Bahagia karena Al-Qur’an

3 Min Read

APA yang sebenarnya membuat seorang mukmin merasakan kebahagiaan yang tidak mudah pudar?

Apakah harta yang melimpah?

Kedudukan yang tinggi?

Ataukah pujian manusia?

Bagi Sa’id bin Jubair, jawabannya sederhana namun sangat mendalam: Al-Qur’an.

Bukan sekadar membacanya.

Bukan sekadar menghafalnya.

Melainkan hidup bersama Al-Qur’an.

BACA JUGA:  Berapa Persen Muslim Indonesia yang Tidak Bisa Membaca Al-Quran?

Al-Qur’an menjadi sahabat yang tidak pernah ia tinggalkan, baik ketika terjaga maupun saat hendak terlelap, pada siang maupun malam hari. Setiap ayat, setiap kata, bahkan setiap hurufnya menjadi sumber kebahagiaan sekaligus penuntun hidupnya.

Mengapa demikian?

Karena Sa’id memahami bahwa jalan terbaik untuk mengenal Allah adalah mengikuti teladan Rasulullah ﷺ.

Ia merenungkan firman Allah,

«”Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)»

Lalu, bagaimana akhlak Rasulullah ﷺ?

Jawabannya telah lama diabadikan oleh Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar. Ketika beliau ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjawab dengan kalimat yang singkat namun sarat makna,

«”Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”»

Bukankah jawaban ini mengubah cara kita memandang Al-Qur’an?

Jika Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur’an yang hidup, maka semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin dekat pula ia dengan akhlak Rasulullah ﷺ.

Inilah yang dipahami oleh Sa’id bin Jubair.

Karena itu, Al-Qur’an menjadi cita-cita terbesarnya, bekal hidupnya, sekaligus simpanan yang tidak akan pernah habis nilainya.

Kedekatan itu tampak dalam ibadahnya.

Diriwayatkan bahwa beliau membaca Al-Qur’an dalam salat sunah antara Magrib dan Isya hingga khatam.

https://s.shopee.co.id/2BCiKTbPUr

Pada kesempatan lain, beliau duduk di dalam Ka’bah membaca Al-Qur’an sampai selesai.

Bahkan terkadang beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat ketika berada di dalam Ka’bah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pada sebagian malam beliau mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga dua setengah kali.

Angka-angka ini bukan sekadar menunjukkan kekuatan hafalan atau kecepatan membaca.

BACA JUGA:  Kenapa Harus Terus Baca Al-Quran?

Yang jauh lebih penting adalah kedalaman hubungan beliau dengan Kalam Allah.

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan di lisan.

Ia hidup dalam pikiran.

Meresap ke dalam hati.

Lalu menjelma menjadi akhlak dan perilaku sehari-hari.

Karena itulah Sa’id pernah berkata,

«”Zikir adalah ketaatan kepada Allah. Siapa yang taat kepada Allah berarti ia mengingat-Nya. Siapa yang durhaka kepada-Nya berarti ia tidak mengingat-Nya, meskipun ia banyak bertasbih dan membaca Al-Qur’an.”»

Betapa dalam makna ucapan ini. []

Sumber:
Muhammad Ali, Kisah Para Wali, Al-Azhar Penerbit, 2018

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *