Menu

Bolehkah Mempersulit Diri dengan Berutang Demi Gelar Pesta Pernikahan yang Mewah?

Islam tidak menetapkan bahwa sah atau tidaknya suatu pernikahan ditentukan oleh mahalnya dekorasi, banyaknya tamu, atau mewahnya hidangan.

Yudi · 7 menit baca
Gaji 3 Juta, utang, pernikahan, banyak uang
Foto: Freepik

PERNIKAHAN merupakan momen istimewa yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup. Tidak mengherankan jika banyak pasangan ingin mengadakan pesta pernikahan yang meriah, mengundang banyak tamu, menyajikan hidangan terbaik, dan mengabadikan momen tersebut dengan dekorasi yang indah. Namun, persoalan muncul ketika keinginan menggelar pesta mewah membuat calon pengantin harus berutang dalam jumlah besar, padahal kemampuan keuangan mereka sebenarnya terbatas.

Sebagian orang bahkan rela meminjam uang kepada keluarga, teman, atau lembaga keuangan demi menyelenggarakan pesta yang terlihat megah di mata para tamu. Mereka khawatir dianggap tidak mampu jika hanya mengadakan pernikahan sederhana, terlebih ketika melihat teman atau kerabat menggelar pesta yang mewah. Lantas, bagaimana pandangan Islam terhadap orang yang sengaja berutang demi pesta pernikahan? Apakah tindakan tersebut diperbolehkan, atau justru termasuk perilaku yang mempersulit kehidupan sendiri?

BACA JUGA: Apa yang Akan Menimpa Orang yang Suka Ngutang dengan Niat Tak Membayarnya?

1. Islam Tidak Melarang Pesta Pernikahan yang Meriah

Dalam Islam, mengadakan walimah atau jamuan pernikahan merupakan amalan yang dianjurkan. Rasulullah SAW pernah menganjurkan pelaksanaan walimah kepada Abdurrahman bin Auf, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih. Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan boleh dirayakan dan pasangan pengantin dapat mengundang keluarga, tetangga, serta kerabat untuk berbagi kebahagiaan.

Namun, anjuran mengadakan walimah tidak berarti seseorang harus menggelar pesta besar dengan biaya yang melampaui kemampuannya. Islam tidak menetapkan bahwa sah atau tidaknya suatu pernikahan ditentukan oleh mahalnya dekorasi, banyaknya tamu, atau mewahnya hidangan. Pernikahan yang sederhana tetap dapat menjadi pernikahan yang baik selama memenuhi ketentuan syariat.

Karena itu, pasangan pengantin sebaiknya memahami perbedaan antara merayakan kebahagiaan dan memaksakan kemewahan. Mengundang banyak orang tentu boleh jika memang memiliki kemampuan finansial yang memadai. Akan tetapi, apabila pesta besar hanya dapat terlaksana dengan menumpuk utang yang sulit dibayar, pasangan tersebut perlu mempertimbangkan kembali prioritasnya.

2. Bagaimana Hukum Berutang Demi Pesta Pernikahan?

Pada dasarnya, berutang tidak otomatis haram dalam Islam. Seseorang boleh meminjam uang untuk kebutuhan yang dibenarkan selama memenuhi ketentuan syariat, tidak mengandung riba, dan memiliki kesungguhan untuk melunasinya. Oleh karena itu, seseorang yang berutang untuk menyelenggarakan walimah tidak bisa langsung dihukumi berdosa hanya karena memilih menggunakan pinjaman.

Namun, persoalannya menjadi berbeda apabila utang tersebut diambil semata-mata demi memenuhi gengsi, sementara peminjam sudah mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk membayarnya. Jika tindakan tersebut berpotensi menelantarkan kebutuhan pokok, mengganggu nafkah keluarga setelah menikah, atau merugikan orang yang meminjamkan uang, keputusan itu patut dihindari.

Rasulullah SAW memberikan perhatian serius terhadap persoalan utang. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Bukhari, disebutkan bahwa Nabi SAW berlindung kepada Allah dari lilitan utang. Hal ini mengingatkan umat Islam bahwa utang bukan persoalan sepele, sebab kewajiban tersebut dapat membebani kehidupan seseorang apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, sebelum mengambil pinjaman untuk pesta pernikahan, calon pengantin perlu menghitung kemampuan pembayaran secara realistis. Jangan sampai pesta yang hanya berlangsung beberapa jam justru menjadi beban keuangan selama bertahun-tahun. Kebahagiaan pada hari pernikahan seharusnya tidak dibayar dengan kesulitan berkepanjangan setelah acara selesai.

3. Jangan Sampai Utang Membuat Kehidupan Rumah Tangga Bermasalah

Banyak pasangan terlalu fokus mempersiapkan hari pernikahan, tetapi kurang memperhatikan kehidupan setelah pesta berakhir. Mereka sibuk memikirkan gedung, katering, pakaian pengantin, dekorasi, dokumentasi, dan jumlah tamu yang akan diundang. Padahal, setelah menikah, ada berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari tempat tinggal, makanan, transportasi, kesehatan, hingga persiapan memiliki anak jika Allah menghendaki.

Bayangkan sepasang pengantin menghabiskan puluhan juta rupiah untuk pesta dengan menggunakan pinjaman. Setelah acara selesai, mereka harus membayar cicilan setiap bulan, sementara penghasilan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keadaan ini dapat memicu pertengkaran karena salah satu pihak merasa terbebani, terlebih jika sebelumnya mereka tidak membicarakan persoalan keuangan secara terbuka.

Masalah keuangan juga dapat mengurangi kesempatan pasangan untuk membangun tabungan darurat, mengembangkan usaha, atau membeli kebutuhan rumah tangga yang lebih penting. Bahkan, jika pinjaman menggunakan skema berbunga, beban yang harus dibayar dapat semakin besar sesuai ketentuan pinjaman tersebut. Oleh sebab itu, pasangan sebaiknya tidak hanya bertanya apakah pesta mewah bisa terlaksana, tetapi juga apakah mereka siap menghadapi konsekuensi keuangannya.

3- Banner Kopi Kapal Api Super

4. Apakah Pesta Mewah Termasuk Perbuatan Tabzir?

Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 26–27, Allah SWT melarang perilaku boros dan menyebut orang-orang yang melakukan pemborosan sebagai saudara setan. Ayat ini menjadi pengingat bahwa harta perlu digunakan secara bijaksana dan tidak dihamburkan untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat sebanding.

Namun, tidak setiap pesta pernikahan yang mahal otomatis termasuk tabzir. Penilaiannya perlu memperhatikan kemampuan ekonomi seseorang, tujuan pengeluaran, manfaat yang diperoleh, serta apakah ada unsur pemborosan atau pelanggaran syariat. Seseorang yang memiliki kekayaan memadai dapat mengadakan walimah yang besar tanpa harus menelantarkan kewajibannya, sedangkan orang yang berpenghasilan terbatas perlu lebih berhati-hati dalam menentukan anggaran.

Pemborosan dapat terjadi ketika seseorang mengeluarkan uang melampaui batas kewajaran demi pamer, bersaing dengan orang lain, atau mempertahankan citra sosial. Apalagi jika pengeluaran tersebut membuatnya tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok atau membayar kewajiban yang sudah jatuh tempo. Dalam keadaan seperti itu, menyederhanakan pesta bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk kebijaksanaan dalam mengelola rezeki.

5. Bagaimana Jika Keluarga Menuntut Pesta Pernikahan yang Mewah?

Persoalan ini menjadi lebih rumit ketika tuntutan pesta mewah bukan berasal dari calon pengantin, melainkan dari orang tua atau keluarga besar. Ada keluarga yang merasa malu jika anaknya menikah tanpa pesta besar karena khawatir menjadi bahan pembicaraan tetangga. Ada pula yang ingin menyelenggarakan acara megah demi mempertahankan tradisi keluarga, meskipun kondisi keuangan sebenarnya tidak mendukung.

Dalam keadaan seperti ini, calon pengantin sebaiknya membicarakan persoalan tersebut dengan sopan dan terbuka. Jelaskan berapa anggaran yang benar-benar tersedia, berapa biaya yang dibutuhkan untuk memulai rumah tangga, dan apa risiko yang mungkin timbul jika pesta dibiayai melalui utang. Pembicaraan sebaiknya tidak dilakukan dengan menyalahkan orang tua, tetapi dengan menunjukkan bahwa keputusan tersebut menyangkut kehidupan pasangan setelah menikah.

Jika keluarga tetap menginginkan pesta besar, mereka dapat mempertimbangkan untuk menanggung biaya tambahan sesuai kemampuan mereka sendiri tanpa memaksa calon pengantin mengambil pinjaman yang tidak sanggup dibayar. Alternatif lainnya adalah mengurangi jumlah tamu, memilih tempat yang lebih terjangkau, atau menyelenggarakan acara sederhana yang tetap menghormati keluarga dan tradisi setempat.

Yang terpenting, calon pengantin perlu memiliki kesepakatan sebelum menikah mengenai batas pengeluaran dan tanggung jawab keuangan. Jangan sampai salah satu pihak terpaksa berutang demi memenuhi keinginan keluarga, kemudian menyimpan kekecewaan yang baru muncul setelah kehidupan rumah tangga berjalan.

6. Lebih Baik Mengutamakan Kehidupan Setelah Menikah

Pesta pernikahan memang menjadi kenangan yang berharga, tetapi kehidupan rumah tangga tidak berhenti ketika para tamu pulang. Justru setelah acara itulah pasangan mulai menghadapi tanggung jawab yang sesungguhnya, seperti membangun komunikasi, mengelola penghasilan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan menyelesaikan persoalan bersama.

Karena itu, uang yang tersedia sebaiknya dibagi secara proporsional antara kebutuhan pernikahan dan persiapan kehidupan setelahnya. Pasangan dapat menyisihkan dana untuk tempat tinggal, perlengkapan dasar, biaya transportasi, tabungan darurat, dan kebutuhan penting lainnya. Dengan perencanaan seperti ini, mereka tetap bisa merayakan pernikahan tanpa mengorbankan kestabilan keuangan pada masa awal rumah tangga.

Jika dana terbatas, pesta sederhana bukan sesuatu yang perlu ditutupi dengan rasa malu. Mengundang keluarga dan kerabat terdekat, menyediakan hidangan secukupnya, serta menyelenggarakan akad dan walimah sesuai kemampuan sudah dapat menjadi cara yang baik untuk berbagi kebahagiaan. Tidak perlu memaksakan kemewahan hanya karena ingin terlihat setara dengan orang lain.

BACA JUGA: Boleh Gak Sih Berangkat Haji atau Umroh Hasil Berhutang?

Berutang demi menggelar pesta pernikahan yang mewah tidak otomatis haram dalam setiap keadaan, sebab hukum utang bergantung pada tujuan, cara, dan kemampuan seseorang untuk melunasinya. Namun, apabila utang tersebut diambil demi gengsi, berisiko menelantarkan kebutuhan pokok, mengandung riba, atau sejak awal tidak realistis untuk dibayar, tindakan tersebut sebaiknya dihindari. Islam menganjurkan walimah, tetapi tidak mewajibkan pasangan menyelenggarakan pesta yang mahal.

Calon pengantin perlu memahami bahwa keberhasilan pernikahan tidak diukur dari megahnya gedung, mahalnya pakaian, atau banyaknya tamu yang hadir. Kehidupan rumah tangga yang baik justru membutuhkan tanggung jawab, komunikasi, pengelolaan keuangan yang sehat, dan kesediaan menghadapi kesulitan bersama. Jangan sampai demi memperoleh pujian selama satu hari, pasangan harus menanggung tekanan utang selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, lebih baik mengadakan pesta sesuai kemampuan daripada memaksakan kemewahan yang membuat kehidupan setelah menikah menjadi sulit. Kebahagiaan tidak harus dibuktikan melalui pengeluaran besar, sebab pernikahan merupakan awal perjalanan panjang yang membutuhkan persiapan jauh lebih penting daripada sekadar kemeriahan acara. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Yudi

Penulis di Islampos Media. Artikel lainnya

Ayo donasi untuk Islampos Media
Tulis komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel terkait