Benarkah Ibu-Ibu Kalau Ngumpul Pasti Ghibah?

Yudi
By Yudi
4 Min Read
Foto: Freepik

UNGKAPAN “kalau ibu-ibu ngumpul pasti ghibah” sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat ini bahkan kerap dijadikan bahan candaan di media sosial. Namun, benarkah anggapan tersebut? Apakah setiap perkumpulan ibu-ibu pasti berisi pembicaraan tentang keburukan orang lain?

Jawabannya adalah tidak benar jika digeneralisasi. Ghibah bukanlah kebiasaan yang melekat pada semua ibu-ibu. Ghibah adalah perilaku yang bisa dilakukan oleh siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki.

Apa Itu Ghibah?

Dalam Islam, ghibah adalah membicarakan saudara kita dengan sesuatu yang tidak ia sukai apabila ia mendengarnya, meskipun apa yang dibicarakan itu benar.

BACA JUGA: Apakah Ghibah Membatalkan Puasa?

Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan kepada para sahabat bahwa jika apa yang dibicarakan tidak benar, maka perbuatan itu bukan lagi ghibah, melainkan fitnah yang dosanya lebih besar.

Karena itu, masalah utamanya bukan siapa yang berbicara, melainkan isi pembicaraannya.

Laki-Laki Juga Bisa Melakukan Ghibah

Tidak sedikit orang yang menganggap ghibah identik dengan perempuan. Padahal dalam kenyataannya, laki-laki pun dapat terjerumus ke dalam ghibah.

Misalnya ketika berkumpul lalu membahas:

  • Kekurangan rekan kerja.
  • Aib tetangga.
  • Keburukan atasan.
  • Masalah rumah tangga orang lain.
  • Kesalahan tokoh masyarakat tanpa tujuan yang dibenarkan.

Jika isi pembicaraan adalah membuka aib orang lain tanpa alasan syar’i, maka itu termasuk ghibah, siapa pun pelakunya.

Mengapa Ghibah Sering Terjadi Saat Berkumpul?

Ketika orang-orang berkumpul, percakapan biasanya mengalir dari satu topik ke topik lainnya. Jika tidak dijaga, obrolan yang awalnya biasa dapat berubah menjadi pembahasan tentang kehidupan orang lain.

Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Rasa ingin tahu yang berlebihan.
  • Keinginan mencari bahan obrolan.
  • Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
  • Kurangnya kesadaran bahwa membicarakan aib orang lain adalah dosa.
  • Pengaruh lingkungan yang menganggap ghibah sebagai hal biasa.

Karena dilakukan berulang kali, sebagian orang akhirnya tidak lagi merasa bersalah.

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Bahaya Ghibah Menurut Islam

Islam memberikan peringatan yang sangat keras terhadap ghibah. Dalam Al-Qur’an, Allah mengibaratkan orang yang berghibah seperti memakan daging saudaranya yang telah meninggal, sebuah perumpamaan yang menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut.

Selain berdosa, ghibah juga membawa banyak dampak negatif, seperti:

  • Merusak persaudaraan.
  • Menimbulkan permusuhan.
  • Menghilangkan kepercayaan.
  • Menyebarkan prasangka buruk.
  • Mengotori hati pelakunya.

Bahkan, ghibah dapat menghapus pahala amal kebaikan jika tidak segera disesali dan ditaubati.

Jadikan Pertemuan sebagai Ladang Kebaikan

Berkumpul bersama teman, tetangga, atau keluarga sebenarnya merupakan nikmat yang patut disyukuri. Pertemuan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk saling menguatkan dan berbagi manfaat.

Misalnya dengan membahas:

  • Cara mendidik anak.
  • Tips menjaga kesehatan keluarga.
  • Pengalaman menjalankan usaha.
  • Kajian ilmu agama.
  • Kegiatan sosial dan sedekah.
  • Saling memberi motivasi dalam kebaikan.

Obrolan seperti ini jauh lebih bermanfaat dan dapat menjadi amal saleh.

Jika Obrolan Mulai Mengarah ke Ghibah

Apabila berada dalam sebuah perkumpulan yang mulai membicarakan keburukan orang lain, ada beberapa sikap yang dapat dilakukan:

  • Mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih bermanfaat.
  • Mengingatkan dengan cara yang lembut jika memungkinkan.
  • Tidak ikut menambahkan cerita atau komentar.
  • Meninggalkan majelis apabila ghibah terus berlangsung dan tidak dapat dihentikan.

Sikap seperti ini dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain agar tidak terjerumus dalam dosa.

BACA JUGA: Apakah yang Najis Itu Haram?

Anggapan bahwa “ibu-ibu kalau ngumpul pasti ghibah” adalah stereotip yang tidak tepat. Tidak semua ibu-ibu melakukan ghibah, sebagaimana tidak semua laki-laki menjaga lisannya. Ghibah adalah dosa yang dapat dilakukan oleh siapa saja jika tidak mampu mengendalikan ucapan.

Islam mengajarkan agar setiap muslim menjaga lisannya, karena setiap kata yang diucapkan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Maka, daripada menghabiskan waktu membicarakan kekurangan orang lain, lebih baik mengisi setiap pertemuan dengan ilmu, nasihat, dan obrolan yang membawa manfaat. Dengan begitu, kebersamaan tidak hanya mempererat hubungan antarsesama, tetapi juga menjadi jalan untuk meraih keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *