“MENGAPA sebagian ulama mampu berdiri tegak di hadapan penguasa, sementara kebanyakan manusia justru gemetar?”
Apakah keberanian itu lahir karena kekuatan fisik?
Karena banyaknya pengikut?
Atau karena kedudukan yang tinggi?
Tidak.
Keberanian sejati lahir ketika hati dipenuhi oleh keagungan Allah. Saat itulah, kebesaran manusia—betapa pun megahnya—menjadi sangat kecil di hadapan mata seorang mukmin.
Salah satu teladan paling menggetarkan tentang keberanian seperti ini adalah kisah Izzuddin bin Abdus Salam, ulama besar yang dijuluki Sulthanul Ulama.
BACA JUGA: Sultan Abdul Hamid II Ingin Jadi Tukang Sapu di Makam Nabi
Menghadap Sultan Tanpa Tunduk kepada Kebesaran Dunia
Suatu hari menjelang salat Idulfitri, sang syekh mendatangi benteng tempat sultan berada.
Di pintu masuk, para penjaga berdiri lengkap dengan persenjataannya.
Siapa pun yang hendak menghadap diwajibkan memberikan penghormatan kepada sultan. Di Mesir ketika itu, para pejabat bahkan terbiasa mencium lantai sebagai bentuk penghormatan.
Namun, apakah seorang ulama yang hanya takut kepada Allah akan melakukan hal yang sama?
Al-Izz Ibn Abdus Salam melangkah masuk tanpa menunjukkan sikap mengagungkan kekuasaan manusia.
Sesampainya di hadapan sultan, beliau langsung berkata,
«”Wahai Ayyub, apa yang akan engkau jawab apabila Allah bertanya kepadamu, ‘Bukankah Aku telah memberikan Mesir kepadamu, tetapi engkau membiarkan khamar dijual secara terang-terangan?'”»
Suasana seketika menjadi hening.
Di hadapan para pengawal bersenjata lengkap, tidak ada suara yang berani memecah keheningan itu selain suara seorang ulama yang sedang menunaikan amanah amar makruf nahi mungkar.
Alasan yang Tidak Diterima
Sultan terkejut.
Lalu ia berkata,
«”Apakah hanya itu persoalannya?”»
Sang syekh menjawab tegas,
«”Benar. Khamar dijual bebas di negeri ini.”»
Beliau kemudian menyebutkan berbagai kemungkaran lain yang terjadi di wilayah kekuasaan sang sultan.
Merasa terdesak, sultan mencoba memberikan alasan.
«”Semua ini bukan berasal dariku. Kebiasaan itu sudah ada sejak masa ayahku.”»
Sekilas, alasan itu terdengar masuk akal.
Namun benarkah tradisi dapat dijadikan pembenaran atas kemaksiatan?
Al-Izz Ibn Abdus Salam menjawab dengan ayat yang maknanya sangat dalam,
«”Apakah engkau hendak berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami melakukan demikian, lalu kami mengikuti jejak mereka?'”»
Alasan itu pun runtuh.
Tidak lama kemudian, sultan memerintahkan agar kedai-kedai yang menjual khamar ditutup.
BACA JUGA: Kisah Sultan Abdulmejid I Khalifah Utsmani: Beri Bantuan Irlandia saat Kelaparan Besar
Dari Mana Keberanian Itu Berasal?
Setelah keluar dari istana, salah seorang murid bertanya,
«”Wahai Guru, bagaimana keadaan Anda ketika berhadapan dengan sultan?”»
Beliau menjawab,
«”Aku melihatnya sedang tenggelam dalam kebesaran dan kebanggaannya. Karena itu aku ingin merendahkan kesombongan tersebut.”»
Murid itu masih penasaran.
Ia bertanya lagi,
«”Apakah Anda tidak merasa takut kepadanya?”»
Pertanyaan itu dijawab dengan kalimat yang kemudian menjadi pelajaran sepanjang zaman.
«”Wahai anakku, demi Allah, ketika keagungan Allah hadir memenuhi hatiku, sultan itu tidak lebih daripada seekor anak kucing di hadapanku.”» []
Sumber;
Abdullah bin Abdurrahman, Golden Stories, Aqwam, 2024
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

