Setelah Menjadi Istri, Dahulukan Urusan Suami atau Orang Tua?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Islampos

SETELAH seorang perempuan menikah, muncul sebuah pertanyaan yang sering menjadi dilema: ketika kepentingan suami dan orang tua bertabrakan, siapa yang harus didahulukan? Pertanyaan ini tidak sederhana karena keduanya memiliki kedudukan dan hak yang besar. Seorang perempuan tetap memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua, tetapi setelah menikah ia juga memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri.

Dalam Islam, pernikahan tidak berarti seorang perempuan harus memutus hubungan dengan orang tuanya. Berbakti kepada ayah dan ibu tetap merupakan kewajiban selama tidak diperintahkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Namun, kehidupan setelah menikah memang membawa tanggung jawab baru yang harus diperhatikan.

BACaA JUGA: Setelah Menikah Ternyata Suami Tak Normal, Istri Harus Bagaimana?

1. Menikah bukan berarti meninggalkan orang tua

Ada kesalahpahaman bahwa setelah menjadi istri, seorang perempuan seolah-olah sudah sepenuhnya menjadi “milik suami” dan tidak lagi perlu memikirkan orang tuanya. Pandangan seperti ini tentu tidak tepat.

Seorang anak tetap harus menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya meskipun sudah menikah. Jika orang tua sakit, membutuhkan bantuan, atau berada dalam kesulitan, seorang anak tentu tidak boleh bersikap seolah-olah tidak memiliki hubungan lagi dengan mereka.

Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Perintah tersebut tidak otomatis gugur hanya karena seseorang telah menikah.

Karena itu, menjadi istri bukan alasan untuk durhaka kepada ayah dan ibu.

2. Tetapi pernikahan juga melahirkan tanggung jawab baru

Di sisi lain, seorang perempuan yang sudah menikah memiliki kewajiban sebagai istri. Rumah tangga yang baru dibangun membutuhkan perhatian, kerja sama, dan komitmen dari kedua pasangan.

Suami memiliki hak sebagai suami, sebagaimana istri juga memiliki hak yang harus dipenuhi oleh suami. Karena itu, seorang istri tidak bisa menggunakan alasan “orang tua saya meminta” untuk mengabaikan seluruh kepentingan rumah tangganya.

Misalnya, ketika suami membutuhkan bantuan dalam perkara rumah tangga yang memang menjadi tanggung jawab istrinya, sementara orang tua meminta sesuatu yang sebenarnya tidak mendesak, maka kepentingan rumah tangga perlu dipertimbangkan terlebih dahulu.

Di sinilah seorang istri membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar memilih salah satu pihak setiap kali terjadi persoalan.

3. Ketika perintah suami bertentangan dengan syariat

Ada satu prinsip yang sangat penting: tidak ada ketaatan kepada manusia dalam perkara maksiat kepada Allah.

Artinya, seorang istri tidak boleh menaati suami jika suami memerintahkan sesuatu yang jelas-jelas haram. Demikian pula, seorang anak tidak boleh menaati orang tua apabila diperintahkan melakukan kemaksiatan.

Misalnya, suami meminta istrinya memutus hubungan dengan orang tuanya tanpa alasan yang dibenarkan, atau melarangnya berbicara kepada orang tua hanya karena persoalan pribadi. Seorang istri tidak seharusnya langsung menganggap semua perintah tersebut wajib ditaati.

Ketaatan kepada suami bukan berarti suami memiliki hak untuk melakukan kezaliman atau memutus silaturahmi istrinya dengan keluarganya.

4. Jangan menjadikan orang tua sebagai alasan untuk mengabaikan suami

Sebaliknya, seorang istri juga tidak boleh terus-menerus menjadikan orang tua sebagai alasan untuk mengabaikan suaminya.

Misalnya, setiap kali suami mengajak bermusyawarah, istrinya sibuk dengan urusan orang tua. Ketika keluarga membutuhkan perhatian, dia selalu lebih mengutamakan rumah orang tuanya. Bahkan keputusan rumah tangga selalu mengikuti keinginan ayah dan ibunya tanpa mempertimbangkan suaminya.

Jika seperti ini, rumah tangga bisa mengalami masalah.

Setelah menikah, seorang perempuan memang tetap anak dari ayah dan ibunya. Tetapi dia juga telah menjadi bagian dari sebuah keluarga baru yang membutuhkan komitmen.

5. Bagaimana jika orang tua sedang sakit?

Kondisinya tentu berbeda jika orang tua sedang sakit parah dan membutuhkan bantuan.

Dalam keadaan seperti ini, seorang istri tidak seharusnya hanya berkata, “Saya harus mendahulukan suami,” lalu membiarkan orang tuanya tanpa bantuan. Persoalan harus dibicarakan dengan suami secara baik-baik.

Misalnya, jika ibu sedang sakit dan membutuhkan seseorang untuk merawatnya, seorang istri bisa menjelaskan kondisi tersebut kepada suaminya. Suami yang memahami kewajiban berbakti kepada orang tua semestinya dapat memberikan ruang bagi istrinya untuk membantu.

Begitu pula sebaliknya, jika suami sedang sakit atau menghadapi kondisi yang sangat membutuhkan pendampingan, orang tua juga seharusnya memahami bahwa anak mereka telah memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya.

Jangan membuat seseorang dipaksa memilih dengan cara yang menyakitkan.

https://s.shopee.co.id/60QNjLAHyP

6. Tidak semua permintaan orang tua harus selalu dipenuhi

Berbakti kepada orang tua bukan berarti setiap permintaan mereka harus dituruti tanpa pertimbangan.

Setelah menikah, orang tua mungkin masih memberikan banyak nasihat. Namun keputusan rumah tangga pada dasarnya perlu dibicarakan oleh suami dan istri.

Misalnya, orang tua meminta anaknya sering pulang ke rumah mereka, sementara suami membutuhkan istrinya berada di rumah karena ada keperluan tertentu. Dalam kondisi seperti ini, perlu ada komunikasi dan jalan tengah.

Orang tua tetap dihormati, tetapi rumah tangga juga tetap dijaga.

7. Jangan membuat suami dan orang tua menjadi musuh

Persoalan menjadi semakin buruk ketika seorang istri menjadikan suami dan orang tua seperti dua kubu yang harus dipilih.

“Kalau saya membela suami, berarti saya durhaka kepada orang tua.”

Atau sebaliknya, “Kalau saya membantu orang tua, berarti saya istri yang tidak taat.”

Tidak selalu seperti itu.

Banyak persoalan sebenarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi. Suami perlu memahami bahwa istrinya memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua. Orang tua juga perlu memahami bahwa anak perempuan mereka sekarang memiliki keluarga dan tanggung jawab baru.

Yang diperlukan bukan pertarungan antara suami dan orang tua, melainkan kebijaksanaan dari semua pihak.

8. Bagaimana jika orang tua meminta sesuatu yang merugikan rumah tangga?

Misalnya, orang tua meminta sejumlah besar uang kepada anaknya, padahal kondisi keuangan rumah tangga sedang sulit. Apakah seorang istri harus langsung memberikan uang tersebut tanpa berbicara kepada suami?

Dalam perkara yang menyangkut harta rumah tangga, sebaiknya ada komunikasi dengan pasangan. Jangan sampai niat membantu orang tua justru membuat kebutuhan pokok keluarga sendiri terganggu.

Berbakti kepada orang tua adalah kebaikan, tetapi membantu orang tua tidak harus dilakukan dengan cara menzalimi pasangan atau anak sendiri.

Bantulah sesuai kemampuan dan dengan cara yang bijaksana.

9. Suami juga harus memahami posisi istrinya

Pembahasan ini jangan hanya diarahkan kepada perempuan.

Seorang suami juga harus memahami bahwa istrinya tidak lahir dari ruang kosong. Dia memiliki ayah, ibu, saudara, dan keluarga yang sudah membesarkannya sebelum suami hadir dalam kehidupannya.

Suami yang baik tidak seharusnya merasa terancam hanya karena istrinya menyayangi orang tuanya.

Bahkan jika memungkinkan, suami seharusnya membantu istrinya untuk tetap berbakti kepada orang tua selama tidak mengganggu kewajiban rumah tangga dan tidak melanggar syariat.

10. Jadi, siapa yang harus didahulukan?

Jawabannya tidak bisa dibuat sesederhana, “selalu suami” atau “selalu orang tua.”

Seorang istri tetap wajib berbakti kepada orang tua, sementara dalam kehidupan rumah tangga dia juga memiliki kewajiban kepada suami. Ketika terjadi benturan, lihat jenis kewajibannya, tingkat urgensinya, apakah ada unsur maksiat, dan bagaimana hak masing-masing pihak.

Jika suami memiliki hak yang memang wajib ditunaikan dan orang tua meminta sesuatu yang tidak mendesak, maka kewajiban kepada suami perlu didahulukan. Namun jika orang tua berada dalam keadaan darurat atau membutuhkan pertolongan yang tidak dapat ditunda, persoalannya perlu dilihat secara lebih rinci dan dimusyawarahkan.

Yang paling penting, jangan menggunakan agama untuk memenangkan ego.

BACA JUGA: Benarkah Suami Istri yang Sering Berhubungan Bikin Rezeki Lancar?

Suami jangan memaksa istri memutus hubungan dengan orang tuanya. Orang tua juga jangan mengendalikan rumah tangga anaknya setelah menikah. Dan seorang istri jangan menjadikan kecintaan kepada orang tua sebagai alasan untuk mengabaikan suami.

Setelah menikah, seorang perempuan tidak kehilangan statusnya sebagai anak. Tetapi dia juga telah memiliki amanah baru sebagai istri.

Maka yang terbaik bukan mencari alasan untuk memilih siapa yang harus dikalahkan, melainkan berusaha memenuhi hak keduanya dengan adil sesuai kemampuan dan tuntunan syariat.

Sebab rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga yang membuat seorang istri harus memilih antara suami dan orang tuanya, tetapi rumah tangga yang membuat hubungan dengan keduanya tetap terjaga dengan baik. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *