KADANG kita membayangkan ibadah sebagai sesuatu yang berat. Seolah-olah manusia harus dipaksa untuk taat, ditarik dengan rantai aturan yang kaku. Namun Islam tidak memandang manusia seperti itu.
Dalam banyak hal, agama ini justru menghadirkan kemudahan.
Salah satu bentuknya adalah rukhshah.
Rukhshah adalah keringanan hukum yang diberikan oleh Allah dalam kondisi tertentu, ketika pelaksanaan hukum asal terasa berat atau menimbulkan kesulitan. Ia bukan pengurangan nilai ibadah, melainkan bagian dari rahmat Allah kepada manusia.
Rukhshah bukanlah celah untuk bermalas-malasan. Ia adalah pengakuan bahwa manusia hidup dalam berbagai keadaan: ada yang sehat dan ada yang sakit, ada yang tinggal di rumah dan ada yang sedang menempuh perjalanan jauh, ada pula yang sedang mengandung kehidupan baru.
Karena itu, dalam puasa Ramadhan terdapat beberapa bentuk rukhshah.

Orang yang sakit diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain. Demikian pula orang yang sedang dalam perjalanan. Perempuan hamil atau menyusui yang khawatir terhadap kondisi dirinya atau bayinya juga diberi keringanan. Bahkan orang tua yang sudah sangat lemah dan tidak mampu berpuasa dapat menggantinya dengan fidyah, memberi makan kepada orang miskin.
Semua ini menunjukkan sesuatu yang penting: Allah tidak menggiring manusia dengan rantai agar taat.
Allah mengetahui batas kemampuan hamba-Nya.
Islam adalah agama yang datang dari Allah, bukan hasil rekayasa manusia. Karena itu, hanya Allah yang benar-benar mengetahui apa yang dapat menyempurnakan kehidupan manusia. Di satu tempat hukum perlu ditegakkan dengan kuat, tetapi di tempat lain justru perlu diberikan kelonggaran.
Dalam rukhshah terdapat kebijaksanaan yang sering tidak langsung terlihat.
Boleh jadi di balik keringanan itu ada kemaslahatan yang tidak mungkin terwujud jika manusia memaksakan diri menjalankan hukum asal. Karena itu Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk menerima rukhshah ketika memang diperlukan.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda bahwa Allah senang ketika keringanan-Nya diambil, sebagaimana Dia senang ketika perintah-Nya dilaksanakan.
Ada pula kisah yang menggambarkan hal ini dalam perjalanan Rasulullah ﷺ.
Suatu ketika beliau melakukan perjalanan di bulan Ramadhan bersama para sahabat. Sebagian sahabat tetap berpuasa, sementara sebagian yang lain memilih berbuka karena beratnya perjalanan. Rasulullah ﷺ sendiri memilih berbuka.
Beliau tidak mencela mereka yang tetap berpuasa, tetapi juga tidak memaksa semua orang untuk melakukan hal yang sama. Dalam situasi lain, ketika puasa dalam perjalanan justru melemahkan pasukan, beliau bahkan meminta para sahabat untuk berbuka agar memiliki kekuatan.
BACA JUGA: Firman Allah Pasti Terwujud: Membangun Peradaban Qur’an
Dari sini terlihat bahwa tujuan ibadah bukan sekadar mempertahankan bentuknya, tetapi menjaga kemaslahatan manusia.
Puasa tetap menjadi ibadah agung yang melatih kesabaran dan ketakwaan. Namun ketika kondisi manusia berubah, syariat pun memberikan ruang bagi mereka untuk bernapas.
Di situlah keindahan rukhshah.
Ia mengajarkan bahwa ketaatan bukanlah soal memaksa diri sampai hancur, melainkan menjalani perintah Allah dengan hikmah, kesadaran, dan keseimbangan.
Dan mungkin di situlah kita mulai memahami sesuatu yang lebih dalam:
Allah tidak menginginkan hamba-Nya tersiksa dalam ibadah.
Allah menginginkan mereka berjalan menuju-Nya dengan hati yang lapang. []
Sumber: Sayid Qutb, Tafsir Fizilalil Qur’an, GIP, 2000
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


