Apa Itu Quarter-Life Crisis: Krisis yang Banyak Dialami Anak Muda?

6 Min Read
Foto: Freepik

USIA dua puluhan.

Sering disebut sebagai masa terbaik dalam hidup.

Masa penuh mimpi.

Penuh semangat.

Penuh harapan.

Namun, bagi sebagian orang, justru di usia inilah badai datang.

Bukan badai yang terlihat.

Melainkan badai yang terjadi di dalam pikiran.

Setiap pagi berangkat bekerja.

Setiap malam pulang dengan tubuh lelah.

BACA JUGA:  Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?

Tetapi hati tetap terasa kosong.

Media sosial dipenuhi kabar bahagia.

Teman ada yang menikah.

Ada yang membeli rumah.

Ada yang melanjutkan pendidikan.

Ada yang sukses membangun usaha.

Lalu muncul satu pertanyaan yang diam-diam mengganggu.

“Mengapa hidupku belum seperti mereka?”

Pertanyaan itu terus berulang.

Semakin sering dibandingkan.

Semakin berat beban yang dirasakan.

Inilah yang dikenal sebagai quarter-life crisis.

Sebuah fase ketika seseorang, umumnya berusia antara 20 hingga 30 tahun, mengalami kebingungan, kecemasan, dan keraguan terhadap arah hidupnya.

Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Alexandra Robbins dan Abby Wilner melalui buku Quarterlife Crisis yang terbit pada tahun 2001. Mereka menggambarkan fase ini sebagai masa transisi yang sering diwarnai ketidakpastian, tekanan sosial, dan pencarian jati diri.

Quarter-life crisis bukanlah penyakit.

Namun, bila dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan, depresi, atau burnout.

Psikolog perkembangan Jeffrey Jensen Arnett menyebut masa usia 18 hingga 29 tahun sebagai emerging adulthood. Menurutnya, fase ini adalah masa eksplorasi identitas. Seseorang mulai mencari arah karier, pasangan hidup, nilai-nilai kehidupan, dan tujuan masa depan. Ketidakpastian dalam proses ini sering kali memunculkan tekanan psikologis.

Organisasi kesehatan dunia juga mengingatkan bahwa masa dewasa muda merupakan periode yang rentan terhadap munculnya berbagai masalah kesehatan mental. Perubahan peran sosial, tuntutan ekonomi, dan tekanan pekerjaan menjadi faktor yang sering memicu stres.

Gejalanya sering kali sederhana.

Sulit menikmati hidup.

Merasa tertinggal.

Takut mengambil keputusan.

Sering menyalahkan diri sendiri.

https://s.shopee.co.id/40aPuqbkTl

Mudah cemas.

Sulit tidur.

Merasa gagal, meski sebenarnya sedang bertumbuh.

Ironisnya, banyak anak muda memilih memendam semuanya.

Mereka takut dianggap lemah.

Padahal setiap orang memiliki garis waktunya sendiri.

Profesor Brené Brown, peneliti dari University of Houston, mengatakan, “Kerentanan bukanlah kelemahan. Kerentanan adalah ukuran keberanian.” Maksudnya, mengakui bahwa kita sedang kesulitan bukanlah tanda kegagalan, melainkan langkah awal untuk bangkit.

Secara ilmiah, kondisi ini juga berkaitan dengan perkembangan otak.

Bagian otak yang disebut korteks prefrontal, yaitu pusat pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan perencanaan jangka panjang, masih terus berkembang hingga sekitar usia 25 tahun. Pada saat yang sama, seseorang mulai menghadapi tuntutan besar dalam pendidikan, pekerjaan, keuangan, dan hubungan sosial.

Tidak mengherankan jika banyak anak muda merasa kewalahan.

Belum lagi pengaruh media sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial dapat meningkatkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri, kecemasan, bahkan gejala depresi.

Yang terlihat hanyalah foto-foto keberhasilan.

Tidak ada yang memperlihatkan kegagalan.

Tidak ada yang mengunggah rasa takut.

Tidak ada yang menunjukkan air mata.

Akibatnya, kita merasa hanya diri sendirilah yang sedang berjuang.

Padahal hampir semua orang sedang menghadapi perjuangan yang berbeda.

Lalu bagaimana menghadapinya?

Pertama, berhentilah membandingkan perjalanan hidup.

Setiap orang memiliki waktu yang berbeda.

Keberhasilan bukan perlombaan.

Kedua, bangun tujuan hidup yang realistis.

Tidak semua impian harus tercapai sekaligus.

Puasa, Quarter-Life Crisis
Foto: Freepik

Langkah kecil tetaplah sebuah kemajuan.

Ketiga, rawat kesehatan mental.

Tidur yang cukup.

Berolahraga.

Makan bergizi.

Luangkan waktu bersama keluarga dan sahabat.

Jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau konselor bila beban terasa terlalu berat.

Keempat, belajar menerima bahwa hidup memang penuh ketidakpastian.

Kita tidak harus mengetahui seluruh jawaban hari ini.

Yang penting adalah terus melangkah.

Sedikit demi sedikit.

BACA JUGA:  Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?

Dalam perspektif Islam, setiap manusia memiliki jalan hidup yang telah Allah tetapkan. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua proses yang terasa berat berarti buruk. Terkadang, justru dari proses itulah Allah mempersiapkan kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

Quarter-life crisis bukanlah akhir perjalanan.

Ia hanyalah persimpangan.

Tempat kita belajar mengenal diri.

Belajar menerima ketidaksempurnaan.

Belajar bahwa hidup tidak harus selalu berjalan sesuai rencana.

Sebab menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah takut.

Menjadi dewasa adalah tetap melangkah, meski hati masih dipenuhi keraguan.

Dan sering kali, dari langkah-langkah kecil yang penuh keberanian itulah, masa depan yang indah mulai dibangun. []

Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.

Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *