Mending Motor Butut Tapi Beli Tunai atau Motor Bagus Hasil Kredit?

Yudi
By Yudi
10 Min Read
Foto: Freepik

ADA orang yang rela bertahun-tahun menggunakan motor tua karena tidak ingin memiliki cicilan. Di sisi lain, ada orang yang memilih membeli motor baru dengan cara kredit karena ingin mendapatkan kendaraan yang lebih nyaman, lebih bagus, dan minim masalah. Lalu muncul pertanyaan: sebenarnya mana yang lebih baik, motor butut tetapi sudah lunas atau motor bagus tetapi masih harus dicicil setiap bulan?

Jawabannya tidak selalu sama untuk setiap orang. Namun jika kondisi keuangan belum kuat, motor yang sederhana tetapi dibeli secara tunai sering kali lebih aman daripada motor bagus yang cicilannya membuat penghasilan setiap bulan terasa sesak. Sebab kendaraan pada dasarnya adalah alat transportasi, bukan ukuran keberhasilan seseorang.

BACA JUGA: Beli (Baca: Kredit) Mobil tapi Tidak Punya Garasi, Gimana Urusannya?

1. Motor tua tidak selalu berarti buruk

Banyak orang merasa minder ketika mengendarai motor lama. Melihat tetangga atau teman sudah menggunakan motor baru, muncul keinginan untuk mengganti kendaraan meskipun motor lama sebenarnya masih bisa digunakan.

Padahal, selama motor tersebut masih layak jalan, aman, surat-suratnya lengkap, dan biaya perawatannya masih masuk akal, tidak ada alasan untuk merasa rendah diri. Motor yang sudah lunas justru memiliki satu kelebihan besar: tidak ada kewajiban cicilan setiap bulan.

Uang yang biasanya digunakan untuk membayar angsuran bisa dialihkan untuk kebutuhan keluarga, menabung, investasi, membayar utang, atau mempersiapkan dana darurat. Jadi, motor tua yang lunas bukan berarti kondisi keuangan buruk, bahkan bisa menjadi tanda seseorang mampu menahan keinginan konsumtif.

2. Motor bagus memang memiliki banyak keuntungan

Bukan berarti membeli motor baru dengan kredit selalu salah. Motor baru biasanya menawarkan kenyamanan, fitur yang lebih lengkap, konsumsi bahan bakar yang lebih efisien pada model tertentu, serta risiko kerusakan karena usia yang relatif lebih kecil.

Bagi orang yang menggunakan motor untuk bekerja setiap hari, kendaraan yang lebih baru bahkan bisa memberikan manfaat ekonomi. Misalnya, motor digunakan untuk berdagang, mengantar barang, bekerja sebagai kurir, atau menunjang pekerjaan yang membutuhkan mobilitas tinggi.

Masalahnya bukan pada motor barunya, tetapi pada apakah seseorang benar-benar mampu membayar kewajibannya. OJK juga menekankan pentingnya melakukan simulasi pembiayaan dan menyesuaikan cicilan dengan kemampuan membayar.

3. Jangan membeli motor hanya karena malu

Salah satu alasan yang sering tidak disadari ketika membeli kendaraan baru adalah gengsi.

Motor teman sudah baru, kita ingin baru. Motor tetangga lebih mahal, kita merasa harus memiliki yang lebih bagus. Akhirnya seseorang mengambil kredit bukan karena benar-benar membutuhkan kendaraan tersebut, tetapi karena ingin terlihat berhasil.

Padahal orang lain hanya melihat motor yang kita gunakan. Mereka tidak ikut membayar cicilannya.

Ketika tanggal jatuh tempo tiba, dealer atau perusahaan pembiayaan tidak akan bertanya apakah motor kita terlihat keren di depan tetangga. Mereka hanya akan menunggu kewajiban pembayaran sesuai perjanjian.

4. Kredit membuat harga motor menjadi lebih besar

Ketika membeli motor secara kredit, jangan hanya melihat angka cicilan per bulan. Hitung juga total uang yang akan dikeluarkan sampai cicilan selesai.

Ada uang muka, angsuran, biaya administrasi, dan komponen pembiayaan lainnya sesuai kontrak. Karena itu, motor yang secara tunai memiliki harga tertentu dapat membuat total pengeluaran menjadi lebih besar jika dibeli melalui pembiayaan.

OJK menjelaskan bahwa kredit kendaraan termasuk kredit konsumsi, sehingga konsumen perlu memahami kemampuan membayar sebelum mengambil pembiayaan.

Jangan sampai seseorang merasa mampu karena melihat cicilan “hanya” Rp1 juta per bulan, tetapi lupa bahwa selama beberapa tahun uang tersebut harus terus tersedia.

5. Cicilan kecil belum tentu ringan

Ini kesalahan yang cukup sering terjadi.

Seseorang melihat cicilan yang tampaknya kecil, lalu langsung merasa mampu. Padahal yang harus dilihat bukan hanya besar cicilan, tetapi juga berapa penghasilan bersih, berapa kebutuhan rumah tangga, berapa utang yang sudah dimiliki, serta apakah masih ada dana darurat.

Materi edukasi OJK memberikan patokan bahwa angsuran umumnya dianggap terjangkau jika maksimal sekitar sepertiga pendapatan bersih setelah memperhitungkan kewajiban cicilan lainnya. Ini bukan berarti setiap orang harus menggunakan angka tersebut sebagai aturan mutlak, tetapi dapat menjadi salah satu batas kehati-hatian dalam membuat perencanaan.

Kalau setelah membayar cicilan seseorang tidak punya uang untuk kebutuhan pokok dan tabungan, berarti motor tersebut terlalu mahal untuk kondisi keuangannya.

https://s.shopee.co.id/8Kobhzx1lq

6. Jangan sampai motor bagus mengorbankan kebutuhan keluarga

Motor seharusnya membantu kehidupan, bukan membuat kehidupan menjadi lebih berat.

Kalau membeli motor baru menyebabkan seseorang harus mengurangi uang makan, menunda biaya pendidikan anak, tidak mampu membayar kebutuhan kesehatan, atau tidak bisa menabung sama sekali, mungkin keputusan tersebut perlu dipikirkan ulang.

Kendaraan memang penting, tetapi kebutuhan pokok keluarga jauh lebih penting. Jangan sampai demi mendapatkan motor baru, keluarga harus hidup dengan tekanan keuangan selama bertahun-tahun.

7. Kalau motor tua sering rusak, hitung juga biaya perawatannya

Di sisi lain, mempertahankan motor tua juga bukan berarti selalu menjadi pilihan terbaik.

Kalau setiap bulan motor mengalami kerusakan, biaya servis semakin mahal, konsumsi bahan bakar sangat boros, atau kondisi kendaraan sudah tidak aman, mempertahankannya hanya karena takut kredit juga bisa menjadi keputusan yang kurang tepat.

Yang perlu dilakukan adalah menghitung secara realistis.

Berapa biaya perawatan motor lama dalam satu tahun? Berapa biaya bahan bakarnya? Apakah sering mengganggu pekerjaan? Apakah masih aman digunakan?

Jika biaya mempertahankan motor tua sudah sangat besar, mungkin membeli motor pengganti bisa dipertimbangkan. Tetapi tetap tidak harus langsung memilih motor paling mahal.

8. Ada pilihan di tengah-tengah

Pilihan sebenarnya bukan hanya “motor butut lunas” atau “motor baru kredit”.

Ada pilihan ketiga: membeli motor bekas yang kondisinya masih bagus secara tunai.

Dengan cara ini, seseorang bisa mendapatkan kendaraan yang lebih layak tanpa harus menanggung cicilan bertahun-tahun. Tentu saja pembelian motor bekas harus dilakukan dengan hati-hati, termasuk memeriksa kondisi mesin, rangka, kelistrikan, surat-surat, pajak, dan riwayat kendaraan.

Jika belum mampu membeli motor yang diinginkan secara tunai, menabung terlebih dahulu juga bukan sesuatu yang memalukan. Justru kemampuan menunda keinginan merupakan salah satu bentuk kedewasaan dalam mengelola uang.

9. Kalau kredit, pastikan benar-benar mampu

Ada kondisi tertentu ketika kredit kendaraan memang masuk akal. Misalnya motor sangat dibutuhkan untuk bekerja, kendaraan lama sudah tidak layak, dan penghasilan memang cukup stabil untuk membayar cicilan sekaligus kebutuhan lainnya.

Tetapi jangan memilih tenor panjang hanya karena ingin cicilan terlihat kecil. Tenor yang lebih panjang memang dapat membuat angsuran bulanan lebih ringan, tetapi kewajiban berlangsung lebih lama dan total biaya pembiayaan perlu diperhitungkan.

Sebelum menandatangani kontrak, baca seluruh ketentuan dan hitung total kewajiban. Jangan hanya bertanya, “Cicilannya berapa?” tetapi juga tanyakan, “Total sampai lunas berapa?”

10. Motor lunas sering lebih menenangkan

Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang mengendarai motor lama tetapi tahu kendaraan tersebut benar-benar miliknya.

Tidak ada telepon karena terlambat membayar cicilan. Tidak ada rasa khawatir ketika penghasilan bulan itu menurun. Tidak ada kewajiban yang terus berjalan selama beberapa tahun.

Memang motor tersebut mungkin tidak semewah kendaraan baru. Tetapi tidur dengan kondisi keuangan yang lebih tenang juga merupakan bentuk kemewahan yang sering tidak terlihat.

Pada akhirnya, jangan mengukur keberhasilan seseorang dari umur atau harga motornya. Orang yang menggunakan motor lama tetapi memiliki tabungan, tidak terlilit utang, kebutuhan keluarga tercukupi, dan masih bisa bersedekah bisa saja jauh lebih sehat secara finansial dibandingkan orang yang mengendarai motor baru tetapi setiap bulan pusing memikirkan cicilan.

Jadi, mending motor butut tapi beli tunai atau motor bagus hasil kredit?

BACA JUGA: Mending Kredit Rumah dengan Cara Riba, atau Ngontrak?

Kalau motor lama masih layak, aman, dan mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, motor butut yang sudah lunas sering kali menjadi pilihan yang lebih bijak daripada motor bagus yang cicilannya memberatkan.

Namun jika motor memang menjadi alat utama untuk mencari nafkah dan cicilannya benar-benar mampu ditanggung tanpa mengorbankan kebutuhan pokok, kredit juga bisa dipertimbangkan.

Jangan membeli kendaraan untuk membuktikan bahwa kita sudah sukses. Belilah kendaraan karena kita membutuhkannya dan mampu membayarnya.

Sebab motor yang terlihat biasa saja tetapi lunas bisa membawa ketenangan, sedangkan motor yang terlihat mewah tetapi membuat setiap tanggal jatuh tempo terasa menakutkan justru bisa menjadi beban. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *