Menu

Posting Ibadah di Media Sosial, Apakah Pasti Riya?

Seseorang yang melakukan riya biasanya ingin terlihat saleh, rajin beribadah, dermawan, atau memiliki ketakwaan di hadapan orang lain.

Yudi · 6 menit baca
hp, kamera HP, video, penyakit ain, ain,riya, WhatsApp
Foto: Unsplash
Daftar isi
  1. 1. Apa Itu Riya dalam Islam?
  2. 2. Apakah Memposting Ibadah di Media Sosial Pasti Riya?
  3. 3. Posting Sedekah kepada Fakir Miskin, Apakah Termasuk Riya?
  4. 4. Bagaimana Jika Memposting Foto Sedang Salat atau Membaca Al-Qur’an?
  5. 5. Hati-Hati dengan Keinginan Mendapatkan Pujian dan Pengakuan
  6. 6. Lebih Baik Menyembunyikan Ibadah atau Memperlihatkannya?
  7. 7. Bagaimana Jika Seseorang Sudah Terlanjur Memposting Ibadah?

DI zaman sekarang, media sosial bukan hanya digunakan untuk membagikan aktivitas sehari-hari, tetapi juga menjadi tempat seseorang menunjukkan kegiatan ibadahnya. Ada orang yang mengunggah foto ketika sedang salat di masjid, membaca Al-Qur’an, bersedekah kepada fakir miskin, berangkat umrah, hingga membagikan video saat melakukan tahajud.

Fenomena ini terkadang menimbulkan perdebatan. Sebagian orang menganggap bahwa memposting ibadah di media sosial merupakan perbuatan riya karena ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa membagikan kegiatan ibadah bisa menjadi sarana mengajak orang lain melakukan kebaikan.

Lantas, bagaimana sebenarnya Islam memandang seseorang yang memposting aktivitas ibadahnya? Apakah setiap orang yang mengunggah foto sedang beribadah pasti memiliki sifat riya? Ataukah ada kondisi tertentu ketika memperlihatkan ibadah justru diperbolehkan?

BACA JUGA: Benarkah Memilih Bermadzhab Lebih Memudahkan Kita dalam Beribadah?

1. Apa Itu Riya dalam Islam?

Riya merupakan perbuatan melakukan ibadah atau amal kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian, penghormatan, atau pengakuan dari manusia. Seseorang yang melakukan riya biasanya ingin terlihat saleh, rajin beribadah, dermawan, atau memiliki ketakwaan di hadapan orang lain.

Dalam Islam, riya termasuk perbuatan tercela karena dapat merusak keikhlasan dalam beramal. Allah SWT bahkan memberikan peringatan dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’un ayat 4–6 mengenai orang-orang yang melaksanakan salat, tetapi lalai terhadap salatnya dan berbuat riya.

Artinya, ibadah bukan hanya berkaitan dengan gerakan tubuh atau aktivitas yang terlihat oleh orang lain. Ada perkara penting yang harus dijaga, yaitu niat dan keikhlasan ketika melakukannya.

Karena itu, seseorang yang rajin memposting aktivitas ibadah perlu memperhatikan tujuan di balik unggahannya. Jangan sampai ibadah yang seharusnya dilakukan untuk mendapatkan rida Allah justru berubah menjadi sarana mencari popularitas dan pujian manusia.

2. Apakah Memposting Ibadah di Media Sosial Pasti Riya?

Jawabannya, tidak selalu. Memperlihatkan aktivitas ibadah kepada orang lain tidak otomatis membuat seseorang menjadi riya, sebab Islam sendiri mengenal adanya amal yang dilakukan secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 271 bahwa menampakkan sedekah merupakan perbuatan baik, tetapi menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir juga lebih baik bagi orang yang melakukannya.

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa memperlihatkan amal kebaikan tidak selalu dilarang. Ada kondisi ketika amal yang ditampakkan dapat memberikan manfaat, misalnya menjadi contoh bagi orang lain, mengajak masyarakat bersedekah, atau menunjukkan kegiatan sosial yang membutuhkan dukungan.

Namun, tetap ada batasan yang harus diperhatikan. Jangan sampai seseorang memamerkan ibadah hanya untuk mendapatkan pujian, jumlah pengikut, komentar kagum, atau pengakuan bahwa dirinya merupakan orang yang paling saleh.

Jadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah ibadah tersebut diposting atau tidak, melainkan niat, tujuan, dan dampak dari tindakan tersebut.

3. Posting Sedekah kepada Fakir Miskin, Apakah Termasuk Riya?

Salah satu aktivitas yang sering diunggah di media sosial adalah membagikan momen ketika memberikan bantuan kepada fakir miskin. Ada orang yang memposting foto saat membagikan sembako, memberikan uang kepada anak yatim, atau membantu masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.

Jika tujuannya untuk mengajak orang lain ikut bersedekah, menunjukkan transparansi kegiatan sosial, atau mengumpulkan bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan, maka publikasi tersebut tidak otomatis termasuk riya.

Namun, persoalan menjadi berbeda apabila seseorang sengaja memperlihatkan wajah orang miskin, mempermalukan penerima bantuan, atau menonjolkan dirinya agar dianggap dermawan. Tindakan seperti ini perlu dihindari karena dapat melukai perasaan orang yang dibantu sekaligus mengganggu keikhlasan amal.

Bahkan, seseorang perlu mempertimbangkan apakah foto atau video tersebut benar-benar diperlukan. Jangan sampai niat membantu sesama justru membuat orang yang sedang membutuhkan bantuan kehilangan kehormatannya.

4. Bagaimana Jika Memposting Foto Sedang Salat atau Membaca Al-Qur’an?

Ada pula orang yang senang membagikan foto ketika sedang salat berjamaah di masjid, membaca Al-Qur’an, berzikir, atau melakukan ibadah lainnya. Sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai bentuk motivasi, sedangkan sebagian lainnya mencurigai adanya keinginan untuk dipuji.

Dalam kondisi seperti ini, kita tidak boleh terburu-buru menuduh seseorang melakukan riya. Sebab, manusia tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan di dalam hati orang lain.

Bisa jadi seseorang mengunggah kegiatan membaca Al-Qur’an karena ingin mengajak teman-temannya kembali dekat dengan kitab suci. Bisa juga seseorang membagikan suasana masjid agar orang lain tertarik untuk memakmurkan masjid.

Namun, orang yang memposting aktivitas ibadah tetap harus melakukan introspeksi. Apakah dirinya masih membaca Al-Qur’an dengan semangat ketika tidak ada kamera? Apakah dirinya tetap rajin salat ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah dirinya tetap bersedekah meskipun tidak ada seorang pun yang mengetahui?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang mengevaluasi keikhlasan dirinya sendiri.

Banner Indomie Ayam Bawang

5. Hati-Hati dengan Keinginan Mendapatkan Pujian dan Pengakuan

Media sosial memiliki fitur yang dapat membuat seseorang mudah mencari perhatian, seperti jumlah suka, komentar, pengikut, dan jumlah penayangan. Tidak sedikit orang yang merasa senang ketika unggahan ibadahnya mendapatkan banyak respons positif.

Pada awalnya, mungkin seseorang hanya ingin berbagi kegiatan baik. Namun, lama-kelamaan ia bisa merasa kecewa ketika unggahan ibadahnya tidak mendapatkan banyak perhatian. Bahkan, ada kemungkinan dirinya mulai memilih aktivitas ibadah yang terlihat menarik untuk direkam dan dipublikasikan.

Di sinilah seseorang perlu berhati-hati. Jangan sampai ukuran kebahagiaan dalam beribadah berubah menjadi banyaknya pujian manusia, bukan keridaan Allah SWT.

Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amal perbuatannya.

Hadis tersebut mengingatkan bahwa perkara yang paling penting bukanlah bagaimana manusia menilai ibadah kita, melainkan bagaimana kualitas hati dan amal tersebut di hadapan Allah.

6. Lebih Baik Menyembunyikan Ibadah atau Memperlihatkannya?

Pada dasarnya, menyembunyikan amal ibadah memiliki keutamaan tersendiri karena dapat membantu seseorang menjaga keikhlasan dan menjauhkan diri dari keinginan mendapatkan pujian.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 271 bahwa menyembunyikan sedekah dan memberikannya kepada orang-orang fakir merupakan sesuatu yang lebih baik bagi orang yang melakukannya.

Namun, bukan berarti semua amal harus disembunyikan. Ada ibadah yang memang dilakukan secara terbuka, seperti salat berjamaah, salat Jumat, dan kegiatan dakwah. Ada pula amal yang dapat diperlihatkan untuk memberikan teladan atau mengajak orang lain melakukan kebaikan.

Yang perlu dijaga adalah jangan menjadikan ibadah sebagai alat untuk meninggikan diri sendiri. Jika suatu amal lebih baik disembunyikan demi menjaga keikhlasan, tidak ada alasan untuk memaksakan diri mempublikasikannya.

Sebaliknya, jika publikasi tersebut benar-benar membawa manfaat, lakukan dengan cara yang bijaksana dan tetap menjaga niat.

7. Bagaimana Jika Seseorang Sudah Terlanjur Memposting Ibadah?

Jika seseorang pernah memposting kegiatan ibadah dan kemudian merasa khawatir telah melakukan riya, sebaiknya jangan langsung berputus asa. Lakukan introspeksi terhadap niat, perbaiki tujuan, dan berusaha menjaga keikhlasan dalam ibadah berikutnya.

Jika memang menyadari bahwa dirinya sengaja beramal demi mendapatkan pujian, segeralah bertobat kepada Allah SWT dan berusaha memperbaiki niat. Tidak perlu menjadikan kekhawatiran tersebut sebagai alasan untuk berhenti melakukan kebaikan.

Selain itu, seseorang dapat mulai membiasakan diri melakukan amal yang tidak diketahui orang lain. Misalnya, bersedekah secara diam-diam, melaksanakan salat malam tanpa menceritakannya kepada siapa pun, atau membantu orang lain tanpa mengunggahnya di media sosial.

Kebiasaan tersebut dapat menjadi latihan untuk menjaga hati agar tidak terlalu bergantung pada pengakuan manusia.

Memposting ibadah di media sosial tidak selalu termasuk riya. Seseorang bisa saja membagikan kegiatan ibadah dengan tujuan mengajak orang lain melakukan kebaikan, memberikan motivasi, atau menyebarkan informasi yang bermanfaat.

BACA JUGA: Menikah Adalah Ibadah Seumur Hidup, Bagaimana Caranya agar Suami Istri Tidak Bosan?

Namun, setiap muslim harus berhati-hati agar media sosial tidak menjadi tempat mencari pujian melalui aktivitas ibadah. Jangan sampai seseorang lebih bersemangat ketika ibadahnya dilihat banyak orang, tetapi kehilangan semangat ketika tidak ada yang memperhatikannya.

Pada akhirnya, keikhlasan merupakan perkara hati yang harus terus dijaga. Kita tidak berhak memastikan seseorang riya hanya berdasarkan unggahannya, tetapi kita juga tidak boleh mengabaikan kemungkinan bahwa keinginan mendapatkan pujian dapat merusak amal.

Pertanyaannya, jika seseorang rajin memposting foto salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan kegiatan ibadah lainnya, apakah menurut Anda hal tersebut lebih banyak membawa manfaat sebagai motivasi atau justru berisiko menumbuhkan sifat riya? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Yudi

Penulis di Islampos Media. Artikel lainnya

Ayo donasi untuk Islampos Media
Tulis komentar

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel terkait