Menu

Orang Shalih Miskin di Kampung, Didengar atau Tidak Ucapannya?

Namun, ketika seorang ustaz sederhana atau orang shalih yang hidup miskin memberikan nasihat, sebagian orang justru mengabaikannya.

Yudi · 6 menit baca
berdo'a, Allah, keyakinan,orang shalih
Foto: Freepik
Daftar isi
  1. 1. Masyarakat Terkadang Lebih Menghargai Kekayaan daripada Keshalihan
  2. 2. Orang Miskin Bukan Berarti Tidak Memiliki Ilmu
  3. 3. Kisah Orang Miskin yang Disepelekan dalam Al-Qur’an
  4. 4. Apakah Nasihat Orang Shalih Harus Selalu Didengarkan?
  5. 5. Jangan Sampai Menghormati Orang Kaya, tetapi Merendahkan Orang Shalih yang Miskin
  6. 6. Orang Shalih Juga Harus Menyampaikan Nasihat dengan Bijaksana
  7. 7. Jangan Menunggu Orang Shalih Menjadi Kaya agar Mau Mendengarkan Nasihatnya

DI tengah kehidupan masyarakat, terkadang ada seseorang yang dikenal sangat shalih, rajin beribadah, menjaga lisannya, dan memiliki akhlak yang baik. Namun, kehidupannya sederhana, rumahnya biasa saja, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun terkadang masih kesulitan. Anehnya, ketika orang tersebut memberikan nasihat kepada masyarakat, tidak semua orang mau mendengarkannya.

Sebaliknya, ada orang yang memiliki banyak harta, kendaraan bagus, rumah mewah, dan kedudukan tinggi. Ketika berbicara, banyak orang memperhatikan ucapannya, meskipun belum tentu apa yang disampaikannya benar. Fenomena seperti ini sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat, termasuk di lingkungan kampung.

Lantas, mengapa orang shalih yang miskin terkadang kurang didengar ucapannya? Apakah masyarakat memang lebih menghargai kekayaan daripada ilmu dan ketakwaan? Bagaimana sebenarnya Islam memandang kedudukan seseorang yang hidup sederhana tetapi memiliki keshalihan?

BACA JUGA: Pelihara Kucing Tapi Tak Pernah Sedekah kepada Fakir Miskin, Bagaimana?

1. Masyarakat Terkadang Lebih Menghargai Kekayaan daripada Keshalihan

Tidak bisa dimungkiri bahwa sebagian masyarakat masih menilai seseorang berdasarkan penampilan dan kekayaannya. Orang yang memiliki rumah besar, mobil bagus, usaha sukses, atau jabatan tinggi sering dianggap lebih pintar dan lebih pantas dijadikan tempat meminta pendapat.

Sementara itu, orang yang hidup sederhana terkadang kurang mendapatkan perhatian, meskipun memiliki ilmu agama dan pengalaman hidup yang baik. Nasihatnya dianggap biasa karena tidak disampaikan oleh orang kaya atau tokoh yang memiliki kedudukan sosial tinggi.

Padahal, kekayaan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 13, Allah menjelaskan bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa. Artinya, kemuliaan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, atau bagusnya penampilan, melainkan oleh ketakwaan.

2. Orang Miskin Bukan Berarti Tidak Memiliki Ilmu

Ada anggapan bahwa orang yang hidup miskin biasanya kurang berpendidikan, kurang pengalaman, atau tidak memiliki kemampuan untuk memberikan nasihat. Padahal, anggapan seperti itu tidak selalu benar.

Banyak orang sederhana yang memiliki pengetahuan agama luas, akhlak terpuji, serta pengalaman hidup yang dapat menjadi pelajaran bagi orang lain. Bahkan, seseorang yang tidak memiliki gelar tinggi sekalipun bisa mempunyai pemahaman yang baik tentang kehidupan, selama ia belajar dan berusaha memahami kebenaran.

Dalam sejarah Islam, terdapat banyak orang shalih yang kehidupannya sederhana. Mereka tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama, tetapi lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah dan memberikan manfaat bagi sesama.

Karena itu, jangan mengukur kualitas ucapan seseorang hanya dari kondisi ekonominya. Dengarkan apa yang disampaikan, perhatikan dasar kebenarannya, kemudian ambil pelajaran jika memang nasihat tersebut baik.

3. Kisah Orang Miskin yang Disepelekan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan pelajaran menarik melalui kisah para pengikut Rasulullah ﷺ yang berasal dari kalangan orang-orang lemah dan miskin. Ketika sebagian pembesar kaum Quraisy melihat orang-orang miskin berada di sekitar Rasulullah ﷺ, mereka merasa tidak nyaman dan menganggap kelompok tersebut tidak pantas berada bersama mereka.

Dalam surah Al-An’am ayat 52, Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ agar tidak mengusir orang-orang yang berdoa kepada-Nya pada pagi dan petang karena mengharapkan keridaan Allah.

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa orang yang hidup sederhana tidak boleh direndahkan hanya karena kondisi ekonominya. Kedekatan seseorang dengan Allah tidak ditentukan oleh kekayaan, kemewahan, atau kedudukan sosialnya.

Bahkan, orang yang dianggap tidak memiliki apa-apa oleh masyarakat bisa jadi memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT karena ketakwaannya.

Banner Selang Keran Pipa Air

4. Apakah Nasihat Orang Shalih Harus Selalu Didengarkan?

Dalam Islam, nasihat yang baik seharusnya diperhatikan, siapa pun yang menyampaikannya. Namun, bukan berarti setiap perkataan orang yang dikenal shalih harus diterima tanpa diperiksa terlebih dahulu.

Jika seseorang memberikan nasihat berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan, maka sudah semestinya kita menghargai dan mempertimbangkannya. Sebaliknya, jika terdapat perkataan yang keliru, kita tetap perlu mencari penjelasan dari orang yang lebih memahami persoalan tersebut.

Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 18 tentang orang-orang yang mendengarkan perkataan, kemudian mengikuti yang paling baik di antaranya.

Dengan demikian, ukuran kebenaran bukanlah kekayaan atau kemiskinan orang yang berbicara. Ukurannya adalah kebenaran isi pembicaraan dan kekuatan ilmu yang menjadi dasarnya.

5. Jangan Sampai Menghormati Orang Kaya, tetapi Merendahkan Orang Shalih yang Miskin

Ada hal yang perlu direnungkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika seorang pengusaha kaya berbicara, banyak orang berusaha mendengarkan dan mengikuti pendapatnya. Namun, ketika seorang ustaz sederhana atau orang shalih yang hidup miskin memberikan nasihat, sebagian orang justru mengabaikannya.

Padahal, orang kaya belum tentu lebih memahami agama daripada orang miskin. Begitu pula orang miskin belum tentu lebih shalih daripada orang kaya. Keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa.

Islam tidak melarang seseorang menghormati orang kaya karena keberhasilan dan kebaikannya. Namun, jangan sampai penghormatan tersebut membuat kita merendahkan orang lain yang tidak memiliki kekayaan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amal mereka. Pesan ini diriwayatkan dalam hadis sahih Muslim.

6. Orang Shalih Juga Harus Menyampaikan Nasihat dengan Bijaksana

Di sisi lain, seseorang yang memiliki keshalihan dan ilmu agama juga perlu memperhatikan cara menyampaikan nasihat. Tidak cukup hanya mengetahui kebenaran, tetapi perlu memahami bagaimana menyampaikannya agar dapat diterima oleh masyarakat.

Nasihat yang disampaikan dengan kasar, merendahkan, atau mempermalukan orang lain terkadang justru membuat pendengarnya menjauh. Sebaliknya, perkataan yang lembut, disampaikan dengan penuh kebijaksanaan, dan disertai keteladanan dapat memberikan pengaruh yang lebih baik.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nahl ayat 125 agar manusia menyeru kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Ini menunjukkan bahwa cara menyampaikan kebenaran juga merupakan bagian penting dari dakwah.

Orang shalih tidak perlu merasa rendah diri karena kemiskinannya, tetapi juga tidak boleh merasa paling benar hanya karena rajin beribadah. Keshalihan seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati dan semakin bermanfaat bagi orang lain.

7. Jangan Menunggu Orang Shalih Menjadi Kaya agar Mau Mendengarkan Nasihatnya

Salah satu kebiasaan buruk dalam kehidupan sosial adalah baru menghargai seseorang setelah ia berhasil secara materi. Ketika masih miskin, nasihatnya diabaikan, tetapi setelah menjadi pengusaha sukses atau memiliki jabatan, perkataannya mulai diperhatikan.

Padahal, kebenaran tidak berubah hanya karena kondisi ekonomi orang yang menyampaikannya berubah. Jika nasihat itu benar ketika disampaikan oleh orang miskin, maka nasihat tersebut tetap benar ketika orang itu menjadi kaya.

Masyarakat seharusnya belajar menghargai ilmu, akhlak, dan ketakwaan seseorang tanpa harus menunggu ia memiliki harta. Jangan sampai seseorang baru dianggap berharga setelah memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan secara duniawi.

Sebaliknya, orang yang memiliki harta juga sebaiknya menggunakan kekayaannya untuk mendukung kebaikan, menghormati orang berilmu, dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Orang shalih yang miskin di kampung tetap layak didengarkan ucapannya selama apa yang disampaikan berdasarkan kebenaran dan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemiskinan bukan alasan untuk merendahkan seseorang, sebagaimana kekayaan juga bukan jaminan bahwa semua perkataannya benar.

BACA JUGA: Banyak Dukun Menjanjikan Kekayaan, Tapi Kok Dukunnya Miskin?

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan manusia di hadapan Allah ditentukan oleh ketakwaan, bukan banyaknya harta atau tingginya kedudukan sosial. Karena itu, jangan hanya mendengarkan orang yang kaya, terkenal, dan memiliki jabatan, tetapi abaikan orang sederhana yang menyampaikan kebaikan.

Sebab, bisa jadi orang yang selama ini kita anggap tidak memiliki apa-apa justru memiliki ilmu, akhlak, dan ketakwaan yang jauh lebih baik daripada orang yang selama ini kita kagumi karena kekayaannya.

Pertanyaannya, jika di kampung kita ada orang shalih yang hidup miskin tetapi sering memberikan nasihat agama, apakah kita mau mendengarkannya, atau justru mengabaikannya karena ia tidak memiliki kekayaan dan kedudukan? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Yudi

Penulis di Islampos Media. Artikel lainnya

Ayo donasi untuk Islampos Media
Tulis komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel terkait