ADA orang yang hampir setiap hari mengeluh.
Mengeluh tentang cuaca.
Mengeluh tentang pekerjaan.
Mengeluh tentang keluarga.
Mengeluh tentang keadaan ekonomi.
Bahkan ketika hidup berjalan cukup baik, ia masih menemukan sesuatu untuk dikeluhkan.
Sekilas, mengeluh terlihat seperti hal biasa.
Semua orang pernah melakukannya.
Namun ketika mengeluh berubah menjadi kebiasaan, dampaknya tidak hanya mengenai suasana hati.
Tubuh pun ikut merasakan akibatnya.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa pikiran dan tubuh memiliki hubungan yang sangat erat.
Apa yang terjadi di dalam pikiran dapat memengaruhi sistem saraf, hormon, bahkan kekebalan tubuh.
Saat seseorang terus-menerus mengeluh, otaknya cenderung berfokus pada hal-hal negatif.
Otak menjadi seperti mesin pencari masalah.
Ia lebih mudah menemukan kekurangan daripada kelebihan.
Lebih mudah melihat ancaman daripada peluang.
Lama-kelamaan kondisi ini membuat tubuh berada dalam keadaan siaga yang berkepanjangan.
Dalam dunia medis, kondisi tersebut berkaitan dengan aktivasi respons stres.
Ketika seseorang merasa tertekan, marah, kecewa, atau frustrasi, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.

Hormon ini sebenarnya bermanfaat.
Ia membantu manusia menghadapi bahaya.
Masalah muncul ketika hormon tersebut terus diproduksi dalam jangka panjang.
Kortisol yang terlalu tinggi dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh.
Tekanan darah dapat meningkat.
Tidur menjadi tidak nyenyak.
Pencernaan terganggu.
Tubuh lebih cepat lelah.
Sistem kekebalan tubuh pun dapat menurun.
Akibatnya seseorang menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
Penelitian dalam bidang psikoneuroimunologi menunjukkan bahwa pikiran, sistem saraf, dan sistem imun saling terhubung.
Emosi negatif yang berlangsung lama dapat memengaruhi kemampuan tubuh melawan infeksi.
Karena itu tidak mengherankan jika orang yang hidup dalam tekanan berkepanjangan lebih sering mengalami gangguan kesehatan.
Mengeluh yang berlebihan juga memperkuat jalur saraf tertentu di dalam otak.
Setiap kali seseorang mengulang pola pikir negatif, hubungan antar sel saraf yang berkaitan dengan pikiran tersebut menjadi semakin kuat.
Prinsip ini dikenal sebagai neuroplastisitas.
Otak belajar dari apa yang sering dilakukan.
Jika seseorang terus membiasakan diri mengeluh, otaknya menjadi semakin terlatih untuk berpikir negatif.
Akhirnya keluhan muncul secara otomatis.
Bahkan tanpa alasan yang jelas.
Kondisi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus.
Semakin banyak mengeluh, semakin banyak stres.
Semakin banyak stres, semakin mudah menemukan alasan untuk mengeluh.
Begitu seterusnya.
Tidak sedikit orang yang mengeluh karena merasa hal itu dapat mengurangi beban pikiran.
Memang, sesekali mengungkapkan perasaan dapat membantu.
Tetapi ada perbedaan antara mengungkapkan masalah dan hidup dalam keluhan.
Mengungkapkan masalah bertujuan mencari solusi.
Sedangkan mengeluh terus-menerus hanya mengulang masalah yang sama tanpa usaha memperbaikinya.
Akibatnya energi mental terkuras.
Tubuh menjadi lelah.
Pikiran menjadi berat.
Hubungan sosial pun bisa terganggu.
Orang yang terlalu sering mengeluh sering kali dijauhi oleh lingkungan.
Bukan karena orang lain tidak peduli.
Melainkan karena energi negatif yang terus-menerus dipancarkan dapat melelahkan orang di sekitarnya.
Ketika dukungan sosial berkurang, tingkat stres menjadi semakin tinggi.
Padahal dukungan sosial merupakan salah satu faktor penting yang membantu menjaga kesehatan mental dan fisik.

Sebaliknya, orang yang membiasakan rasa syukur cenderung memiliki kondisi psikologis yang lebih baik.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa rasa syukur berhubungan dengan kualitas tidur yang lebih baik, tingkat stres yang lebih rendah, dan kesehatan yang lebih baik secara umum.
Bersyukur bukan berarti menolak kenyataan.
Bukan pula berpura-pura bahagia.
Bersyukur adalah kemampuan melihat bahwa di tengah kesulitan masih ada hal-hal baik yang patut dihargai.
Hidup memang tidak selalu mudah.
BACA JUGA: Jenis-Jenis Sihir: ‘Ain, Qulubi, Hasadi; Solusinya Lewat Ruqyah tanpa Syirik
Masalah akan selalu ada.
Namun tubuh dan pikiran kita akan merespons berbeda tergantung bagaimana kita memandang masalah tersebut.
Jika setiap hari dipenuhi keluhan, tubuh akan hidup dalam suasana ancaman.
Tetapi jika pikiran dilatih untuk mencari solusi, melihat peluang, dan mensyukuri nikmat yang masih ada, tubuh akan bekerja dalam keadaan yang lebih tenang.
Karena itu, menjaga kesehatan tidak hanya soal makanan bergizi dan olahraga.
Menjaga kualitas pikiran juga sangat penting.
Apa yang terus-menerus kita pikirkan akan memengaruhi apa yang kita rasakan.
Apa yang kita rasakan akan memengaruhi kondisi tubuh.
Dan pada akhirnya, kebiasaan mengeluh yang tidak terkendali dapat menjadi salah satu jalan yang membuat seseorang lebih mudah jatuh sakit. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


