Kalau Rezeki Sudah Dijamin, Mengapa Masih Banyak Orang Kelaparan?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

SALAH satu pertanyaan yang sering muncul ketika membahas rezeki dalam Islam adalah: kalau Allah sudah menjamin rezeki setiap makhluk, mengapa masih ada orang yang kelaparan? Mengapa ada anak yang tidak memiliki makanan cukup, keluarga yang kesulitan membeli beras, atau seseorang yang sudah bekerja keras tetapi tetap hidup dalam kekurangan? Bukankah Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati agar kita tidak salah memahami makna “rezeki yang dijamin”. Jaminan rezeki dari Allah bukan berarti setiap manusia pasti hidup berkecukupan, memiliki rumah bagus, saldo besar, dan makanan yang selalu tersedia tanpa harus berusaha. Dalam Islam, rezeki berarti segala sesuatu yang Allah berikan kepada makhluk-Nya, sedangkan jumlah, bentuk, waktu, dan cara datangnya rezeki berbeda-beda.

BACA JUGAKalau Semua Rezeki Sudah Diatur Allah, Mengapa Kita Tetap Harus Bekerja Keras?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada satu pun makhluk di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya. Ayat tersebut bukan berarti setiap manusia tidak akan pernah mengalami kelaparan. Sebaliknya, kehidupan dunia memang menjadi tempat ujian, termasuk melalui kekurangan makanan, harta, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Kelaparan dapat terjadi karena berbagai sebab. Ada orang yang hidup di daerah yang mengalami kekeringan atau bencana alam. Ada keluarga yang kehilangan pekerjaan. Ada anak yang lahir dalam kondisi keluarga sangat miskin. Ada pula masyarakat yang menjadi korban perang, konflik, korupsi, ketidakadilan, atau distribusi sumber daya yang buruk.

Dalam keadaan seperti itu, jangan buru-buru mengatakan, “Kalau rezekinya dijamin Allah, seharusnya dia tidak kelaparan.” Pernyataan tersebut justru menunjukkan pemahaman yang terlalu sederhana tentang takdir. Allah memang berkuasa memberikan makanan kepada siapa saja, tetapi Allah juga menjalankan kehidupan dunia melalui sebab dan akibat. Manusia diberi tanggung jawab untuk bekerja, saling membantu, dan mengelola sumber daya dengan adil.

Contohnya sederhana. Allah menurunkan hujan yang menjadi salah satu sebab tumbuhnya tanaman. Tetapi manusia tetap harus menanam, merawat, memanen, mengolah, dan mendistribusikan hasilnya. Jika seseorang memiliki persediaan makanan berlimpah tetapi memilih menimbunnya sementara tetangganya kelaparan, masalahnya bukan karena Allah tidak menyediakan rezeki, melainkan karena manusia gagal menjalankan amanahnya.

Karena itu, adanya orang kelaparan seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya, “Mengapa Allah tidak memberi mereka makanan?” Kita juga harus bertanya, “Apa yang sudah dilakukan manusia untuk membantu mereka?” Islam mengajarkan kepedulian terhadap fakir miskin dan orang yang membutuhkan. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, memberi makan orang miskin disebut sebagai bagian dari kebaikan yang sangat penting.

Bahkan, salah satu gambaran buruk dalam Al-Qur’an adalah orang yang mendustakan agama karena tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin. Ini menunjukkan bahwa persoalan kelaparan bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah moral dan tanggung jawab sosial.

Ada orang yang mungkin memiliki makanan cukup untuk dirinya sendiri, tetapi tidak peduli ketika tetangganya kelaparan. Ia bisa membeli makanan mahal, membuang makanan yang tersisa, atau menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak penting, sementara di tempat lain ada orang yang tidak tahu bagaimana mendapatkan makanan untuk keluarganya.

Dalam kondisi seperti ini, kita tidak boleh menyalahkan kemiskinan hanya kepada orang miskin. Memang ada kemiskinan yang berkaitan dengan keputusan pribadi, kurangnya keterampilan, atau kegagalan mengelola keuangan. Tetapi ada pula kemiskinan yang disebabkan oleh faktor struktural, kesempatan kerja yang terbatas, bencana, kondisi keluarga, pendidikan, dan keadaan lain yang berada di luar kendali seseorang.

Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk hanya berdoa tanpa usaha. Orang yang kelaparan tetap perlu berusaha mencari makanan jika memiliki kemampuan. Masyarakat juga harus membantu menyediakan jalan keluar. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menciptakan sistem yang memungkinkan masyarakat mendapatkan kebutuhan dasar secara layak.

Di sisi lain, orang yang sedang miskin tidak boleh merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan rezeki dari Allah. Rezeki tidak selalu datang dalam bentuk uang yang langsung berada di tangan. Terkadang rezeki datang melalui orang yang membantu, pekerjaan yang tiba-tiba terbuka, makanan yang diberikan tetangga, atau kesempatan yang sebelumnya tidak disangka.

https://s.shopee.co.id/4fvJLSSCoq

Namun, kalimat “Allah menjamin rezeki” juga tidak boleh digunakan untuk meremehkan penderitaan orang miskin. Sangat tidak tepat jika seseorang berkata kepada orang yang sedang kelaparan, “Tenang saja, rezeki sudah dijamin Allah,” lalu setelah itu tidak melakukan apa-apa. Jika kita memiliki makanan dan melihat orang lain kelaparan, kemampuan kita untuk membantu justru dapat menjadi bagian dari rezeki yang Allah berikan kepada kita.

Artinya, bisa jadi Allah memberikan rezeki kepada seorang miskin melalui tangan orang kaya. Allah memberikan makanan kepada seseorang melalui tetangganya. Allah membantu keluarga yang kesulitan melalui bantuan masyarakat. Dengan demikian, orang yang berkecukupan sebenarnya juga sedang diuji: apakah ia mau menjadi jalan datangnya kebaikan bagi orang lain?

Konsep rezeki dalam Islam juga tidak berarti semua orang akan memiliki jumlah harta yang sama. Allah memberikan sebagian manusia lebih banyak daripada sebagian lainnya. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari ujian. Orang yang kaya diuji dengan hartanya, sedangkan orang yang miskin diuji dengan kesabarannya. Keduanya sama-sama memiliki kesempatan untuk mendapatkan pahala jika menghadapi ujian dengan benar.

Orang kaya tidak boleh merasa bahwa kekayaannya semata-mata hasil kecerdasan dan kerja kerasnya sendiri. Ia perlu menyadari bahwa kesehatan, kesempatan, pendidikan, kemampuan berpikir, lingkungan, dan berbagai peluang yang dimilikinya juga merupakan nikmat dari Allah. Karena itu, harta seharusnya melahirkan rasa syukur dan kepedulian, bukan kesombongan.

Sebaliknya, orang miskin juga tidak boleh kehilangan harapan. Kemiskinan bukan bukti bahwa Allah membenci seseorang. Kekayaan juga bukan bukti otomatis bahwa seseorang lebih mulia di sisi Allah. Kemuliaan manusia tidak ditentukan hanya oleh banyaknya harta, tetapi oleh ketakwaan dan amalnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang sudah bekerja keras tetapi tetap kelaparan? Kita perlu membedakan antara kewajiban berusaha dan hasil usaha. Manusia diperintahkan untuk berikhtiar, tetapi tidak selalu mendapatkan hasil sesuai keinginannya. Ada petani yang sudah bekerja keras tetapi gagal panen. Ada pedagang yang sudah berusaha tetapi dagangannya sepi. Ada pekerja yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan bangkrut.

Dalam kondisi seperti itu, seorang Muslim dianjurkan tetap berusaha dan tidak berputus asa. Tetapi masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk membantu orang yang benar-benar tidak mampu. Islam tidak memerintahkan manusia untuk membiarkan orang miskin kelaparan sambil berkata bahwa semuanya sudah menjadi takdir.

Justru pemahaman tentang takdir seharusnya membuat seseorang semakin tenang sekaligus semakin bertanggung jawab. Kita percaya bahwa Allah mengatur rezeki, tetapi kita juga percaya bahwa Allah memerintahkan kita untuk bekerja, bersedekah, menolong, dan menjaga hak sesama manusia.

Karena itu, pertanyaan “Kalau rezeki sudah dijamin, mengapa masih banyak orang kelaparan?” sebenarnya memiliki jawaban yang lebih luas daripada sekadar persoalan rezeki. Allah memberikan dunia dengan sumber daya yang sangat banyak, tetapi manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya. Ketika terjadi kelaparan, penyebabnya bisa berupa kemiskinan, bencana, konflik, ketidakadilan, kegagalan distribusi, atau ketidakpedulian manusia.

Jangan sampai konsep takdir digunakan untuk membenarkan ketidakpedulian. Ketika melihat orang kelaparan, tugas kita bukan menyelidiki mengapa Allah belum memberinya rezeki, tetapi melihat apakah kita mampu menjadi sebab pertolongan baginya. Bisa jadi makanan yang kita berikan adalah rezeki yang memang Allah takdirkan sampai kepada orang tersebut melalui tangan kita.

Pada akhirnya, rezeki memang berada dalam kekuasaan Allah, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan saling membantu. Orang yang kelaparan membutuhkan makanan nyata, bukan hanya nasihat tentang takdir. Orang miskin membutuhkan kesempatan, pekerjaan, perlindungan, dan kepedulian.

BACA JUGA: Mengapa Kita Sering Lupa Bahwa Tubuh yang Sehat Adalah Rezeki Tak Terhingga?

Maka, jangan memahami “rezeki sudah dijamin” sebagai alasan untuk berhenti bekerja atau berhenti menolong. Sebaliknya, pahamilah bahwa Allah adalah Pemberi rezeki dan manusia diberi amanah untuk mencari rezeki dengan cara halal serta menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.

Bisa jadi rezeki yang Allah jamin untuk seorang manusia datang melalui tangan manusia lainnya. Karena itu, ketika kita memiliki makanan sementara ada orang di sekitar kita yang kelaparan, jangan hanya berkata, “Allah pasti akan memberinya rezeki.” Mungkin saja Allah sedang menguji kita dengan menjadikan kita sebagai jalan datangnya rezeki tersebut. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *