ADA orang yang begitu rajin melaksanakan umrah. Bahkan bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali setiap kali memiliki kesempatan dan kemampuan. Ia rela mengeluarkan biaya besar untuk pergi ke Tanah Suci, memperbanyak ibadah, thawaf, sa’i, berdoa di depan Ka’bah, dan beribadah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.
Namun, di sisi lain, shalat lima waktunya masih bolong-bolong. Subuh sering terlewat, Zuhur terkadang ditinggalkan karena pekerjaan, Asar lupa karena kesibukan, sedangkan Magrib dan Isya pun kadang tidak dikerjakan. Kondisi seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan, bagaimana sebenarnya kita harus melihat seseorang yang rajin umrah tetapi masih meninggalkan shalat wajib?
BACA JUGA: Mengapa Harus Umrah?
Pertama, kita tidak boleh terburu-buru mengatakan bahwa umrahnya sia-sia atau pasti tidak diterima. Urusan diterima atau tidaknya sebuah amal adalah hak Allah, karena manusia tidak mengetahui isi hati dan keadaan seseorang secara keseluruhan. Bisa jadi ia memiliki banyak kekurangan dalam satu sisi, tetapi sedang berusaha memperbaiki dirinya dalam sisi yang lain.
Namun, bukan berarti persoalan meninggalkan shalat boleh dianggap ringan. Shalat lima waktu merupakan kewajiban yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim dan tidak boleh dikalahkan oleh kesibukan dunia. Ketika seseorang mampu menyediakan waktu dan biaya untuk pergi umrah, seharusnya ia juga berusaha sungguh-sungguh menyediakan waktu untuk menjaga shalat yang diwajibkan setiap hari.
Umrah merupakan ibadah yang sangat mulia, tetapi jangan sampai seseorang justru lebih bersemangat melakukan ibadah yang hanya dilakukan pada kesempatan tertentu daripada menjaga kewajiban yang harus dilakukan setiap hari. Shalat lima waktu hadir dalam kehidupan seorang Muslim sejak bangun tidur hingga malam hari dan menjadi pengingat bahwa hubungan dengan Allah tidak boleh hanya dilakukan ketika berada di Tanah Suci. Karena itu, orang yang rajin umrah tetapi masih bolong shalatnya perlu menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan introspeksi.
Allah telah memberikan banyak kesempatan kepada manusia untuk mendekat kepada-Nya. Salah satunya melalui shalat yang dilakukan lima kali sehari, sedangkan kesempatan umrah tidak dimiliki semua orang dan tidak harus dilakukan setiap tahun. Maka, jangan sampai seseorang merasa sudah sangat dekat dengan Allah karena sering pergi umrah, tetapi justru masih mengabaikan panggilan Allah yang datang lima kali sehari.
Coba kita renungkan keadaan seseorang yang berada di depan Ka’bah sambil menangis memohon ampun kepada Allah. Ia berdoa agar keluarganya diberi keberkahan, rezekinya dilancarkan, dosa-dosanya diampuni, dan kehidupannya menjadi lebih baik. Tetapi setelah pulang ke rumah, ketika azan berkumandang, ia kembali sibuk dengan pekerjaan, ponsel, televisi, atau aktivitas lain sampai akhirnya meninggalkan shalat.
Tentu keadaan seperti ini patut menjadi bahan evaluasi. Bukan berarti perjalanan umrahnya harus dicela, tetapi pengalaman berada di Tanah Suci seharusnya menjadi momentum untuk membawa perubahan ketika kembali ke rumah. Jangan sampai yang dibawa pulang hanya oleh-oleh, foto, cerita perjalanan, dan kenangan di depan Ka’bah, sementara kebiasaan meninggalkan shalat tetap tidak berubah.
Umrah seharusnya memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang. Jika sebelum berangkat ia sering meninggalkan Subuh, maka setelah pulang seharusnya muncul tekad untuk bangun lebih awal dan menjaga shalat tersebut. Jika sebelumnya pekerjaan sering membuatnya meninggalkan Zuhur atau Asar, maka ia harus mulai mengatur aktivitas agar kewajiban kepada Allah tidak terus-menerus dikorbankan.
Begitu pula dengan Magrib dan Isya. Jangan sampai waktu shalat kalah oleh acara televisi, media sosial, permainan, nongkrong, pekerjaan, atau sekadar rasa malas. Seorang Muslim perlu belajar mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa urusan dunia bisa ditunda, tetapi kewajiban kepada Allah tidak seharusnya diperlakukan seperti sesuatu yang tidak penting.
Ada pula orang yang merasa bahwa karena dirinya sudah berkali-kali umrah, maka kedudukannya otomatis lebih baik daripada orang yang belum pernah ke Tanah Suci. Padahal kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan hanya oleh berapa kali ia pergi ke Makkah atau Madinah. Yang jauh lebih penting adalah ketakwaan, keikhlasan, dan ketaatan seseorang dalam menjalankan perintah Allah.
Karena itu, jangan menjadikan jumlah umrah sebagai ukuran untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Bisa jadi seseorang belum pernah umrah karena belum memiliki kemampuan, tetapi ia menjaga shalat lima waktunya dengan sangat baik. Sebaliknya, bisa saja seseorang mampu pergi umrah berkali-kali tetapi masih berjuang memperbaiki kewajiban lainnya.
Lalu apakah orang yang shalatnya masih bolong harus berhenti umrah? Tidak sesederhana itu, karena seseorang tetap dianjurkan mendekat kepada Allah dan memperbaiki semua bentuk ibadahnya. Jangan berpikir bahwa karena masih banyak dosa, seseorang tidak boleh beribadah, tetapi jangan pula menjadikan ibadah sunnah sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban.
Kalau seseorang sudah mampu melakukan umrah, jadikanlah umrah sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri. Setelah pulang, jangan hanya berjanji ingin menjadi lebih baik, tetapi buat perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dengan memastikan shalat lima waktu tidak lagi ditinggalkan dan pertahankan kebiasaan itu sedikit demi sedikit.
Kalau selama ini sering lupa shalat karena pekerjaan, gunakan alarm atau pengingat waktu shalat. Kalau sering tidur terlalu larut sehingga Subuh terlewat, perbaiki pola tidur dan jangan terus-menerus mencari alasan. Jika lingkungan pergaulan membuat seseorang semakin lalai, carilah lingkungan yang dapat membantu menjaga ketaatan.
Yang tidak kalah penting adalah jangan berputus asa ketika masih mengalami kesulitan. Seseorang mungkin sudah berulang kali berusaha menjaga shalat tetapi masih pernah tergelincir, dan hal itu harus menjadi alasan untuk kembali memperbaiki diri, bukan untuk menyerah. Allah membuka pintu taubat dan memberikan kesempatan kepada manusia untuk terus kembali kepada-Nya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu direnungkan bukan hanya, “Sudah berapa kali kita umrah?” Ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting, yaitu, “Setelah berkali-kali pergi ke Tanah Suci, apakah shalat kita semakin baik?” Sebab keberhasilan sebuah perjalanan ibadah bukan hanya terlihat dari tempat yang kita kunjungi, tetapi juga dari perubahan yang terjadi setelah kita kembali.
BACA JUGA: Bolehkah Berangkat Umrah dari Hasil Korupsi?
Umrah mungkin membutuhkan biaya yang besar, perjalanan yang jauh, dan persiapan yang panjang. Tetapi untuk menghadap Allah melalui shalat, kita tidak perlu membeli tiket pesawat atau menunggu memiliki banyak uang. Ketika azan berkumandang, panggilan Allah sudah datang kepada kita di mana pun kita berada.
Maka jangan sampai kita berkali-kali datang ke Tanah Suci tetapi masih sering mengabaikan panggilan Allah yang datang lima kali setiap hari. Jangan hanya mengejar kesempatan untuk thawaf di depan Ka’bah, tetapi lupa menjaga shalat di rumah sendiri. Jadikan umrah sebagai sarana untuk semakin dekat kepada Allah dan sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih taat. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

