Refleksi Sakaratul Maut: Ketika Manusia Kembali pada Apa yang Paling Dicintainya

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Islampos

DALAM khazanah literatur Islam dan sejarah, sakaratul maut sering dipandang sebagai “panggung kejujuran terakhir” bagi manusia. Pada saat logika duniawi mulai melemah dan tabir kehidupan akhirat mulai tersingkap, seseorang kerap kembali kepada apa yang paling memenuhi hati dan pikirannya selama hidup.

Dalam kajian Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa), keadaan ini dipahami sebagai manifestasi dari sesuatu yang paling dominan di dalam hati manusia. Jika hati dipenuhi oleh cinta dunia, maka dunia pula yang akan muncul di lisan dan pikirannya ketika ajal menjemput. Sebaliknya, jika hati dipenuhi dzikir dan ketundukan kepada Allah, maka itulah yang lebih mudah hadir pada detik-detik terakhir kehidupannya.

Karena itu, momen kematian sering kali memperlihatkan hakikat terdalam seseorang.

1. Abdullah bin Ubayy bin Salul: Agama sebagai Instrumen Kepentingan

Abdullah bin Ubayy bin Salul dikenal sebagai pemimpin kaum munafik di Madinah. Ia tidak secara terang-terangan menolak Islam, tetapi menjadikan agama sebagai alat untuk menjaga pengaruh politik dan kedudukan sosialnya.

Sepanjang hidupnya, ia berada di antara dua kepentingan: ingin tetap dihormati masyarakat Madinah, namun juga tidak benar-benar tunduk kepada ajaran Rasulullah ﷺ. Islam baginya lebih dekat kepada instrumen sosial daripada jalan keselamatan ruhani.

Ketika ajal mendekat, pola pikir itu tetap tampak.

BACA JUGA:  Dari Persia hingga Mongol: Apakah Bab Terakhir Sejarah Pertempuran Umat Islam dengan Berbagai Bangsa Berujung pada Konflik dengan Israel?

Ia meminta anaknya untuk memohon kepada Rasulullah ﷺ agar memberikan bajunya sebagai kafan dan mendoakan dirinya.

> “Wahai anakku, mintalah kepada Muhammad bajunya untuk menjadi kafanku, dan mintalah ia mendoakanku.”

Permintaan itu menunjukkan bahwa bahkan di ambang kematian, ia masih berpikir dalam logika simbol dan legitimasi sosial. Ia berharap atribut yang berkaitan dengan Rasulullah dapat menjadi “jaminan” tanpa terlebih dahulu membersihkan hati dari kemunafikan.

Keterikatannya bukan terutama pada harta, tetapi pada status, citra, dan pengakuan manusia.

2. Arketipe Pedagang: Obsesi pada Perhitungan Dunia

Dalam banyak kisah nasihat para ulama dan sufi, sering muncul gambaran seorang pedagang yang sepanjang hidupnya tenggelam dalam urusan laba dan rugi.

Kisah ini bukan kritik terhadap perdagangan, melainkan peringatan tentang hati yang sepenuhnya dikuasai dunia hingga kehilangan ruang untuk mengingat Allah.

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Dikisahkan seorang saudagar kaya yang terbiasa memikirkan transaksi dan keuntungan selama puluhan tahun. Ketika ia berada di ambang kematian, keluarganya menuntunnya membaca kalimat tauhid.

> Keluarga: “Wahai Ayah, ucapkanlah Laa ilaha illallah…”
Pedagang: “Jangan… jangan jual kain sutra itu di bawah sepuluh dinar… pastikan pembeli dari Damaskus melunasinya… jangan sampai kita rugi…”

Dalam keadaan tubuh melemah dan kesadaran menurun, yang muncul justru hitungan dagang yang paling lama menguasai pikirannya.

Fenomena ini menggambarkan apa yang disebut para ulama sebagai habitus mental: sesuatu yang terus-menerus dipikirkan akan menjadi bahasa otomatis jiwa. Ketika manusia kehilangan kendali penuh atas pikirannya saat sakaratul maut, yang muncul adalah kebiasaan terdalam yang telah tertanam selama hidup.

3. Arketipe Pembangun: Obsesi pada Keabadian Dunia

Ada pula kisah tentang seorang bangsawan atau hartawan yang sepanjang hidupnya terobsesi membangun istana megah dan meninggalkan warisan fisik yang besar.

Ia menghabiskan usia untuk memperindah bangunan, memperbesar kekuasaan simbolik, dan memastikan namanya dikenang manusia.

Namun ketika ajal mendekat, pikirannya masih terikat pada proyek dunia yang belum selesai.

> “Pastikan tiang di sayap kiri itu dipoles lagi. Jangan biarkan ada cacat pada marmernya. Aku ingin rumah ini menjadi monumen yang tidak dilupakan dunia.”

Ucapan itu memperlihatkan ketakutan manusia terhadap kefanaan. Ia mencoba melawan kematian dengan meninggalkan jejak fisik yang dianggap mampu membuat dirinya “tetap hidup” di mata manusia.

Padahal seluruh bangunan itu pada akhirnya tidak mampu menahan datangnya ajal.

Obsesi seperti ini berakar pada keinginan untuk memperoleh keabadian melalui dunia, sementara manusia sebenarnya sedang berjalan menuju akhirat.

4. Al-Hajjaj bin Yusuf: Ketakutan Kehilangan Kekuasaan

Al-Hajjaj bin Yusuf dikenal dalam sejarah sebagai penguasa bertangan keras yang penuh ambisi dan kekuasaan.

Dalam beberapa riwayat sejarah, menjelang kematiannya ia diliputi kegelisahan dan ketakutan. Namun kegelisahan itu masih berkaitan dengan dunia: musuh, kekuasaan, dan ancaman balas dendam.

> “Mereka mengatakan aku kejam. Jika aku kejam, biarlah… apakah mereka datang untuk membalas dendam? Jangan biarkan mereka mendekat! Aku masih penguasa di sini!”

Ucapan itu menunjukkan bahwa identitas dirinya telah menyatu dengan kekuasaan. Bahkan ketika maut berada di hadapannya, ia masih berusaha mempertahankan posisi sebagai pengendali keadaan.

Bagi manusia yang terlalu melekat pada kekuasaan, kematian terasa bukan sekadar perpindahan menuju akhirat, tetapi juga kehancuran total atas kendali yang selama ini ia banggakan.

Mengapa Hal Ini Terjadi?

Para ulama, termasuk Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa keadaan seperti ini bukanlah kebetulan. Ada beberapa hukum spiritual yang membuat manusia kembali pada sesuatu yang paling dominan dalam hidupnya.

1. Hukum Kebiasaan (Al-I’tiyad)

Apa yang terus-menerus dilakukan akan menjadi bahasa hati seseorang. Jika sepanjang hidup manusia dipenuhi urusan harta, status, atau kekuasaan, maka itulah yang paling mudah muncul ketika kesadaran melemah.

Tanda Husnul Khatimah, Bekal Kematian, Pembatal Syahadat, Sakaratul Maut
Foto: Freepik

2. Hijab Cinta Dunia (Hubbud Dunya)

Cinta dunia yang berlebihan menciptakan tirai dalam hati. Tirai itu membuat manusia sulit melihat hakikat akhirat, bahkan ketika ia sedang meninggalkan dunia.

3. Lemahnya Dzikir kepada Allah

Dzikir berfungsi sebagai jangkar jiwa. Jika hati tidak dibiasakan mengingat Allah saat sehat dan lapang, maka ketika sakaratul maut datang, jiwa akan mudah terseret oleh keterikatan dunia yang paling kuat.

BACA JUGA:  Hikmah Sejarah: Ali bin Abi Thalib Tidak Menjadi Khalifah Pertama

Refleksi: Menyiapkan Kalimat Terakhir

Kisah-kisah ini bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan sebagai cermin bagi diri sendiri.

Jika seseorang ingin meninggal dengan kalimat tauhid, maka tauhid harus dibiasakan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Hati tidak akan spontan mengingat Allah di akhir hayat jika sepanjang hidup ia jarang mengingat-Nya.

Karena itu, manusia perlu melatih dirinya memandang dunia secara proporsional:

Saat berdagang, ingatlah bahwa Allah adalah pemberi rezeki.

Saat membangun rumah, ingatlah bahwa dunia hanyalah tempat singgah.

Saat memegang jabatan, ingatlah bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan identitas diri.

Pada akhirnya, dialog terakhir manusia saat sakaratul maut sering kali hanyalah ringkasan dari seluruh dialog batin yang ia pelihara sepanjang hidupnya. Apa yang paling sering memenuhi hati hari ini, itulah yang kemungkinan besar akan kembali muncul ketika napas terakhir berhenti. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *