Sudah Usia 40 Tahun tapi Tidak Pernah Shalat 5 Waktu, Bagaimana?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

USIA 40 tahun sering dianggap sebagai masa ketika seseorang mulai lebih banyak merenung tentang kehidupan. Di usia ini, seseorang mungkin sudah memiliki pekerjaan, keluarga, rumah, kendaraan, bahkan anak yang mulai tumbuh besar. Namun, ada satu pertanyaan yang terkadang justru paling sulit dijawab: sudahkah kita menjaga shalat lima waktu?

Bagaimana jika seseorang sudah berusia 40 tahun tetapi selama hidupnya hampir tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu? Apakah masih ada kesempatan untuk berubah? Apakah dosa masa lalu masih bisa diampuni? Atau justru sudah terlambat untuk memulai? Jawabannya: belum terlambat untuk kembali kepada Allah.

BACA JUGA: Usia 40 Tahun Masih Belum Punya Anak, Bagaimana Menyikapinya?

Jangan merasa sudah terlalu jauh

Salah satu godaan terbesar ketika seseorang ingin berubah adalah munculnya pikiran, “Saya sudah terlalu banyak meninggalkan shalat.” Akibatnya, seseorang merasa malu untuk kembali beribadah. Ada yang berpikir dirinya sudah terlalu kotor, terlalu banyak dosa, atau tidak pantas menghadap Allah.

Padahal, justru ketika seseorang menyadari kesalahannya, itulah saat yang tepat untuk kembali. Allah membuka pintu taubat bagi hamba-Nya selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat.

Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53 agar hamba-hamba yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun dosa seseorang, ia tidak boleh kehilangan harapan terhadap ampunan Allah.

Jadi, jika hari ini seseorang berusia 40 tahun dan baru menyadari pentingnya shalat, jangan berkata, “Sudah terlambat.” Justru katakan, “Saya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.”

Tetapi jangan menganggap meninggalkan shalat sebagai dosa kecil

Tidak terlambat untuk bertaubat bukan berarti meninggalkan shalat adalah persoalan ringan. Shalat lima waktu merupakan kewajiban utama bagi seorang Muslim yang telah memenuhi syarat. Karena itu, meninggalkannya dengan sengaja merupakan perkara yang sangat serius dalam Islam.

Allah menyebut shalat sebagai kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman dalam QS. An-Nisa ayat 103. Bahkan ketika seseorang sedang sakit atau berada dalam keadaan tertentu, syariat tetap memberikan aturan dan keringanan dalam pelaksanaan shalat.

Maka seseorang yang selama puluhan tahun meninggalkan shalat seharusnya tidak menganggap masalah tersebut biasa. Justru kesadaran bahwa selama ini ada kewajiban yang diabaikan harus menjadi alasan untuk segera berubah.

Tidak perlu menunggu usia 50 atau 60 tahun.

Mulai dari shalat berikutnya

Kesalahan yang sering dilakukan orang yang ingin berubah adalah terlalu banyak memikirkan masa lalu sampai lupa memperbaiki hari ini. Mereka sibuk bertanya, “Bagaimana dengan shalat saya yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan?” tetapi tidak segera melaksanakan shalat yang sedang masuk waktunya.

Jika seseorang baru sadar ketika usia 40 tahun, langkah pertama adalah menjaga shalat yang sekarang. Ketika masuk waktu Zuhur, kerjakan Zuhur. Ketika masuk waktu Asar, kerjakan Asar. Begitu seterusnya.

Jangan menunggu menjadi orang baik terlebih dahulu baru shalat. Shalat justru merupakan salah satu jalan untuk memperbaiki diri.

Jangan pula mengatakan, “Saya belum bisa meninggalkan maksiat, jadi percuma shalat.” Pikiran seperti itu justru berbahaya. Seseorang tidak harus menjadi sempurna untuk mulai beribadah.

Bagaimana dengan shalat yang ditinggalkan selama bertahun-tahun?

Ini merupakan persoalan fikih yang memiliki perincian dan perbedaan pendapat di kalangan ulama, terutama terkait orang yang sengaja meninggalkan shalat lalu bertaubat. Ada ulama yang mewajibkan qadha bagi shalat yang ditinggalkan, sementara ulama lain berpendapat bahwa shalat yang sengaja ditinggalkan tidak diqadha dengan cara seperti orang yang tertidur atau lupa, tetapi orang tersebut harus bertaubat dengan sungguh-sungguh dan memperbanyak amal saleh.

Karena persoalan ini cukup serius dan menyangkut kewajiban agama selama bertahun-tahun, seseorang sebaiknya berkonsultasi dengan ustaz atau ahli fikih yang dipercaya agar mengetahui pendapat yang diikuti dan cara mengamalkannya.

Namun, ada satu hal yang tidak perlu diperdebatkan: jangan sampai perbedaan pendapat mengenai shalat masa lalu membuat kita kembali meninggalkan shalat hari ini.

Yang sudah lewat kita perbaiki sesuai tuntunan ulama yang kita ikuti. Yang sedang berlangsung jangan ditinggalkan lagi.

https://s.shopee.co.id/60QNjLAHyP

Taubat bukan hanya menangis

Taubat bukan sekadar merasa bersalah kemudian menangis. Taubat berarti benar-benar kembali kepada Allah.

Seseorang yang selama ini tidak shalat lalu bertaubat harus berusaha meninggalkan kebiasaan tersebut. Ia menyesali masa lalu, memohon ampun kepada Allah, bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu, dan mulai menjaga shalat lima waktu.

Kalau sebelumnya sering tidur sampai melewati Subuh, mulai ubah pola tidur. Kalau sebelumnya terlalu sibuk bekerja sampai meninggalkan Zuhur atau Asar, mulai atur pekerjaan agar tersedia waktu untuk shalat.

Perubahan membutuhkan usaha nyata.

Jangan malu shalat di depan keluarga

Ada orang yang sudah berusia 40 tahun tetapi merasa malu tiba-tiba mulai shalat karena selama ini keluarga mengenalnya sebagai orang yang jarang beribadah. Ia takut ditertawakan, ditanya-tanya, atau dianggap sedang sok alim.

Kalau mengalami hal seperti ini, ingatlah bahwa penilaian manusia tidak lebih penting daripada keselamatan akhirat.

Kalau anak bertanya, “Ayah sekarang rajin shalat?” tidak perlu merasa malu. Justru itu bisa menjadi kesempatan untuk mengatakan bahwa manusia bisa berubah dan kembali kepada Allah kapan saja.

Bahkan perubahan orang tua bisa menjadi pelajaran besar bagi anak. Anak dapat melihat bahwa ayah atau ibunya tidak malu mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya.

Usia 40 seharusnya menjadi alarm

Usia 40 bukan berarti seseorang akan segera meninggal. Tetapi usia tersebut cukup untuk membuat kita menyadari bahwa waktu hidup sudah berjalan sangat jauh.

Jika seseorang diberi umur sampai 40 tahun, berarti sudah ada puluhan tahun yang berlalu. Banyak orang yang dulu masih hidup bersama kita mungkin sekarang sudah meninggal. Orang tua bisa saja sudah tiada, teman masa kecil mungkin sudah pergi, dan anak-anak kita sendiri mulai tumbuh dewasa.

Lalu bagaimana dengan bekal kita?

Rumah mungkin sudah ada. Kendaraan mungkin sudah ada. Tabungan mungkin sudah terkumpul. Karier mungkin sudah bagus. Tetapi semua itu tidak menggantikan shalat ketika kita berdiri di hadapan Allah.

Karena itu, jangan menunggu usia 50 untuk berubah. Jangan menunggu sakit keras. Jangan menunggu dokter mengatakan bahwa umur mungkin tinggal sedikit. Jangan menunggu pemakaman teman berikutnya untuk menyadari bahwa kematian tidak pernah memberi jadwal kepada manusia.

Jangan takut memulai dari nol

Jika selama 40 tahun kita jauh dari shalat, mungkin awalnya akan terasa aneh. Tubuh belum terbiasa. Hafalan mungkin sudah banyak lupa. Bacaan mungkin masih terbata-bata. Bahkan hati mungkin belum langsung merasakan ketenangan seperti yang dirasakan orang yang sudah bertahun-tahun shalat.

Tidak masalah.

Belajar lagi. Perbaiki bacaan sedikit demi sedikit. Bertanya kepada orang yang lebih paham. Gunakan kesempatan untuk memperbaiki gerakan dan bacaan shalat.

Allah melihat usaha seorang hamba untuk kembali.

Yang paling berbahaya bukan orang yang pernah jauh lalu kembali. Yang lebih mengkhawatirkan adalah orang yang tahu dirinya salah tetapi terus berkata, “Nanti saja.”

Karena kita tidak pernah tahu apakah “nanti” itu benar-benar masih menjadi milik kita.

Kalau hari ini usia kita 40 tahun dan selama ini belum menjaga shalat lima waktu, jangan jadikan usia sebagai alasan untuk menyerah. Jadikan usia sebagai alarm bahwa waktu untuk berubah tidak boleh terus ditunda.

Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat selama kesempatan hidup masih diberikan. Tetapi jangan menunda sampai kesempatan itu benar-benar berakhir.

BACA JUGA: Berapa Peluang Laki-Laki Usia 40 Tahun untuk Memiliki Anak?

Mulailah dari shalat berikutnya. Ambil wudhu, berdiri menghadap kiblat, dan katakan dalam hati bahwa kali ini kita ingin kembali kepada Allah.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa suatu hari dunia yang kita kejar itu akan kita tinggalkan.

Dan ketika hari itu tiba, yang kita butuhkan bukan lagi rumah besar, jabatan tinggi, kendaraan mahal, atau tabungan yang banyak. Kita membutuhkan rahmat Allah dan amal yang pernah kita kerjakan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *