PUNYA teman tentu menyenangkan.
Ada tempat untuk bercerita.
Ada orang yang bisa diajak berdiskusi.
Ada juga yang membantu ketika kita sedang kesulitan.
Namun, bagaimana jika hubungan pertemanan justru membuat kita merasa dimanfaatkan?
Setiap kali membutuhkan sesuatu, dia datang.
Ketika kita membutuhkan bantuan, dia menghilang.
Lama-lama hubungan seperti ini tentu melelahkan.
Lalu, apakah kita harus tetap sabar?
Atau sebenarnya boleh menjauh?
BACA JUGA: Teman Pinjam Uang Berkali-kali tapi Belum Mengembalikan, Harus Bagaimana?
Sabar Bukan Berarti Membiarkan Diri Disakiti
Sabar memang merupakan akhlak yang sangat mulia.
Namun, sabar tidak berarti membiarkan orang lain terus-menerus berbuat zalim kepada kita.
Seseorang boleh mengatakan tidak.
Seseorang juga boleh membuat batasan.
Misalnya, teman sering meminjam uang tetapi tidak pernah mengembalikan.
Kita tidak wajib terus memberikan pinjaman hanya karena takut dianggap tidak baik.
Menolak dengan cara yang sopan bukan berarti kita jahat.
Bedakan Menjauh dan Memutus Silaturahmi
Ini bagian yang penting.
Menjauh untuk menjaga diri berbeda dengan memutus hubungan karena kebencian.
Jika seseorang terus membawa pengaruh buruk, membuat kita tertekan, atau berkali-kali memanfaatkan kebaikan kita, menjaga jarak dapat menjadi pilihan.
Kita tidak harus selalu berkumpul.
Tidak harus selalu membalas semua ajakannya.
Tidak harus selalu memenuhi permintaannya.
Namun, jangan sampai rasa kecewa berubah menjadi kebencian.
Nabi Mengajarkan Tidak Saling Membenci
Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kaum Muslimin tidak saling membenci, saling mendiamkan, atau memutus hubungan.
Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi ﷺ melarang seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.
Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan.
Tetapi menjaga hubungan bukan berarti kita harus membiarkan diri terus dimanfaatkan.
Kita bisa menjaga adab sekaligus menjaga batas.
Berani Mengatakan Tidak
Terkadang masalahnya bukan karena orang lain terlalu memanfaatkan kita.
Tetapi karena kita terlalu sulit mengatakan tidak.
Kita takut mengecewakan.
Takut dianggap pelit.
Takut kehilangan teman.
Akhirnya kita terus mengiyakan.
Padahal kemampuan kita terbatas.
Kita memiliki waktu yang terbatas.
Tenaga juga terbatas.
Bahkan uang pun terbatas.
Karena itu, belajar mengatakan “tidak” dengan sopan adalah hal yang penting.
Pilih Pertemanan yang Sehat
Pertemanan yang sehat tidak selalu tentang saling membantu secara materi.
Pertemanan yang baik juga memberikan ketenangan.
Ada rasa saling menghargai.
Tidak ada hubungan yang hanya menguntungkan satu pihak.
Jika kita terus merasa digunakan, mungkin sudah waktunya mengevaluasi hubungan tersebut.
Tidak harus bermusuhan.
Cukup kurangi intensitasnya.
Tetap sapa jika bertemu.
Tetap doakan kebaikannya.
Tetapi tidak perlu memberikan akses yang sama seperti sebelumnya.
BACA JUGA: Bagaimana Cara Menegur Teman yang Bau Badan tapi Tidak Sadar?
Kesimpulan
Jadi, apakah boleh menjauh dari teman yang sering memanfaatkan kita?
Boleh menjaga jarak jika tujuannya melindungi diri dari hubungan yang tidak sehat.
Namun, lakukan dengan cara yang baik.
Jangan menghina.
Jangan membuka aibnya.
Jangan menyebarkan keburukannya.
Dan jangan menjadikan rasa kecewa sebagai alasan untuk membenci.
Sabar tetap penting.
Tetapi sabar juga harus disertai kebijaksanaan.
Menjaga hati orang lain itu baik.
Menjaga diri sendiri juga penting. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE






Tulis komentar