Menu

Bolehkah Khutbah Jumat Diartikan Pakai Bahasa Indonesia?

Namun, pelaksanaan khutbah juga perlu memperhatikan ketentuan fikih yang menjadi pedoman masyarakat setempat.

Yudi · 4 menit baca
shalat jumat, jumat, khutbah
Foto: Freepik
Daftar isi
  1. 1. Apakah khutbah Jumat boleh menggunakan bahasa Indonesia?
  2. 2. Bagaimana pendapat ulama mazhab Syafi’i?
  3. 3. Bagaimana jika jamaah sama sekali tidak memahami bahasa Arab?
  4. 4. Apakah khutbah boleh seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia?
  5. 5. Mana yang lebih baik, khutbah bahasa Arab atau bahasa Indonesia?

SETIAP hari Jumat, umat Islam laki-laki yang memenuhi syarat diwajibkan melaksanakan shalat Jumat di masjid. Salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan shalat Jumat adalah khutbah yang disampaikan oleh khatib sebelum shalat dua rakaat. Biasanya, khutbah disampaikan menggunakan bahasa Arab, terutama ketika membaca hamdalah, shalawat, wasiat takwa, ayat Al-Qur’an, dan doa.

Namun, ada satu persoalan yang terkadang menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Bagaimana jika khutbah Jumat disampaikan menggunakan bahasa Indonesia? Apakah boleh seorang khatib menerjemahkan isi khutbah ke bahasa Indonesia agar jamaah lebih mudah memahami pesan yang disampaikan? Ataukah khutbah Jumat harus menggunakan bahasa Arab supaya shalat Jumat dianggap sah?

Pertanyaan ini cukup penting, terutama di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya tidak menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, khutbah bukan sekadar rangkaian bacaan sebelum shalat Jumat, melainkan juga sarana menyampaikan nasihat, mengingatkan manusia kepada Allah SWT, serta mengajak umat Islam memperbaiki kehidupan.

BACA JUGA: Apakah Ada Batas Waktu untuk Melakukan Amalan Sunnah pada Hari Jumat?

1. Apakah khutbah Jumat boleh menggunakan bahasa Indonesia?

Dalam persoalan ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama mensyaratkan penggunaan bahasa Arab dalam rukun-rukun khutbah, terutama bagi khatib yang mampu mengucapkannya. Sementara itu, terdapat pendapat ulama yang membolehkan khutbah menggunakan bahasa selain Arab, khususnya apabila jamaah tidak memahami bahasa Arab.

Pendapat yang membolehkan penggunaan bahasa Indonesia mempertimbangkan tujuan utama khutbah, yaitu menyampaikan nasihat dan mengingatkan jamaah agar semakin bertakwa kepada Allah SWT. Apabila seluruh isi khutbah menggunakan bahasa Arab, sementara jamaah tidak memahami artinya, pesan yang disampaikan bisa saja tidak terserap dengan baik.

Karena itu, penggunaan bahasa Indonesia dalam khutbah memiliki dasar pertimbangan keagamaan. Namun, perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat mengenai bahasa khutbah juga berkaitan dengan hukum sah atau tidaknya khutbah sebagai syarat pelaksanaan shalat Jumat.

2. Bagaimana pendapat ulama mazhab Syafi’i?

Di Indonesia, mayoritas umat Islam mengikuti mazhab Syafi’i. Dalam mazhab ini, terdapat ketentuan bahwa rukun-rukun khutbah yang berbahasa Arab harus disampaikan menggunakan bahasa Arab bagi khatib yang mampu melakukannya.

Rukun khutbah menurut mazhab Syafi’i meliputi membaca hamdalah pada kedua khutbah, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ pada kedua khutbah, berwasiat tentang ketakwaan pada kedua khutbah, membaca ayat Al-Qur’an pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum mukminin pada khutbah kedua.

Apabila khatib mampu berbahasa Arab, rukun-rukun tersebut tidak boleh begitu saja diganti dengan terjemahan bahasa Indonesia menurut pendapat yang mu’tamad dalam mazhab Syafi’i. Sementara itu, materi penjelasan, nasihat, dan uraian khutbah dapat disampaikan menggunakan bahasa Indonesia agar jamaah memahami isinya.

banner jas hujan mantel

3. Bagaimana jika jamaah sama sekali tidak memahami bahasa Arab?

Inilah persoalan yang sering terjadi di masjid-masjid Indonesia. Banyak jamaah yang datang untuk melaksanakan shalat Jumat, tetapi tidak memahami arti khutbah yang disampaikan dalam bahasa Arab. Mereka hanya mendengarkan tanpa mengetahui pesan dan nasihat yang sedang disampaikan khatib.

Dalam kondisi seperti ini, menyampaikan penjelasan menggunakan bahasa Indonesia menjadi sangat penting. Khatib bisa membacakan bagian rukun khutbah dalam bahasa Arab, kemudian menjelaskan maknanya menggunakan bahasa Indonesia. Dengan cara tersebut, ketentuan khutbah tetap diperhatikan sekaligus tujuan penyampaian nasihat kepada jamaah dapat tercapai.

Apalagi, khutbah Jumat seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas mingguan. Jamaah perlu memahami pesan yang disampaikan agar bisa mengambil pelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

4. Apakah khutbah boleh seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia?

Untuk persoalan ini, perlu dibedakan antara pendapat yang mensyaratkan bahasa Arab dan pendapat yang membolehkan bahasa selain Arab. Menurut pendapat mu’tamad mazhab Syafi’i, apabila khatib mampu menggunakan bahasa Arab, rukun-rukun khutbah harus disampaikan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, khutbah yang seluruh rukun dan materinya menggunakan bahasa Indonesia tidak otomatis dianggap sah menurut ketentuan mazhab tersebut.

Namun, sebagian ulama memiliki pandangan lebih longgar dan membolehkan khutbah menggunakan bahasa yang dipahami jamaah, terutama ketika terdapat kebutuhan untuk menyampaikan pesan agama secara efektif. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalan bahasa khutbah termasuk masalah fikih yang memiliki ruang perbedaan pendapat.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mudah menyalahkan masjid atau khatib yang mengikuti pendapat fikih berbeda. Lebih baik memahami dasar pendapat masing-masing dan menjaga persatuan umat Islam.

5. Mana yang lebih baik, khutbah bahasa Arab atau bahasa Indonesia?

Jika melihat tujuan khutbah, bahasa yang dipahami jamaah tentu sangat membantu agar nasihat agama bisa diterima dengan baik. Namun, pelaksanaan khutbah juga perlu memperhatikan ketentuan fikih yang menjadi pedoman masyarakat setempat.

Untuk masjid yang mayoritas jamaahnya mengikuti mazhab Syafi’i, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah menyampaikan rukun-rukun khutbah menggunakan bahasa Arab, kemudian menyampaikan penjelasan dan materi nasihat menggunakan bahasa Indonesia.

Dengan demikian, jamaah tetap dapat memahami isi khutbah tanpa mengabaikan ketentuan rukun khutbah menurut mazhab yang dianut. Khatib juga sebaiknya memilih tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kejujuran dalam bekerja, tanggung jawab keluarga, bahaya riba, menjaga shalat, serta pentingnya memperbaiki akhlak.

BACA JUGA: Benarkah Suami Istri Jima di Malam Jumat Memiliki Keutamaan?

Jadi, bolehkah khutbah Jumat diartikan atau disampaikan menggunakan bahasa Indonesia? Jawabannya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Dalam mazhab Syafi’i yang banyak dianut masyarakat Indonesia, rukun-rukun khutbah harus menggunakan bahasa Arab bagi khatib yang mampu, sedangkan materi penjelasan dan nasihat boleh disampaikan menggunakan bahasa Indonesia.

Hal terpenting adalah jangan sampai perbedaan pendapat mengenai bahasa khutbah justru membuat umat Islam saling menyalahkan. Khutbah Jumat seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan, memperbaiki akhlak, dan mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan kehidupan dunia.

Sebab, akan sangat disayangkan apabila setiap Jumat jamaah selalu mendengarkan khutbah, tetapi tidak memahami satu pun nasihat yang disampaikan. Padahal, salah satu tujuan penting khutbah adalah agar umat Islam semakin mengenal ajaran agamanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Yudi

Penulis di Islampos Media. Artikel lainnya

Ayo donasi untuk Islampos Media
Tulis komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel terkait