yang mengandung banyak pelajaran tentang kebersamaan dan persatuan umat Islam. Karena itu, adab-adabnya perlu dijaga, termasuk dalam urusan shaff.

Shalat dengan barisan yang renggang tetap sah, tetapi menyelisihi sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Maka seorang muslim sebaiknya berusaha merapatkan dan meluruskan shaff selama tidak ada alasan syar’i yang menghalangi.

Sebab terkadang, kesempurnaan ibadah bukan hanya terletak pada bacaan dan gerakan, tetapi juga pada adab kecil yang dilakukan dengan penuh ketaatan kepada sunnah Nabi ﷺ. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *