ADA orang yang sudah menunaikan ibadah haji satu kali, bahkan ada yang sampai dua atau tiga kali. Setiap kali pulang dari Tanah Suci, dia membawa cerita tentang pengalaman spiritual, kenangan melihat Ka’bah, dan kebahagiaan bisa beribadah di tempat yang mulia. Namun, di sisi lain, ada anak yatim di sekitar rumahnya yang kesulitan sekolah, ada tetangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan, dan ada keluarga miskin yang membutuhkan bantuan. Lalu muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: bagaimana jika seseorang berkali-kali pergi haji, tetapi tidak pernah peduli kepada anak yatim dan fakir miskin?
Pertanyaan ini sebenarnya bukan untuk menghakimi sah atau tidaknya ibadah haji seseorang. Jika haji dilakukan sesuai syarat dan rukunnya, maka persoalan sah tidaknya ibadah tersebut memiliki pembahasan tersendiri. Yang perlu menjadi bahan renungan adalah apakah ibadah yang dilakukan sudah memberikan pengaruh terhadap akhlak dan kepedulian sosial seseorang.
BACA JUGA: Nabung untuk Pergi Haji atau Tunggu Kaya Dulu?
Islam tidak mengajarkan bahwa kesalehan hanya terlihat dari banyaknya ibadah ritual. Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 177 menjelaskan bahwa kebajikan juga mencakup memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yang membutuhkan, di samping shalat, zakat, menepati janji, serta kesabaran.
Artinya, seseorang tidak seharusnya merasa cukup hanya karena sudah melakukan banyak ibadah pribadi. Ibadah kepada Allah semestinya juga melahirkan kepedulian terhadap manusia. Semakin dekat seseorang kepada Allah, idealnya semakin lembut pula hatinya kepada orang yang lemah, semakin mudah tangannya membantu, dan semakin besar keinginannya meringankan kesulitan orang lain.
Surah Al-Ma’un bahkan memberikan peringatan yang sangat keras tentang orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Surat tersebut juga mengingatkan tentang orang yang lalai dalam shalat dan berbuat riya. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki ibadah yang hanya tampak secara lahiriah, tetapi tidak melahirkan kepedulian dan keikhlasan.
Namun, kita juga harus berhati-hati sebelum mengatakan, “Hajinya sia-sia,” atau “Pahalanya tidak diterima.” Kita tidak mengetahui isi hati seseorang dan tidak memiliki kewenangan untuk memastikan diterima atau tidaknya amal seseorang. Persoalan diterima atau tidaknya ibadah adalah urusan Allah. Yang bisa kita lakukan adalah mengambil pelajaran dan mengingatkan bahwa ibadah seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Lalu bagaimana jika seseorang sudah haji tiga kali? Apakah berarti dia salah karena pergi haji untuk kedua atau ketiga kalinya? Tidak sesederhana itu. Haji memiliki keutamaan yang besar, dan ibadah tambahan pada dasarnya merupakan perkara yang baik apabila dilakukan dengan ikhlas dan tidak mengabaikan kewajiban lain.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda jika seseorang memiliki tanggungan yang wajib ditunaikan atau ada kebutuhan mendesak di sekitarnya, sementara dia justru menghabiskan hartanya untuk perjalanan ibadah tambahan. Misalnya, seseorang memiliki utang yang harus segera dibayar, kebutuhan pokok keluarga belum terpenuhi, atau ada tanggungan wajib lainnya. Dalam kondisi seperti itu, tentu kewajiban yang belum selesai perlu mendapatkan perhatian terlebih dahulu.
Begitu pula dengan zakat. Jika seseorang memiliki harta yang sudah memenuhi syarat wajib zakat, maka zakat tidak boleh digantikan dengan ibadah sunnah lainnya. Jangan sampai seseorang sangat senang membiayai perjalanan ibadah tambahan, tetapi ketika waktunya mengeluarkan zakat justru merasa berat. Sebab, zakat memiliki ketentuan dan penerima yang telah diatur dalam syariat.
Sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin juga merupakan amal yang sangat mulia. Namun, kita perlu membedakan antara zakat yang memiliki aturan khusus dengan sedekah sunnah yang lebih luas. Jika ingin membantu, seseorang bisa menyalurkan bantuan melalui lembaga yang terpercaya atau langsung kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
Bayangkan seseorang yang memiliki kemampuan finansial cukup besar. Dia sudah pernah menunaikan haji, bahkan beberapa kali. Di lingkungan tempat tinggalnya terdapat seorang anak yatim yang harus berhenti sekolah karena tidak mampu membayar kebutuhan pendidikan. Ada pula seorang janda tua yang setiap hari harus berpikir keras untuk membeli makanan. Bukankah keadaan seperti ini seharusnya mengetuk hati orang yang memiliki kemampuan?
Bukan berarti setiap orang yang pernah haji wajib memberikan seluruh hartanya kepada fakir miskin. Bukan pula berarti orang yang belum pernah membantu anak yatim otomatis tidak baik. Tetapi ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, sudah semestinya ada sebagian harta yang digunakan untuk membantu orang lain. Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri.
Yang lebih penting lagi, jangan sampai amal ibadah menjadi ajang mencari status sosial. Haji bukan gelar untuk menunjukkan seseorang lebih tinggi daripada orang lain. Seseorang tidak menjadi lebih mulia hanya karena sudah tiga kali menginjakkan kaki di Tanah Suci jika setelah pulang dia masih suka merendahkan orang miskin, mengabaikan tetangga, atau enggan membantu orang yang membutuhkan.
Kita perlu mengingat bahwa salah satu tujuan ibadah adalah membentuk manusia yang lebih baik. Shalat seharusnya membentuk seseorang agar menjauhi perbuatan keji dan mungkar. Puasa mengajarkan pengendalian diri. Zakat membersihkan harta dan menumbuhkan kepedulian. Begitu pula haji seharusnya memberikan pelajaran tentang ketundukan, kesabaran, persaudaraan, dan pengorbanan.
Karena itu, orang yang sudah berkali-kali haji seharusnya tidak merasa bahwa perjalanan spiritualnya selesai ketika pesawat mendarat di Indonesia. Justru setelah kembali ke rumah, masyarakat bisa melihat apakah ada perubahan dalam dirinya. Apakah dia semakin rendah hati? Apakah dia semakin mudah memaafkan? Apakah dia semakin peduli kepada tetangga? Apakah tangannya semakin ringan membantu orang yang membutuhkan?
Jika jawabannya iya, maka ibadah tersebut telah memberikan pengaruh positif dalam kehidupannya. Tetapi jika setelah berkali-kali menjalankan ibadah seseorang tetap keras hati terhadap orang miskin dan tidak peduli kepada anak yatim, setidaknya itu menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah. Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengejar simbol kesalehan, tetapi lupa pada hakikat kesalehan itu sendiri.
Di sisi lain, masyarakat juga jangan mudah mencela orang yang melakukan haji berulang kali. Bisa jadi orang tersebut memiliki rezeki yang sangat luas dan sudah menunaikan kewajiban zakat, nafkah keluarga, utang, serta berbagai tanggung jawab lainnya. Bisa jadi dia juga banyak bersedekah tetapi tidak pernah menceritakannya kepada orang lain. Kita tidak mengetahui seluruh amal seseorang.
Jangan sampai kita melihat seseorang pergi haji tiga kali lalu langsung berkata, “Daripada haji lagi, lebih baik uangnya diberikan kepada orang miskin.” Pernyataan seperti itu juga perlu hati-hati. Kita tidak mengetahui keadaan finansialnya secara lengkap, dan ibadah haji memiliki hukum serta ketentuan tersendiri. Yang lebih tepat adalah mengingatkan bahwa kemampuan finansial seharusnya juga melahirkan kepedulian sosial.
Bagi orang yang memiliki kemampuan, membantu anak yatim tidak harus menunggu menjadi kaya raya. Memberikan makanan, perlengkapan sekolah, pakaian yang layak, biaya pendidikan, atau sekadar memberikan perhatian juga dapat menjadi bentuk kepedulian. Bahkan membantu seseorang mendapatkan pekerjaan atau meringankan kebutuhan hidupnya bisa menjadi amal yang sangat berarti.
Ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: setelah kita rajin beribadah, apakah orang-orang di sekitar kita ikut merasakan kebaikannya? Jangan sampai kita rajin beribadah di masjid, tetapi tetangga tidak pernah merasakan kepedulian kita. Jangan sampai kita menangis saat berdoa di Tanah Suci, tetapi hati kita kering ketika melihat orang miskin meminta pertolongan.
Pada akhirnya, haji tiga kali bukan sesuatu yang otomatis salah, dan tidak membantu anak yatim bukan alasan bagi kita untuk menghakimi seseorang sebagai ahli maksiat. Tetapi seorang Muslim memang perlu melakukan muhasabah: apakah ibadah kita sudah membentuk hati yang lebih peduli? Sebab Al-Qur’an menggambarkan kebajikan sebagai gabungan antara iman, ibadah, kepedulian kepada sesama, menunaikan kewajiban, dan akhlak yang baik.
BACA JUGA: Ketika Haji Agus Salim Dihina karena Berjenggot
Jadi, kalau seseorang sudah haji tiga kali, jangan berhenti pada pertanyaan, “Berapa kali sudah ke Tanah Suci?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Setelah pulang dari Tanah Suci, berapa banyak orang yang hidupnya menjadi lebih baik karena kebaikan kita?”
Sebab, kesalehan bukan hanya tentang seberapa jauh kaki kita melangkah menuju tempat ibadah, tetapi juga tentang seberapa jauh hati kita tergerak untuk membantu orang yang sedang kesulitan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

