PERNAHKAH kita menyadari bahwa setiap hari kita menerima rezeki yang nilainya mungkin jauh lebih besar daripada uang yang ada di rekening? Kita bisa membuka mata di pagi hari, menggerakkan tangan dan kaki, berjalan tanpa bantuan, bernapas dengan lega, makan dengan nyaman, dan tidur tanpa merasakan sakit yang berat. Namun anehnya, semua itu sering terasa biasa saja sampai suatu hari kesehatan kita terganggu.
Manusia memang sering lebih mudah menghargai sesuatu setelah kehilangannya. Ketika tubuh sehat, kita jarang menghitung betapa berharganya kesehatan tersebut. Kita justru sibuk memikirkan gaji, rumah, kendaraan, pekerjaan, bisnis, dan berbagai keinginan yang belum tercapai.
BACA JUGA: Benarkah Suami Istri yang Sering Berhubungan Bikin Rezeki Lancar?
Padahal, tubuh yang sehat merupakan salah satu bentuk rezeki yang sering kita nikmati tanpa sadar. Kita mungkin tidak menerima uang secara langsung ketika bangun tidur dalam keadaan sehat, tetapi kita mendapatkan kemampuan untuk bekerja, beribadah, berkumpul dengan keluarga, belajar, bepergian, dan menikmati berbagai aktivitas kehidupan.
Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang dua nikmat yang sering manusia lalaikan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Hadis ini menunjukkan bahwa kesehatan bukan sesuatu yang sepele. Justru karena kita memilikinya setiap hari, kita sering lupa bahwa suatu saat nikmat tersebut bisa berkurang atau bahkan hilang.
Coba perhatikan seseorang yang sedang sakit. Untuk orang sehat, berjalan dari kamar ke dapur mungkin merupakan aktivitas sederhana. Tetapi bagi seseorang yang sedang mengalami gangguan kesehatan, berjalan beberapa meter saja bisa menjadi perjuangan. Naik tangga yang biasanya tidak pernah dipikirkan bisa terasa berat. Bahkan tidur dengan nyaman pun terkadang menjadi sesuatu yang sangat diharapkan.
Di situlah kita menyadari bahwa kesehatan ternyata sangat mahal.
Sayangnya, manusia sering baru bersyukur ketika sakit datang. Ketika tubuh sehat, kita bisa makan sembarangan, tidur terlalu larut, jarang bergerak, terlalu banyak duduk, dan mengabaikan berbagai kebiasaan yang sebenarnya dapat merugikan tubuh. Kita baru mengatakan, “Sehat itu mahal,” setelah harus mengeluarkan banyak biaya untuk berobat.
Padahal bersyukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Rasa syukur juga seharusnya diwujudkan dengan menjaga amanah tubuh yang Allah berikan. Tubuh bukan sekadar alat untuk mengejar uang dan kesenangan, tetapi juga amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah tubuh yang sehat ini lebih banyak digunakan untuk mendekat kepada Allah atau justru untuk melakukan hal-hal yang menjauhkan kita dari-Nya?
Tangan yang sehat adalah rezeki. Dengannya kita bisa bekerja, membantu orang lain, bersedekah, menulis sesuatu yang bermanfaat, dan melakukan berbagai kebaikan. Tetapi tangan yang sama juga bisa digunakan untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita, menyakiti orang lain, atau melakukan perbuatan yang dilarang.
Kaki yang sehat juga merupakan rezeki. Dengannya kita bisa pergi ke masjid, bekerja mencari nafkah, mengunjungi orang tua, menghadiri majelis ilmu, atau membantu tetangga. Namun kaki yang sama bisa membawa kita menuju tempat yang tidak baik.
Mata yang sehat adalah rezeki yang luar biasa. Kita bisa melihat wajah orang tua, pasangan, anak, keindahan alam, membaca Al-Qur’an, dan mempelajari ilmu. Tetapi mata juga merupakan ujian karena apa yang kita lihat dapat memengaruhi hati dan perilaku.
Begitu pula telinga, lidah, tangan, kaki, jantung, paru-paru, dan seluruh anggota tubuh yang bekerja setiap hari tanpa kita perintahkan satu per satu. Banyak proses dalam tubuh berlangsung secara otomatis. Kita tidur, tetapi jantung tetap berdetak. Kita tidak memikirkan bagaimana tubuh mengatur pernapasan setiap detik, tetapi proses itu terus berlangsung.
Kita baru benar-benar menyadari betapa luar biasanya tubuh ketika salah satu fungsinya terganggu.
Karena itu, jangan hanya menganggap rezeki sebagai uang. Rezeki juga bisa berupa kesehatan, keluarga yang masih lengkap, kesempatan bertemu orang tua, kemampuan bekerja, waktu luang, makanan yang bisa dinikmati, tempat tinggal yang aman, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Bahkan kemampuan untuk melakukan shalat dengan tubuh yang sehat adalah rezeki yang luar biasa. Ada orang yang ingin berdiri ketika shalat tetapi tidak mampu. Ada yang ingin bersujud tetapi harus melakukannya dengan cara tertentu karena kondisi tubuhnya. Ada pula orang yang baru menyadari betapa nikmatnya melakukan ibadah dengan tubuh yang sehat setelah mengalami sakit.
Maka, jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.
Bersyukur terhadap kesehatan juga bukan berarti kita tidak boleh berobat ketika sakit. Justru menjaga kesehatan, memeriksakan diri ketika diperlukan, mengonsumsi makanan dengan bijak, berolahraga, tidur cukup, dan menghindari kebiasaan yang merusak tubuh merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah.
Kita tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk merasa mendapatkan rezeki. Bisa jadi setiap pagi kita sudah bangun dengan membawa kekayaan yang luar biasa, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Bayangkan jika pagi ini kita diberikan uang dalam jumlah besar, tetapi harus kehilangan kemampuan berjalan. Apakah uang tersebut masih terasa sebagai kekayaan yang sempurna? Atau jika kita memiliki rumah mewah tetapi harus menghabiskan sebagian besar waktu di rumah sakit, apakah kemewahan itu masih terasa begitu penting?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seharusnya membuat kita lebih sering melakukan muhasabah.
Manusia boleh memiliki cita-cita besar. Kita boleh ingin memiliki rumah, kendaraan, bisnis, tabungan, pendidikan yang baik, dan kehidupan yang lebih nyaman. Namun jangan sampai keinginan tersebut membuat kita lupa terhadap nikmat yang sudah ada di depan mata.
Jangan sampai kita merasa miskin hanya karena belum memiliki mobil, padahal Allah masih memberikan kaki untuk berjalan. Jangan merasa hidup tidak beruntung hanya karena belum memiliki rumah besar, padahal masih diberikan tempat tinggal yang aman. Jangan merasa tidak memiliki apa-apa hanya karena penghasilan belum sesuai harapan, padahal tubuh masih diberi kekuatan untuk bekerja.
Bukan berarti kita harus berhenti berusaha meningkatkan kehidupan. Kita tetap harus bekerja, merencanakan masa depan, dan mencari rezeki yang halal. Tetapi bersamaan dengan itu, kita juga perlu belajar melihat kekayaan yang selama ini sudah kita miliki.
Sebab terkadang manusia terlalu sibuk mengejar rezeki yang belum datang sampai lupa mensyukuri rezeki yang sudah ada.
Hari ini, cobalah berhenti sejenak dan perhatikan tubuh kita. Tarik napas dengan tenang. Gerakkan tangan dan kaki. Lihat orang-orang yang kita cintai. Jika semuanya masih bisa dilakukan dengan baik, ucapkanlah Alhamdulillah dengan penuh kesadaran.
Kesehatan mungkin tidak masuk ke rekening bank, tetapi nilainya bisa jauh melampaui angka di dalamnya. Kita mungkin tidak bisa membelinya dengan uang ketika nikmat itu sudah hilang. Karena itu, jangan tunggu tubuh sakit untuk menyadari bahwa selama ini kita telah menerima rezeki yang begitu besar.
BACA JUGA: Anatomi Rezeki dan Menyikapinya dalam Surat Al-Baqarah
Pada akhirnya, salah satu bentuk syukur terbaik bukan hanya mengucapkan terima kasih kepada Allah karena diberikan tubuh yang sehat, tetapi menggunakan kesehatan tersebut untuk melakukan hal-hal yang diridhai-Nya.
Sebab bisa jadi kesehatan yang kita anggap biasa hari ini adalah nikmat yang diam-diam sangat dirindukan oleh seseorang yang sedang terbaring sakit.
Dan bisa jadi, tanpa kita sadari, tubuh sehat yang kita miliki pagi ini adalah salah satu bentuk rezeki tak terhingga yang selama ini terlalu sering kita abaikan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

