Benarkah Punya Anak di Usia 40 Tahun Itu Terlalu Tua?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

KETIKA seorang perempuan memasuki usia 40 tahun tetapi baru ingin mempunyai anak, sering muncul komentar, “Sudah terlalu tua untuk punya anak.” Ada juga yang mengatakan bahwa kehamilan di usia 40 pasti berbahaya, sulit melahirkan, atau anaknya berisiko mengalami berbagai masalah. Akibat komentar seperti ini, sebagian pasangan akhirnya merasa takut untuk memiliki anak hanya karena usia.

Lalu, benarkah usia 40 tahun sudah terlalu tua untuk mempunyai anak?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Usia 40 tahun memang bukan usia yang paling ideal secara biologis untuk memulai kehamilan, tetapi bukan berarti seseorang sudah terlalu tua atau tidak mungkin mempunyai anak. Banyak perempuan berusia 40 tahun ke atas tetap mengalami kehamilan dan melahirkan bayi yang sehat. Sebuah rumah sakit NHS bahkan mencatat bahwa sebagian besar kehamilan pada perempuan usia 40 tahun ke atas berlangsung dengan baik, meskipun membutuhkan perhatian dan pemantauan tambahan.

BACA JUGA: Sudah Umur 40 Tahun Tapi Belum Bisa Baca Al-Quran, Haruskah Malu?

Kesuburan memang menurun seiring usia

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa usia memang berpengaruh terhadap kesuburan perempuan. Jumlah dan kualitas sel telur menurun seiring bertambahnya usia, dan penurunan kesuburan menjadi lebih nyata setelah pertengahan usia 30-an. Karena itu, peluang untuk hamil secara alami pada usia 40 tahun umumnya lebih rendah dibandingkan ketika masih berusia 20-an atau awal 30-an.

Namun, “lebih sulit hamil” tidak sama dengan “mustahil hamil”. Perempuan berusia 40 tahun masih bisa mengalami ovulasi dan mendapatkan kehamilan secara alami. Bahkan kehamilan tetap mungkin terjadi selama belum memasuki menopause, sehingga usia 40 tahun bukanlah batas otomatis bahwa seseorang sudah tidak dapat mempunyai anak.

Jadi, jangan menyamakan usia 40 dengan akhir dari kesempatan menjadi seorang ibu.

Kehamilan usia 40 memang memiliki risiko lebih tinggi

Meskipun bukan berarti pasti bermasalah, kehamilan pada usia 40 tahun memang memerlukan perhatian lebih. Beberapa komplikasi kehamilan menjadi lebih mungkin terjadi, seperti tekanan darah tinggi dalam kehamilan, diabetes gestasional, masalah pada plasenta, kebutuhan operasi caesar, dan kelainan kromosom tertentu.

Risiko tersebut bukan berarti setiap perempuan berusia 40 tahun akan mengalaminya. Artinya, dokter biasanya akan memberikan perhatian lebih terhadap kondisi ibu dan perkembangan janin dibandingkan pada kehamilan berusia lebih muda.

Karena itu, yang lebih tepat bukan mengatakan “hamil usia 40 itu berbahaya”, tetapi “hamil usia 40 membutuhkan persiapan dan pemantauan yang lebih baik.”

Bagaimana dengan kesehatan anak?

Salah satu kekhawatiran terbesar adalah kondisi bayi. Bertambahnya usia ibu memang berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan terjadinya kelainan kromosom dan keguguran. Karena itu, pemeriksaan kehamilan dan skrining yang sesuai menjadi semakin penting.

Namun sekali lagi, peningkatan risiko bukan berarti kepastian. Seorang perempuan berusia 40 tahun bisa saja menjalani kehamilan dengan baik dan melahirkan anak yang sehat.

Karena itu, jangan menakut-nakuti perempuan dengan mengatakan, “Kalau punya anak umur 40, pasti anaknya bermasalah.” Pernyataan seperti itu tidak tepat secara medis dan justru dapat membuat seseorang mengalami kecemasan yang tidak perlu.

Bagaimana kalau baru menikah di usia 40?

Kondisinya tentu berbeda dengan perempuan yang sudah menikah sejak usia 20-an tetapi baru ingin mempunyai anak pada usia 40. Ada perempuan yang memang baru mendapatkan pasangan pada usia tersebut, ada yang sebelumnya menunda kehamilan karena alasan tertentu, dan ada pula yang sudah lama mencoba tetapi belum berhasil.

Dalam kondisi seperti ini, jangan hanya berdiam diri sambil menunggu. Jika ingin mempunyai anak pada usia 40 tahun, sebaiknya lakukan konsultasi kesehatan sebelum atau sejak awal merencanakan kehamilan.

NHS menyarankan perempuan berusia 36 tahun ke atas untuk mencari bantuan medis lebih awal jika memiliki kekhawatiran mengenai kesuburan, karena penurunan kesuburan semakin cepat pada usia tersebut.

Dengan pemeriksaan yang tepat, pasangan dapat mengetahui kondisi kesehatan reproduksi dan faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi peluang kehamilan.

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Bagaimana dengan laki-laki usia 40 tahun?

Bukan hanya usia perempuan yang perlu diperhatikan. Kesuburan laki-laki juga dapat menurun seiring bertambahnya usia, meskipun penurunannya tidak sekuat pada perempuan. Faktor seperti kualitas sperma, berat badan, kebiasaan merokok, alkohol, penyakit tertentu, dan gaya hidup juga dapat memengaruhi kesuburan.

Jadi, ketika pasangan berusia 40 tahun belum mendapatkan anak, jangan langsung menyalahkan pihak perempuan. Masalah kesuburan dapat berasal dari laki-laki, perempuan, keduanya, atau bahkan tidak ditemukan penyebab yang jelas.

Kesuburan adalah persoalan pasangan, bukan semata-mata persoalan perempuan.

Jangan merasa kalah hanya karena usia

Ada perempuan yang merasa minder ketika melihat teman-temannya sudah memiliki anak remaja, sementara dirinya baru merencanakan kehamilan pada usia 40 tahun. Perasaan seperti itu sebenarnya tidak perlu dipelihara.

Setiap keluarga memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang menikah muda, ada yang menikah lebih lambat, ada yang cepat mempunyai anak, dan ada yang harus menunggu bertahun-tahun.

Yang penting adalah bagaimana seseorang menjalani kesempatan yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya.

Usia memang tidak bisa dihentikan. Tetapi menjaga kesehatan, memperbaiki pola hidup, melakukan pemeriksaan medis, dan mempersiapkan kehamilan dengan baik masih bisa dilakukan.

Usia 40 bukan alasan untuk ceroboh

Namun, jangan sampai artikel seperti ini membuat orang berpikir bahwa usia tidak penting sama sekali. Justru karena usia 40 memiliki beberapa risiko yang lebih tinggi, pasangan harus lebih serius dalam mempersiapkan kehamilan.

Perhatikan berat badan, pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, obat-obatan yang dikonsumsi, serta penyakit yang sudah ada. Jika sedang merencanakan kehamilan, konsultasikan kondisi kesehatan dengan dokter agar faktor risiko dapat dinilai sejak awal.

Kehamilan pada usia 40 bukan waktunya mengikuti mitos dari media sosial. Lebih baik mengambil keputusan berdasarkan pemeriksaan dan nasihat tenaga kesehatan.

Dari sisi agama, apakah terlambat?

Dari sisi agama, tidak ada larangan seseorang mempunyai anak pada usia 40 tahun. Anak adalah karunia Allah, dan seseorang tidak boleh menganggap dirinya gagal hanya karena belum dikaruniai keturunan ketika masih muda.

Islam juga tidak mengajarkan manusia untuk mencela pasangan yang terlambat memiliki anak. Justru seorang Muslim dianjurkan untuk berikhtiar, berdoa, dan menerima ketetapan Allah dengan sabar.

Nabi Zakariya عليه السلام sendiri memohon keturunan kepada Allah ketika sudah berada pada usia lanjut. Kisah tersebut menunjukkan bahwa keinginan mempunyai keturunan bukan sesuatu yang hanya pantas dimiliki oleh orang-orang yang masih muda.

Tentu saja, kisah tersebut tidak boleh dijadikan jaminan bahwa setiap orang yang berusia 40 tahun pasti akan mempunyai anak. Tetapi ia memberikan pelajaran bahwa jangan mudah berputus asa dari rahmat Allah.

Jadi, apakah punya anak di usia 40 terlalu tua?

Tidak. Usia 40 tahun bukan berarti terlalu tua untuk mempunyai anak. Namun, secara medis, kehamilan pada usia tersebut memang memiliki tantangan lebih besar dibandingkan usia yang lebih muda, terutama terkait kesuburan dan beberapa risiko kehamilan.

Karena itu, jangan berkata kepada perempuan berusia 40 tahun, “Sudah tua, tidak usah berharap punya anak.” Tetapi jangan pula mengatakan, “Umur tidak penting, pasti semuanya aman.”

BACA JUGA: Sudah Usia 40 Tahun tapi Tidak Pernah Shalat 5 Waktu, Bagaimana?

Sikap yang lebih bijak adalah: berharap kepada Allah, tetapi tetap melakukan ikhtiar medis dengan serius.

Jika seorang pasangan berusia 40 tahun ingin mempunyai anak, tidak perlu malu untuk berkonsultasi dengan dokter. Tidak perlu pula merasa rendah diri hanya karena baru mendapatkan kesempatan menjadi orang tua pada usia tersebut.

Sebab menjadi orang tua bukan perlombaan siapa yang paling cepat.

Yang penting bukan apakah seseorang menjadi ayah atau ibu pada usia 25, 30, atau 40 tahun, tetapi apakah ketika amanah itu datang ia siap menjaganya dengan penuh tanggung jawab. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *