PERNAHKAH Anda memperhatikan bahwa ada sebagian perbuatan yang dulu dianggap salah, tetapi sekarang justru dianggap biasa? Bahkan, orang yang mengingatkan sering dianggap terlalu kaku atau tidak mengikuti perkembangan zaman.
Padahal, ukuran benar dan salah dalam Islam bukanlah apa yang sedang tren atau apa yang dilakukan oleh banyak orang. Allah Ta’ala berfirman bahwa jika kita mengikuti kebanyakan manusia, mereka dapat menyesatkan kita dari jalan Allah.
Karena itu, seorang Muslim perlu terus mengoreksi diri. Jangan sampai sesuatu yang haram menjadi terasa normal hanya karena sering dilihat setiap hari.
Berikut ini 10 perbuatan haram yang pada zaman sekarang sering dianggap biasa.
1. Haraam but Normalized: Menggunakan Pay Later Berbasis Riba
Salah satu yang paling banyak digunakan saat ini adalah layanan pay later yang menerapkan bunga, denda keterlambatan, atau tambahan pembayaran atas utang.
Banyak orang menganggapnya sebagai kemudahan finansial. Padahal, jika terdapat tambahan yang disyaratkan dalam utang, maka itu termasuk riba yang diharamkan dalam Islam.
Karena sudah tersedia di berbagai aplikasi, banyak orang tidak lagi merasa bersalah saat menggunakannya. Inilah yang perlu diwaspadai.
BACA JUGA: Stop Mikir Keras, Ini Arti Sebenarnya Kalimat yang Sering Diucapkan Anak-anak Zaman Now!
2. Haraam but Normalized: Ghibah di Media Sosial
Dulu ghibah mungkin terjadi di warung kopi atau saat berkumpul bersama teman. Kini, ghibah berpindah ke kolom komentar, grup percakapan, dan media sosial.
Membahas keburukan orang lain, menyebarkan aib, atau mengolok-olok seseorang di internet sering dianggap hiburan. Padahal hakikatnya tetap ghibah, meskipun dilakukan melalui layar ponsel.
3. Haraam but Normalized: Membuka Aurat demi Konten
Tidak sedikit orang yang rela menampilkan aurat untuk mendapatkan perhatian, pengikut, atau keuntungan finansial.
Yang lebih memprihatinkan, masyarakat sering kali memberikan dukungan dan pujian sehingga pelanggaran tersebut terlihat normal.
Padahal, menjaga aurat merupakan kewajiban yang jelas dalam Islam.
4. Haraam but Normalized: Musik dan Hiburan yang Mengandung Maksiat
Bukan sekadar mendengarkan musik, tetapi menikmati hiburan yang berisi kata-kata vulgar, ajakan zina, minuman keras, atau pemberontakan terhadap nilai agama.
Karena sering diputar di mana-mana, banyak orang akhirnya tidak lagi peka terhadap isi dan dampaknya.
5. Haraam but Normalized: Pacaran Bebas
Pacaran sering dipromosikan sebagai sesuatu yang wajib sebelum menikah.
Padahal Islam mengajarkan agar laki-laki dan perempuan menjaga batasan pergaulan serta menjauhi segala hal yang dapat mendekatkan kepada zina.
Yang sering dianggap hanya “sekadar chat” atau “sekadar jalan berdua” bisa menjadi pintu menuju pelanggaran yang lebih besar.
6. Haraam but Normalized: Menunda atau Meninggalkan Shalat
Sebagian orang merasa tidak masalah menunda shalat karena pekerjaan, kesibukan, atau aktivitas lainnya.
Bahkan ada yang sengaja melewatkan shalat tanpa rasa bersalah.
Padahal shalat adalah kewajiban paling utama setelah syahadat. Ketika meninggalkannya menjadi kebiasaan, hati bisa semakin jauh dari Allah.
7. Haraam but Normalized: Curang dalam Bisnis dan Jual Beli
Mengurangi timbangan, memanipulasi ulasan produk, menyembunyikan cacat barang, atau membuat promosi yang menipu sering dianggap bagian dari strategi pemasaran.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang menipu maka bukan termasuk golongan beliau.
Keuntungan yang diperoleh dengan cara curang tidak akan membawa keberkahan.

8. Haraam but Normalized: Menonton dan Menyebarkan Konten Pornografi
Akses internet membuat konten semacam ini sangat mudah ditemukan.
Sebagian orang menganggapnya sebagai hal biasa selama tidak diketahui orang lain. Padahal pandangan mata juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Selain merusak hati, kebiasaan ini juga dapat merusak rumah tangga dan masa depan seseorang.
9. Haraam but Normalized: Memutus Silaturahmi karena Ego
Permusuhan keluarga yang berlangsung bertahun-tahun kini sering dianggap wajar.
Hanya karena masalah warisan, politik, atau persoalan kecil, hubungan persaudaraan diputus tanpa usaha untuk berdamai.
Padahal Islam sangat menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dan melarang memutuskannya.
BACA JUGA: Jihad Zaman Now, Ini Ternyata Bentuknya!
10. Haraam but Normalized: Berbohong demi Keuntungan
Berbohong dalam lamaran kerja, bisnis, media sosial, bahkan dalam kehidupan sehari-hari sering dianggap keterampilan untuk bertahan hidup.
Padahal kebohongan tetaplah kebohongan, meskipun dilakukan oleh banyak orang.
Seorang Muslim dituntut untuk menjaga kejujuran karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan.
Jangan Ukur Kebenaran dari Banyaknya Pelaku
Salah satu jebakan terbesar di zaman ini adalah menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang melakukannya.
Padahal, dosa tidak berubah menjadi halal hanya karena populer. Sebaliknya, seorang mukmin harus berani berbeda ketika mayoritas memilih jalan yang salah.
Para ulama salaf mengingatkan agar kita tidak tertipu oleh banyaknya orang yang menyimpang dan tidak merasa asing ketika berada di atas kebenaran.
Karena itu, mari terus belajar agama, memperbaiki diri, dan memohon kepada Allah agar diberi kemampuan membedakan antara yang halal dan yang haram. Sebab yang paling berbahaya bukan hanya melakukan dosa, tetapi ketika dosa itu sudah terasa biasa dan tidak lagi dianggap sebagai kesalahan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

