BELAKANGAN ini muncul obrolan ringan namun cukup sering terjadi: “Ikhwan yang gajinya di bawah empat juta biasanya takut menikah.” Ucapan ini muncul di antara anak muda, grup kajian, dan bahkan menjadi bahan candaan di media sosial. Namun benarkah demikian? Ataukah sebenarnya ada kesalahpahaman tentang konsep rezeki dan tanggung jawab dalam pernikahan?
Islam tidak memandang besar-kecilnya penghasilan sebagai faktor utama keberanian seorang laki-laki untuk menikah. Justru yang dinilai adalah ketakwaan, kesungguhan menjaga diri dari maksiat, dan keseriusan memikul amanah. Karena itu, mari kita melihat persoalan ini melalui kacamata syariat dan bagaimana para ulama salaf memandang masalah rezeki dan pernikahan.
BACA JUGA: Hukum Menikah dengan Saudara Tiri
Pandangan Ulama Salaf tentang Rezeki dan Keberanian Menikah
1. Rezeki Ditanggung oleh Allah, Bukan oleh Angka Gaji
Ulama salaf menekankan bahwa menikah adalah ibadah yang justru membuka pintu rezeki.
Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Carilah kecukupan melalui pernikahan.”
Beliau menegaskan bahwa menikah tidak menghalangi rezeki, tapi justru menjadi sebab dibukakannya pintu rezeki.
Begitu juga firman Allah dalam QS. An-Nur: 32 yang dipahami oleh para salaf:
“Jika mereka fakir, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.”
Al-Fudhayl bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan ayat tersebut:
“Allah menjamin kecukupan bagi orang yang menikah demi menjaga kehormatannya.”
Artinya, yang penting adalah niat menjaga diri dan tanggung jawab—bukan besarnya gaji.
2. Yang Membuat Takut Bukan Gaji, Tapi Kurangnya Tawakkal
Banyak ulama salaf menekankan bahwa rasa takut menikah karena kekhawatiran tentang rezeki berasal dari lemahnya keyakinan kepada Allah.
Imam Ahmad rahimahullah berkata:
“Barang siapa meninggalkan pernikahan karena takut miskin, ia telah berburuk sangka kepada Allah.”
Kekhawatiran ikhwan yang berpenghasilan kecil sebenarnya bukan pada angka pendapatannya, tapi pada rasa tidak siap memikul amanah. Bila hatinya dipenuhi tawakkal, maka angka penghasilan menjadi urusan sekunder.
3. Justru Menikah Membuat Laki-laki Lebih Bertanggung Jawab
Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan ayat pernikahan dalam QS. An-Nur, mengatakan:
“Ketika seseorang menikah, ia akan menjadi lebih matang akalnya, lebih kuat keinginannya untuk bekerja, dan lebih sempurna ibadahnya.”
Artinya, menikahlah terlebih dahulu, maka tanggung jawab akan tumbuh, dan Allah akan membuka jalan-jalan rezeki yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Banyak laki-laki justru mulai naik rezekinya setelah menikah, bukan sebelum menikah. Para ulama salaf sudah lama menegaskan bahwa rezeki mengikuti amanah, bukan sebaliknya.
4. Gaji Kecil Bukan Alasan; Manajemen Hidup yang Jadi Kunci
Hasan al-Bashri rahimahullah menyebutkan:
“Tidaklah sempit kehidupan seseorang karena sedikit hartanya, tetapi karena buruknya pengelolaan.”
Artinya, ikhwan yang gajinya di bawah empat juta bukan berarti tidak mampu menikah. Yang penting adalah kesanggupan mengatur nafkah secara sederhana, jujur, dan halal.
Banyak salaf hidup dalam kondisi pas-pasan, namun rumah tangganya penuh keberkahan karena keberanian mereka menjemput janji Allah.
Lalu, Apakah Ikhwan Bergaji di Bawah 4 Juta Memang Takut Menikah?
Jawabannya: tidak selalu.
Tidak sedikit ikhwan dengan gaji kecil yang menikah dengan penuh keberanian dan tawakkal, lalu Allah bukakan pintu rezeki mereka.
Yang membuat sebagian ikhwan takut menikah biasanya bukan karena gajinya, tapi:
- takut tidak bisa memberi nafkah layak,
- takut gagal menjadi imam,
- takut mengecewakan calon istri,
- takut tidak mampu menghadapi tekanan sosial,
- atau terlalu membandingkan diri dengan standar hidup orang lain.
Masalahnya bukan 4 juta atau bukan. Masalahnya ada pada persepsi dan hati.
BACA JUGA: Menikah di Atas Usia 25: Pilihan atau Keterlambatan?
Kesimpulan
Ulama salaf memberikan gambaran jelas bahwa rezeki adalah jaminan Allah bagi hamba-Nya yang berniat menjaga kehormatan dan membangun keluarga. Ketakutan menikah karena alasan penghasilan kecil sering kali bukan berasal dari realitas, tetapi dari kurangnya tawakkal dan persepsi yang keliru terhadap rezeki.
Islam tidak mensyaratkan standar pendapatan tertentu untuk menikah. Yang syaratkan adalah kemampuan memberi nafkah secara layak sesuai kondisi, bukan sesuai standar media sosial.
Jadi, bukan benar atau tidaknya ikhwan dengan gaji di bawah empat juta takut menikah. Yang lebih tepat adalah:
Siapakah di antara mereka yang memiliki keberanian, tawakkal, dan kesungguhan untuk menunaikan sunnah terbesar ini?
Jika hati sudah siap, Allah akan memampukan.
Jika niat sudah lurus, Allah akan mencukupkan.
Karena rezeki terbesar dalam pernikahan bukan uangnya, tetapi keberkahannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
