PERNAHKAH kita bangun di sepertiga malam terakhir?
Mata masih berat. Udara masih dingin. Semua orang terlelap. Lalu kita berwudhu, menggelar sajadah, dan berdiri menghadap Allah.
Air mata mungkin jatuh. Doa dipanjatkan. Harapan ditumpahkan.
Namun, pernahkah kita bertanya…
Bagaimana jika tahajjud yang kita kerjakan ternyata tidak diterima oleh Allah?
Bukankah itu sesuatu yang sangat menakutkan?
Saudaraku…
Tahajjud adalah ibadah yang sangat mulia. Allah ﷻ memuji orang-orang yang meninggalkan tempat tidurnya demi bermunajat kepada-Nya.
Allah berfirman,
**تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا**
*”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan penuh harap.”* (QS. As-Sajdah: 16)
BACA JUGA: Shalat Tahajjud di Awal Malam sebelum Tidur, Bolehkah?
Bahkan Rasulullah ﷺ menjadikan tahajjud sebagai kebiasaan yang tidak pernah beliau tinggalkan.
Namun, ada satu perkara yang sering dilupakan.
Tidak semua orang yang shalat malam otomatis mendapatkan pahala.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda,
*”Betapa banyak orang yang berdiri shalat malam, namun tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah.”* (HR. Ahmad)
Mengapa bisa demikian?
Karena Allah tidak hanya melihat gerakan tubuh kita.
Allah melihat hati.
Allah melihat niat.
Allah melihat kehidupan kita setelah selesai shalat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menjelaskan bahwa amal yang diterima adalah amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.
Maka, ada beberapa sebab mengapa tahajjud seseorang bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.
Yang pertama, **niatnya bukan karena Allah.**
Ada orang yang rajin tahajjud, tetapi ingin dipuji sebagai ahli ibadah.
Ia senang ketika orang lain berkata, “Masya Allah, dia selalu bangun malam.”
Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa riya adalah syirik kecil.
Amal yang bercampur riya sangat terancam tidak diterima.
Yang kedua, **masih terus-menerus bermaksiat tanpa mau bertaubat.**
Tahajjud seharusnya membuat seseorang semakin takut kepada Allah.
Bukan justru merasa aman dalam dosa.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata,
*”Dosa-dosa kalian telah membelenggu kalian sehingga tidak mampu bangun untuk shalat malam.”*
Betapa dalam nasihat ini.
Mungkin bukan alarm yang kurang keras.
Bukan karena tubuh terlalu lelah.
Tetapi karena hati terlalu berat oleh dosa.
Yang ketiga, **mencari rezeki dari jalan yang haram.**
Rasulullah ﷺ menceritakan tentang seseorang yang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya ke langit.
Namun makanan, minuman, pakaian, dan penghasilannya berasal dari yang haram.
Lalu Nabi ﷺ bersabda,
*”Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”* (HR. Muslim)
Jika doa saja terhalang oleh harta haram, maka kita patut khawatir terhadap ibadah-ibadah lainnya.
Yang keempat, **shalat dilakukan asal-asalan.**
Tidak ada kekhusyukan.
Tidak memahami bacaan.
Tidak menghadirkan hati.
Tubuh berdiri, tetapi pikiran berjalan ke mana-mana.
Padahal Allah berfirman,
**قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ**
*”Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”*
(QS. Al-Mu’minun: 1–2)
Yang kelima, **setelah tahajjud tetap berakhlak buruk kepada manusia.**
Masih suka menyakiti.
Masih gemar menggunjing.
Masih memutus silaturahmi.
Masih menipu dalam pekerjaan.
Padahal shalat yang benar seharusnya memperbaiki akhlak.
Allah berfirman,
**إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ**
*”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”* (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Jika tahajjud kita tidak membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka ada yang perlu kita evaluasi.

Saudaraku…
Jangan hanya sibuk menghitung berapa rakaat tahajjud yang telah kita kerjakan.
Hitunglah pula berapa dosa yang telah kita tinggalkan.
Jangan hanya bangga karena berhasil bangun pukul tiga pagi.
Tetapi tanyakan kepada diri sendiri…
Apakah hati ini semakin lembut?
Apakah lisan ini semakin terjaga?
Apakah mata ini semakin takut melihat yang haram?
BACA JUGA: Bolehkah Shalat Tahajjud Hanya 2 Rakaat Sambung Witir 1 Rakaat?
Apakah tangan ini semakin berhati-hati mengambil hak orang lain?
Karena ukuran diterimanya tahajjud bukan hanya saat kita berdiri di atas sajadah.
Melainkan juga ketika kita berjalan di tengah kehidupan.
Tahajjud yang diterima akan melahirkan keikhlasan.
Melahirkan ketakwaan.
Melahirkan kesabaran.
Melahirkan akhlak yang indah.
Dan yang paling penting…
Melahirkan seorang hamba yang semakin dekat kepada Allah setiap hari.
Semoga Allah ﷻ menerima setiap rakaat tahajjud yang kita kerjakan, mengampuni dosa-dosa kita, menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ikhlas, serta membangunkan hati kita sebelum membangunkan tubuh kita di sepertiga malam terakhir.
Aamiin. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

