SHALAT tahajud merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Dikerjakan pada malam hari ketika kebanyakan orang sedang tidur, tahajud menjadi salah satu bentuk kedekatan seorang hamba kepada Allah. Banyak orang berlomba-lomba bangun malam untuk melaksanakan shalat, berdoa, beristighfar, dan memohon pertolongan kepada Allah.
Namun, bagaimana jika pada saat yang sama ada orang lain yang sedang benar-benar membutuhkan pertolongan kita? Misalnya, tetangga sedang kelaparan, saudara tidak mempunyai uang untuk membeli obat, atau seseorang datang meminta bantuan karena sedang menghadapi kesulitan hidup. Mana yang seharusnya didahulukan, shalat tahajud atau membantu orang yang kesusahan?
BACA JUGA: Apakah Boleh Melaksanakan Shalat Tahajud tanpa Shalat Witir?
Jawabannya tidak bisa disamaratakan untuk setiap keadaan. Dalam Islam, ada ibadah yang sifatnya sunnah dan ada kewajiban yang harus ditunaikan. Shalat tahajud adalah ibadah sunnah, sedangkan membantu orang yang kesusahan bisa memiliki hukum yang berbeda-beda sesuai kondisi. Jika seseorang berada dalam keadaan darurat dan pertolongan kita sangat dibutuhkan, membantu menyelamatkan atau meringankan kesulitannya dapat menjadi perkara yang sangat utama, bahkan bisa menjadi kewajiban.
Islam tidak mengajarkan seorang muslim hanya sibuk memperbanyak ibadah pribadi, tetapi mengabaikan keadaan manusia di sekitarnya. Al-Qur’an berkali-kali menggandengkan ibadah kepada Allah dengan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, kesalehan tidak hanya terlihat dari panjangnya shalat malam, tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan besarnya keutamaan membantu kebutuhan seorang muslim. Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa siapa yang membantu memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu memenuhi kebutuhannya. Ini menunjukkan bahwa membantu manusia bukan aktivitas duniawi yang terpisah dari ibadah, tetapi dapat menjadi amal yang bernilai tinggi di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Bayangkan seseorang sedang bersiap melaksanakan tahajud, kemudian ia mendengar tetangganya meminta pertolongan karena anaknya sakit dan membutuhkan kendaraan untuk dibawa berobat. Dalam keadaan seperti ini, tidak tepat jika ia berkata, “Saya sedang mau tahajud, jadi tidak bisa membantu.” Tahajud bisa dilakukan pada malam berikutnya, sementara kesempatan untuk menolong orang yang sedang berada dalam keadaan genting mungkin tidak akan datang lagi.
Contoh lain, seseorang sudah terbiasa bangun setiap malam untuk tahajud, tetapi di rumahnya sendiri terdapat orang tua yang sedang membutuhkan bantuan. Jika orang tua tersebut benar-benar membutuhkan pertolongan dan tidak ada orang lain yang dapat menggantikannya, maka memenuhi kebutuhan tersebut harus diperhatikan. Jangan sampai seseorang mengejar amalan sunnah, tetapi mengabaikan kewajiban terhadap orang yang menjadi tanggung jawabnya.
Di sinilah pentingnya memahami prioritas dalam beribadah. Islam tidak hanya mengajarkan banyaknya amal, tetapi juga mengajarkan amal mana yang harus didahulukan. Amalan wajib pada dasarnya lebih utama daripada amalan sunnah. Begitu pula ketika sebuah ibadah sunnah berbenturan dengan kewajiban yang mendesak, kewajiban tersebut harus diprioritaskan.
Akan tetapi, bukan berarti membantu orang lain selalu lebih utama daripada tahajud dalam setiap keadaan. Jika tidak ada orang yang sedang berada dalam kondisi mendesak dan kita memiliki kesempatan untuk membantu setelah tahajud, maka tidak ada masalah menjalankan tahajud terlebih dahulu. Bahkan, seseorang yang rajin tahajud justru seharusnya memiliki hati yang semakin lembut dan semakin peduli kepada orang lain.
Tahajud juga memiliki fungsi penting dalam membentuk pribadi seorang muslim. Ketika seseorang berdiri di hadapan Allah pada malam hari, ia belajar merendahkan diri, mengakui kelemahan, memperbanyak doa, dan memohon ampun. Ibadah seperti ini seharusnya memberikan pengaruh pada kehidupan sosialnya di siang hari.
Jangan sampai tahajud hanya menjadi rutinitas yang membuat seseorang merasa lebih saleh daripada orang lain. Jika setelah tahajud seseorang masih mudah merendahkan tetangga, tidak peduli kepada fakir miskin, enggan membantu saudaranya, atau tega melihat orang lain kesusahan, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam kualitas ibadahnya.
Allah memuji orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap sesama. Dalam Surah Al-Ma’un, Allah memberikan peringatan kepada orang yang mendustakan agama, salah satunya karena tidak mendorong pemberian makanan kepada orang miskin. Ini menjadi pelajaran bahwa hubungan seorang muslim dengan Allah tidak boleh dipisahkan dari kepeduliannya kepada manusia.
Membantu orang yang kesusahan pun tidak selalu harus dengan uang dalam jumlah besar. Memberikan makanan, mengantarkan seseorang ke rumah sakit, membantu pekerjaan orang tua, memberikan informasi pekerjaan, menjadi pendengar bagi orang yang sedang mengalami masalah, atau sekadar membantu seseorang keluar dari kesulitan juga dapat menjadi amal kebaikan.
Bahkan, terkadang seseorang terlalu fokus mencari amal besar sampai melupakan kesempatan berbuat baik yang ada tepat di depan matanya. Ia ingin tahajud setiap malam, ingin sedekah dalam jumlah besar, atau ingin melakukan ibadah sunnah sebanyak-banyaknya, tetapi ketika tetangganya membutuhkan bantuan kecil, ia memilih tidak peduli. Padahal, bisa jadi amal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas justru sangat bernilai di sisi Allah.
Karena itu, pertanyaan “mana yang lebih utama, tahajud atau membantu orang kesusahan?” sebaiknya tidak hanya dijawab dengan memilih salah satunya. Yang lebih tepat adalah melihat kondisi dan prioritasnya. Jika bantuan tersebut bersifat mendesak dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya, maka menolong orang tersebut harus didahulukan daripada tahajud yang hukumnya sunnah.
Sebaliknya, jika tidak ada keadaan mendesak, seseorang tetap dianjurkan menghidupkan malam dengan tahajud dan memperbanyak amal. Setelah itu, ia juga harus berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian, ibadah malamnya tidak berhenti pada sajadah, tetapi menghasilkan kepedulian yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Berapa Jumlah Rakaat Shalat Tahajud yang Dianjurkan?
Pada akhirnya, menjadi muslim yang baik bukan hanya tentang seberapa lama kita berdiri dalam shalat, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain. Tahajud mendekatkan kita kepada Allah, sementara membantu orang yang kesusahan dapat menjadi bukti bahwa kedekatan tersebut melahirkan akhlak dan kepedulian.
Jadi, jangan merasa bahwa menolong orang lain berarti kehilangan kesempatan beribadah. Jika pertolongan kita memang sangat dibutuhkan, bisa jadi itulah kesempatan ibadah yang Allah hadirkan di hadapan kita. Sebab, terkadang pahala besar tidak datang dalam bentuk sajadah dan tasbih, tetapi dalam bentuk seseorang yang sedang membutuhkan uluran tangan kita. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

