Mendidik Anak: Pengalaman dari Keluarga Imran

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

BAGAIMANA cara melindungi anak perempuan di tengah dunia yang penuh godaan, ancaman, dan ketidakpastian?

Sebagian orang tua mengira perlindungan terbaik adalah harta yang melimpah. Sebagian lagi percaya bahwa pendidikan terbaik, lingkungan terbaik, atau pengawasan ketat adalah jaminan keselamatan anak.

Namun Al-Qur’an menghadirkan sebuah kisah yang berbeda. Kisah seorang anak perempuan yang dijaga Allah sejak sebelum lahir, ketika dilahirkan, saat bertumbuh, hingga dewasa. Anak itu adalah Maryam binti Imran.

Surah Ali ‘Imran ayat 34-37 memperlihatkan bahwa perlindungan sejati bukan dimulai dari pagar yang tinggi, melainkan dari iman yang tinggi.

Babak Pertama: Perlindungan Dimulai dari Keluarga yang Saleh

Allah berfirman:

> “(Mereka adalah) satu keturunan, sebagiannya dari sebagian yang lain.” (Ali ‘Imran: 34)

Kisah Maryam tidak dimulai dari dirinya sendiri.

BACA JUGA:  Didiklah Anak, Seperti Allah Mendidik Nabi Adam

Ia lahir dari mata rantai keluarga para nabi. Keluarga yang di dalamnya hidup tauhid, ibadah, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah.

Ini menunjukkan bahwa perlindungan anak sesungguhnya dimulai jauh sebelum kelahirannya, yaitu dari kualitas orang tua dan lingkungan keluarga.

Anak-anak tumbuh mengikuti udara yang mereka hirup setiap hari. Bila rumah dipenuhi iman, zikir, ilmu, dan keteladanan, maka jiwa anak pun tumbuh dalam suasana yang sama.

Allah memilih keluarga Maryam sebelum memilih Maryam.

Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengajarkan bahwa pendidikan anak dimulai dengan memperbaiki orang tuanya.

https://s.shopee.co.id/qfwerv4Qa

Babak Kedua: Perlindungan Sejak Dalam Rahim

Kisah berlanjut kepada seorang ibu yang sedang mengandung.

Allah mengabadikan doanya:

> “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandunganku…” (Ali ‘Imran: 35)

Di sini ditemukan fakta yang menarik.

Istri Imran belum mengetahui siapa anak yang dikandungnya. Belum melihat wajahnya. Belum mengetahui jenis kelaminnya.

Tetapi sebelum anak itu lahir, ia sudah menyerahkannya kepada Allah.

Banyak orang tua sibuk mempersiapkan kamar bayi, pakaian bayi, dan tabungan pendidikan.

Istri Imran mempersiapkan sesuatu yang lebih dahulu: hubungan anaknya dengan Allah.

Perlindungan terbesar yang diberikan kepada Maryam ketika masih berupa janin bukanlah perlindungan fisik, melainkan perlindungan spiritual melalui doa ibunya.

Sejarah pendidikan Islam menunjukkan bahwa banyak manusia agung lahir dari rahim yang dipenuhi doa.

Babak Ketiga: Perlindungan Saat Dilahirkan

Ketika bayi itu lahir, kenyataan tidak sesuai harapan.

Istri Imran mengharapkan anak laki-laki yang dapat berkhidmat di Baitulmaqdis.

Ternyata yang lahir adalah anak perempuan.

Namun di sinilah terjadi pelajaran besar.

Allah berfirman:

“Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya.” (Ali ‘Imran: 36)

Manusia memiliki rencana.

Allah memiliki rencana yang lebih sempurna.

Perempuan yang dianggap kurang mampu oleh masyarakat saat itu justru dipilih Allah menjadi salah satu wanita termulia sepanjang sejarah.

Lalu keluar doa yang sangat terkenal:

“Aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”

Inilah benteng pertama yang dibangun ibunda Maryam.

Bukan pagar rumah.

Bukan pengawal.

Bukan kekayaan.

Tetapi doa.

Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa setiap bayi disentuh setan ketika lahir, kecuali Maryam dan putranya, Nabi Isa.

Doa seorang ibu ternyata menembus langit.

Babak Keempat: Perlindungan Melalui Guru yang Saleh

Setelah lahir, siapa yang mendidik Maryam?

Allah tidak menyerahkannya kepada sembarang orang.

Allah memilih seorang nabi.

Yaitu Nabi Zakaria.

Al-Qur’an menyebut:

“Dan Allah menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria.” (Ali ‘Imran: 37)

Di sinilah muncul prinsip pendidikan yang sering dilupakan.

Anak tidak cukup hanya dijaga.

Anak harus diasuh oleh orang yang benar.

Banyak orang tua sangat selektif memilih sekolah, tetapi kurang selektif memilih teladan.

Padahal karakter anak sering kali lebih banyak dibentuk oleh figur yang dikaguminya daripada materi pelajaran yang dipelajarinya.

Allah menjaga Maryam dengan menghadirkan guru yang saleh sebelum menghadirkan ujian besar dalam hidupnya.

Karena ujian besar hanya dapat dihadapi oleh jiwa yang telah dibina dengan baik.

Babak Kelima: Perlindungan Melalui Lingkungan yang Baik

Maryam tumbuh di mihrab Baitulmaqdis.

Sebuah tempat yang dipenuhi ibadah, zikir, dan kedekatan kepada Allah.

Lingkungan ini bukan kebetulan.

Ini bagian dari perlindungan Allah.

Anak yang tumbuh di lingkungan baik akan lebih mudah menjaga dirinya ketika dewasa.

Sebaliknya, lingkungan yang rusak sering kali menghancurkan pendidikan terbaik yang diberikan di rumah.

Karena itu Allah tidak hanya menjaga Maryam sebagai individu.

Allah juga menjaga ruang tempat ia bertumbuh.

Lingkungan adalah guru yang bekerja dua puluh empat jam sehari.

Babak Keenam: Perlindungan Melalui Kedekatan dengan Allah

Ada kejadian yang membuat Zakaria terkejut.

Setiap masuk ke mihrab, beliau menemukan makanan dan buah-buahan di sisi Maryam.

Beliau bertanya:

“Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?”

Maryam menjawab:

“Itu dari Allah.”

Jawaban ini mengungkap rahasia terbesar perlindungan Maryam.

Ia tidak bergantung kepada manusia.

Ia bergantung kepada Allah.

Allah sendiri yang mencukupi kebutuhannya.

Allah sendiri yang menjaganya.

Allah sendiri yang menguatkannya.

Inilah puncak pendidikan yang berhasil.

Bukan ketika anak selalu bergantung kepada orang tuanya.

Tetapi ketika anak belajar bergantung kepada Allah.

BACA JUGA:  Kenapa Anak Harus Belajar Matematika? Ini Penjelasannya dalam Al-Qur’an

Pelajaran Bagi Orang Tua Masa Kini

Jika kisah Maryam ditelusuri secara investigatif dari ayat ke ayat, tampak pola perlindungan yang sangat sistematis:

1. Allah menjaga Maryam melalui keluarga yang saleh.

2. Allah menjaga Maryam melalui doa ibunya sejak dalam kandungan.

3. Allah menjaga Maryam sejak hari kelahirannya.

4. Allah menjaga Maryam melalui guru dan pengasuh yang saleh.

5. Allah menjaga Maryam melalui lingkungan yang baik.

6. Allah menjaga Maryam dengan menumbuhkan hubungan langsung antara dirinya dan Allah.

Banyak orang tua hari ini fokus pada perlindungan fisik: rumah yang aman, sekolah yang baik, teknologi pengawasan, dan tabungan masa depan.

Semua itu penting.

Namun kisah Maryam menunjukkan bahwa perlindungan paling kuat adalah perlindungan iman.

Seorang anak yang dekat dengan Allah akan tetap terjaga meskipun jauh dari orang tuanya.

Sebaliknya, anak yang jauh dari Allah bisa tersesat meskipun berada dalam pengawasan paling ketat.

Karena pada akhirnya, tidak ada penjaga yang lebih kuat daripada Allah.

Sebagaimana Maryam dijaga sejak dalam rahim hingga menjadi wanita termulia, demikian pula setiap orang tua hendaknya berusaha menghubungkan anak-anaknya kepada Allah. Ketika hubungan itu terbangun, perlindungan manusia berakhir, tetapi perlindungan Allah tidak pernah berakhir. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *