DI zaman sekarang, memakai riasan saat keluar rumah sudah menjadi hal yang sangat umum. Bahkan, banyak perempuan merasa kurang percaya diri jika wajahnya tampil polos tanpa makeup. Namun, jika kita menengok kehidupan para ummahatul mukminin, istri-istri Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan teladan yang berbeda. Mereka dikenal sebagai wanita yang sangat menjaga kehormatan, rasa malu, dan kesederhanaan, termasuk dalam penampilan ketika berada di luar rumah.
Bukan berarti Islam melarang perempuan berhias. Justru berhias adalah sesuatu yang dianjurkan, terutama di hadapan suami. Akan tetapi, Islam juga memberikan batasan agar kecantikan tidak menjadi sarana menarik perhatian laki-laki yang bukan mahram.
Berhias Itu untuk Siapa?
Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak darinya…” (QS. An-Nur: 31)
Ayat ini menjadi dasar bahwa seorang muslimah diperintahkan menjaga perhiasannya. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan hanya perhiasan berupa gelang atau kalung, tetapi juga segala sesuatu yang memperindah penampilan, termasuk riasan wajah yang dapat menarik perhatian.
BACA JUGA: Fiqih Haid yang Jarang Dipelajari Muslimah
Karena itu, para ummahatul mukminin lebih memilih menjaga kecantikan mereka untuk suami dan keluarga di dalam rumah. Ketika keluar rumah karena suatu kebutuhan, mereka tampil sederhana, tidak berlebihan, dan tidak berusaha menjadi pusat perhatian.
Keluar Rumah Bukan Ajang Memamerkan Kecantikan
Allah juga berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Ayat ini memang ditujukan secara khusus kepada istri-istri Nabi ﷺ. Namun, para ulama menjelaskan bahwa kaum muslimah juga dapat mengambil pelajaran darinya, yaitu menjauhi tabarruj, yakni menampakkan kecantikan secara berlebihan di hadapan laki-laki yang bukan mahram.
Tabarruj tidak selalu berarti mengenakan pakaian terbuka. Makeup yang mencolok, parfum yang menyengat, atau aksesori yang sengaja menarik perhatian juga dapat termasuk dalam bentuk berhias yang tidak sesuai dengan adab syariat apabila ditujukan untuk menarik pandangan orang lain.
Rahasia Mereka: Takut kepada Allah Lebih Besar daripada Ingin Dipuji
Mengapa para ummahat mampu menjaga diri sedemikian rupa?
Jawabannya sederhana namun sangat dalam: mereka lebih mengutamakan keridaan Allah daripada penilaian manusia.
Mereka memahami bahwa kecantikan dunia hanyalah sementara. Wajah yang dipuji hari ini akan menua. Kulit yang halus suatu saat akan berkeriput. Tetapi amal saleh dan ketakwaan akan menjadi cahaya yang terus menyertai hingga akhirat.
Mereka tidak mengejar pujian seperti, “Cantik sekali hari ini,” atau “Makeup-nya bagus.” Yang mereka cari adalah pujian dari Allah berupa ridha-Nya.
Berhias untuk Suami Bernilai Ibadah
Islam justru mendorong seorang istri tampil menarik di hadapan suaminya. Banyak ulama salaf menjelaskan bahwa seorang istri dianjurkan berhias agar hubungan rumah tangga semakin harmonis.

Dengan demikian, kecantikan dalam Islam bukan untuk dipamerkan kepada publik, tetapi menjadi bentuk kasih sayang dalam keluarga. Seorang muslimah dapat menggunakan riasan, parfum, atau pakaian terbaiknya di hadapan suaminya, sementara ketika keluar rumah ia menjaga kesederhanaan dan menutup aurat sesuai tuntunan syariat.
Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: tidak melarang berhias, tetapi mengarahkan kepada tempat yang tepat.
BACA JUGA: Muslimah, Jangan Pilih Calon Suami yang Shalat Wajibnya Masih Bolong-Bolong
Cantik Boleh, Menarik Perhatian Bukan Tujuannya
Di era media sosial, sering kali muncul dorongan untuk selalu tampil sempurna. Banyak orang merasa harus memakai riasan tebal agar dianggap menarik atau percaya diri. Padahal, nilai seorang muslimah tidak diukur dari ketebalan makeup, melainkan dari akhlak, ketakwaan, dan rasa malunya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Malu itu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasa malu yang dimaksud bukan minder atau tidak percaya diri, melainkan menjaga diri agar tidak melakukan sesuatu yang mengundang dosa atau melampaui batas.
Penutup
Kesederhanaan para ummahatul mukminin bukanlah karena mereka tidak mampu berhias, melainkan karena mereka memahami untuk siapa kecantikan itu seharusnya dipersembahkan. Mereka menjaga wajah, pakaian, dan sikap agar tidak menjadi sebab timbulnya fitnah atau perhatian yang tidak semestinya.
Bagi muslimah masa kini, teladan tersebut tetap relevan. Berhiaslah pada tempatnya, tampil rapi dan bersih, serta jagalah niat dalam setiap penampilan. Sebab, kecantikan yang paling tinggi dalam pandangan Islam bukanlah yang paling banyak dipuji manusia, melainkan yang paling dekat kepada ridha Allah Ta’ala. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

