Apakah Anak yang Sholeh Bisa Lahir dari Orang Tua yang Hobi Maksiat?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

ADA orang tua yang merasa pesimis ketika melihat dirinya sendiri masih sering melakukan maksiat. Mereka mungkin berkata, “Bagaimana anak saya bisa menjadi anak sholeh kalau saya sendiri masih banyak dosa?” Pertanyaan ini sangat manusiawi, tetapi jangan sampai membuat seseorang kehilangan harapan.

Jawabannya, anak sholeh tetap bisa lahir dan tumbuh dari keluarga yang orang tuanya memiliki banyak kekurangan. Hidayah adalah milik Allah, dan seseorang tidak mewarisi dosa orang tuanya hanya karena hubungan darah. Namun, bukan berarti perilaku orang tua tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan anak.

Di sinilah kita perlu memahami dua hal sekaligus: jangan pernah putus asa terhadap kemungkinan anak menjadi baik, tetapi jangan pula menjadikan kemungkinan itu sebagai alasan untuk terus melakukan maksiat.

BACA JUGA: Tauhid: Sumber Kecerdasan Anak

Anak tidak mewarisi dosa orang tuanya

Dalam Islam, setiap manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Allah berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 164 bahwa seseorang tidak memikul dosa orang lain.

Artinya, seorang anak tidak otomatis menjadi buruk hanya karena ayah atau ibunya memiliki masa lalu yang buruk. Anak juga tidak menanggung dosa orang tuanya hanya karena lahir dari keluarga tersebut.

Bahkan dalam kehidupan nyata, kita bisa menemukan anak yang akhlaknya sangat baik meskipun orang tuanya memiliki banyak kekurangan. Sebaliknya, ada pula anak dari keluarga yang dikenal religius tetapi kemudian memilih jalan yang buruk.

Karena itu, jangan pernah berkata, “Orang tuanya begini, pasti anaknya juga begitu.” Manusia tidak bisa memastikan masa depan seseorang hanya berdasarkan latar belakang keluarganya.

Tetapi orang tua tetap memiliki pengaruh besar

Meski anak tidak mewarisi dosa orang tua, bukan berarti perilaku orang tua tidak memberikan pengaruh. Anak belajar banyak hal dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Seorang anak yang setiap hari melihat ayahnya berbohong bisa menganggap kebohongan sebagai sesuatu yang normal. Anak yang sering melihat ibunya memaki orang lain dapat belajar bahwa kemarahan dan ucapan kasar merupakan hal biasa.

Begitu juga jika anak melihat orang tuanya menjaga shalat, berkata jujur, menghormati tetangga, meminta maaf ketika salah, dan membantu orang lain. Perilaku tersebut dapat menjadi contoh yang sangat kuat bagi mereka.

Anak bukan hanya mendengarkan nasihat. Mereka juga mengamati.

Karena itu, akan sangat sulit bagi orang tua untuk mengatakan kepada anak, “Jangan berbohong,” sementara anak setiap hari melihat orang tuanya berbohong. Nasihat akan jauh lebih kuat jika didukung dengan keteladanan.

Jangan menjadikan dosa sebagai warisan

Ada orang tua yang merasa dirinya sudah terlanjur buruk. Karena itu, mereka berpikir tidak perlu terlalu serius mendidik anak.

“Saya juga bukan orang baik, bagaimana mau mengajari anak?”

Pemikiran seperti ini justru harus dilawan. Kalau kita menyadari diri masih banyak dosa, justru itulah alasan untuk memperbaiki diri sekaligus mendidik anak.

Tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna.

Kalau sebelumnya jarang shalat, mulai belajar menjaga shalat. Kalau sering berkata kasar, mulai belajar mengendalikan ucapan. Kalau pernah melakukan dosa, bertaubat dan berusaha meninggalkannya.

Perubahan orang tua dapat menjadi pelajaran berharga bagi anak.

Seorang ayah yang mengatakan, “Ayah dulu banyak salah, tetapi sekarang ayah sedang belajar memperbaikinya,” justru sedang mengajarkan kepada anak bahwa manusia boleh jatuh, tetapi tidak boleh betah dalam kesalahan.

Doa orang tua sangat penting

Selain pendidikan dan keteladanan, orang tua juga memiliki kewajiban untuk mendoakan anak. Salah satu doa yang sangat indah terdapat dalam QS. Al-Furqan ayat 74:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Perhatikan bahwa doa tersebut bukan sekadar meminta anak yang pintar atau kaya. Orang beriman memohon agar keluarganya menjadi penyejuk hati dan berada dalam jalan ketakwaan.

Karena itu, jangan hanya memarahi anak ketika mereka melakukan kesalahan. Doakan mereka.

Ketika anak sedang tidur, orang tua bisa memohon kepada Allah agar anak diberikan iman, akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat, teman-teman yang baik, serta dijauhkan dari pergaulan yang buruk.

https://s.shopee.co.id/BOENjEhhY

Lingkungan juga menentukan

Anak tidak hanya tumbuh di rumah. Mereka juga berinteraksi dengan teman, guru, keluarga besar, media sosial, internet, dan lingkungan sekitar.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan siapa teman anaknya, apa yang mereka tonton, apa yang mereka dengarkan, dan nilai-nilai apa yang mereka serap.

Namun, pengawasan tidak berarti orang tua harus mengontrol setiap detik kehidupan anak. Anak juga perlu dibekali kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Pendidikan agama menjadi penting agar ketika anak berada jauh dari orang tua, mereka tetap memiliki kompas moral.

Bagaimana jika orang tua masih melakukan maksiat?

Jika seorang ayah atau ibu masih memiliki kebiasaan maksiat, jangan menunggu sampai dirinya sempurna untuk mulai mendidik anak. Mulailah dua perjuangan sekaligus: memperbaiki diri dan mendidik anak.

Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan. Jangan sampai orang tua menggunakan anak sebagai alasan untuk merasa dirinya sudah baik.

Misalnya, “Yang penting anak saya mengaji, walaupun saya sendiri masih melakukan maksiat.”

Mendidik anak bukan pengganti kewajiban memperbaiki diri. Orang tua tetap harus berusaha meninggalkan dosa yang dilakukan.

Jika seorang ayah ingin anaknya rajin shalat, maka ia juga harus berusaha menjaga shalat. Jika ingin anaknya jujur, ia harus berusaha meninggalkan kebohongan. Jika ingin anaknya menjaga kehormatan, ia harus menjaga dirinya sendiri.

Anak sholeh bisa menjadi jalan perubahan

Ada kalanya justru anak menjadi sebab orang tua berubah. Ketika melihat anak belajar membaca Al-Qur’an, seorang ayah yang selama ini jauh dari agama bisa merasa malu. Ketika anak mulai mengingatkan tentang shalat, orang tua mungkin tersentuh.

Namun, jangan membebani anak dengan tanggung jawab untuk “menyelamatkan” orang tuanya. Orang tua tetap harus mengambil keputusan untuk berubah atas kesadaran sendiri. Anak bisa menjadi pengingat, tetapi perubahan tetap membutuhkan kemauan.

Jangan merasa tidak pantas memiliki anak sholeh

Setiap orang tua pasti memiliki dosa dan kekurangan. Ada yang mungkin memiliki masa lalu yang kelam. Ada yang pernah melakukan maksiat yang sangat berat. Ada pula yang sampai sekarang masih berjuang meninggalkan kebiasaan buruk.

Tetapi jangan biarkan masa lalu menghancurkan harapan terhadap masa depan.

Anak adalah amanah. Tugas orang tua bukan memastikan anak menjadi sempurna, karena manusia tidak ada yang sempurna. Tugas orang tua adalah memberikan pendidikan, keteladanan, kasih sayang, lingkungan yang baik, serta doa semampunya.

Dan yang menentukan hidayah tetap Allah. Karena itu, jangan pernah mengatakan, “Saya orang tua pendosa, jadi anak saya pasti tidak akan menjadi sholeh.”

Bisa jadi justru melalui anak tersebut Allah mengetuk hati orang tuanya agar kembali.

Bisa jadi ketika anak mulai rajin shalat, orang tuanya ikut belajar shalat. Ketika anak mulai membaca Al-Qur’an, orang tuanya mulai membuka kembali mushaf yang sudah lama berdebu. Ketika anak mulai belajar tentang halal dan haram, orang tuanya mulai memperhatikan kembali sumber penghasilannya.

Maka jangan putus asa. Anak tidak mewarisi dosa orang tuanya, tetapi orang tua tetap bertanggung jawab atas pengaruh yang mereka berikan kepada anak.

BACA JUGA: Jika Teringat Keagungan Allah, Sultan Hanya Seperti Anak Kucing

Jika kita ingin memiliki anak yang sholeh, jangan hanya berdoa agar anak berubah. Mari mulai dari diri sendiri. Tidak perlu menunggu sempurna.

Mulailah meninggalkan satu maksiat. Mulailah menjaga satu ibadah. Mulailah memperbaiki satu kebiasaan. Mulailah meminta maaf kepada anak ketika kita salah.

Karena mungkin, perubahan kecil yang kita lakukan hari ini bukan hanya menyelamatkan diri kita, tetapi juga menjadi warisan terbaik yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *