ADA orang yang bertahun-tahun menabung demi bisa berangkat haji. Setiap menerima penghasilan, sebagian uang langsung disisihkan. Pengeluaran dikurangi, keinginan ditahan, bahkan ada yang rela hidup sederhana agar impian menjadi tamu Allah di Tanah Suci bisa terwujud.
Namun, di sisi lain, orang tersebut hampir tidak pernah bersedekah.
Ketika ada tetangga membutuhkan bantuan, ia berkata, “Maaf, saya sedang menabung untuk haji.” Ketika ada kerabat kesulitan, ia kembali menahan diri karena khawatir tabungannya berkurang. Bahkan untuk memberikan uang kepada fakir miskin pun terasa berat karena semua uang sudah memiliki tujuan.
Lalu muncul pertanyaan: bolehkah seorang Muslim menabung untuk haji tetapi tidak pernah bersedekah? Apakah menabung untuk haji lebih utama daripada membantu orang yang sedang membutuhkan?
Jawabannya perlu dilihat dengan lebih hati-hati. Sebab haji merupakan ibadah yang sangat agung, tetapi sedekah juga memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam.
BACA JUGA: Hukum Menarik Kembali Sedekah
Menabung untuk Haji pada dasarnya Boleh
Tidak ada larangan bagi seorang Muslim menabung agar suatu hari mampu melaksanakan ibadah haji.
Justru haji merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang telah memiliki kemampuan. Allah berfirman bahwa mengerjakan haji ke Baitullah merupakan kewajiban bagi manusia yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.
Karena itu, seseorang yang belum memiliki biaya haji boleh merencanakan keuangannya, mengurangi pengeluaran yang tidak penting, kemudian menyisihkan penghasilannya secara rutin.
Menabung bukan berarti seseorang tidak bertawakal kepada Allah.
Ikhtiar mengumpulkan biaya perjalanan justru merupakan bagian dari usaha untuk mewujudkan kemampuan melaksanakan ibadah haji.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: jangan sampai keinginan menunaikan haji membuat seseorang melupakan kewajiban dan hak orang lain.
Haji Itu Wajib, Sedekah Itu Sunnah—Tetapi Bukan Berarti Sederhana
Dalam kondisi tertentu, haji memang merupakan kewajiban bagi orang yang sudah mampu. Sementara sedekah sunnah pada dasarnya merupakan amalan yang dianjurkan, bukan kewajiban.
Karena itu, seseorang yang sedang berusaha mengumpulkan biaya untuk haji tidak bisa begitu saja dianggap salah hanya karena tidak banyak bersedekah.
Apalagi jika penghasilannya terbatas.
Misalnya seseorang memiliki penghasilan pas-pasan. Setiap bulan ia menyisihkan sejumlah uang untuk biaya haji. Setelah memenuhi kebutuhan pokok keluarga, membayar kewajiban, dan menyisihkan sedikit untuk tabungan, tidak banyak lagi yang tersisa.
Dalam keadaan seperti ini, jangan mudah menghakimi.
Tetapi berbeda persoalannya jika seseorang sebenarnya mampu bersedekah, tetapi hatinya begitu berat mengeluarkan sedikit hartanya karena terlalu terobsesi mengumpulkan uang untuk dirinya sendiri.
Jangan Sampai Menabung Haji Mengabaikan Kewajiban
Ini bagian yang sangat penting.
Menabung untuk haji tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban finansial yang lain.
Seorang suami tidak boleh berkata, “Saya sedang menabung untuk haji,” lalu mengurangi nafkah yang menjadi hak istri dan anak.
Seseorang juga tidak boleh menahan pembayaran utang kepada orang lain hanya karena ingin mempercepat tabungan hajinya.
Begitu pula seseorang tidak boleh mengabaikan zakat ketika hartanya sudah memenuhi syarat wajib zakat.
Haji adalah ibadah. Tetapi Islam tidak mengajarkan seseorang mengejar satu ibadah dengan mengorbankan kewajiban yang lain.
Jika masih memiliki utang yang jatuh tempo dan mampu membayarnya, jangan sampai uang tersebut justru dipakai untuk mengejar target ibadah sunnah atau perjalanan yang belum menjadi kewajiban.
Prioritas dalam agama harus diperhatikan.
Bagaimana Jika Ada Orang Miskin di Sekitar Kita?
Bayangkan seseorang sedang menabung untuk haji. Tabungannya sudah cukup banyak.
Kemudian ia mengetahui tetangganya sedang kesulitan membeli makanan. Ada keluarga yang kesulitan membayar biaya pengobatan. Ada saudara yang kehilangan pekerjaan dan membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Apakah ia harus menghabiskan seluruh tabungan hajinya?
Tidak sesederhana itu.
Islam tidak memerintahkan seseorang memberikan seluruh hartanya sampai dirinya sendiri kesulitan. Tetapi jika ada kebutuhan mendesak di sekitar kita dan kita mampu membantu, tentu sangat baik untuk memberikan pertolongan.
Apalagi jika orang yang membutuhkan tersebut adalah orang tua, saudara dekat, tetangga, atau seseorang yang memang berada dalam tanggungan kita.
Jangan sampai seseorang begitu bersemangat menjadi “tamu Allah” tetapi tidak peduli dengan manusia yang sedang membutuhkan pertolongan di depan rumahnya.
Sedekah Tidak Harus Membuat Tabungan Haji Berhenti
Kesalahpahaman yang sering muncul adalah seolah-olah seseorang harus memilih salah satu: haji atau sedekah.
Padahal tidak demikian. Keduanya bisa berjalan bersama.
Misalnya setiap bulan seseorang menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan haji. Sebagian untuk kebutuhan keluarga. Sebagian untuk kewajiban lainnya. Dan sebagian kecil untuk sedekah.
Jumlah sedekah tidak harus besar.
Sedekah Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, atau memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan tetap merupakan bentuk kebaikan.
Yang penting dilakukan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan.
Jangan meremehkan sedekah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Jangan Menganggap Sedekah Membuat Rezeki Berkurang
Sebagian orang sangat takut uangnya berkurang ketika bersedekah.
“Kalau saya sering sedekah, nanti tabungan haji tidak cukup.”
Padahal seorang Muslim harus meyakini bahwa harta bukan semata-mata hasil kekuatan dirinya sendiri. Rezeki datang dari Allah, sedangkan manusia diperintahkan untuk berusaha dan menggunakan harta dengan cara yang benar.
Allah bahkan menjanjikan bahwa apa yang dibelanjakan di jalan-Nya tidak akan sia-sia.
Namun, janji tersebut bukan berarti seseorang boleh bersedekah tanpa perhitungan sampai kebutuhan wajibnya terbengkalai.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Bersedekah, tetapi tetap bertanggung jawab terhadap keluarga. Menabung untuk haji, tetapi tidak melupakan orang yang membutuhkan. Mengejar akhirat, tetapi tetap menjalankan kewajiban di dunia.
Bagaimana Jika Sedekah Membuat Haji Tertunda?
Misalnya seseorang sudah mengumpulkan uang untuk haji, kemudian ia menyisihkan sebagian untuk membantu orang lain sehingga keberangkatannya harus tertunda.
Apakah ia berdosa?
Tidak otomatis demikian.
Jika biaya haji belum mencapai jumlah yang membuatnya benar-benar mampu atau masih ada kebutuhan wajib yang harus diselesaikan, maka menunda keberangkatan bukanlah sesuatu yang tercela.
Haji diwajibkan bagi orang yang mampu.
Kemampuan bukan hanya soal memiliki sejumlah uang, tetapi juga harus dilihat dari keadaan dan tanggung jawab yang dimiliki seseorang.
Karena itu, jangan merasa bersalah jika harus menunda rencana haji karena menyelesaikan kewajiban yang lebih mendesak.
Jangan Pula Sedekah Dijadikan Alasan Menunda Haji Selamanya
Sebaliknya, ada pula orang yang sudah memiliki kemampuan untuk berhaji tetapi terus-menerus mengatakan, “Uangnya lebih baik untuk sedekah.”
Sedekah memang mulia. Membantu fakir miskin juga sangat dianjurkan.
Tetapi jangan sampai seseorang menggunakan alasan tersebut untuk menghindari kewajiban haji yang sudah menjadi tanggungannya.
Jika seseorang telah memenuhi syarat kemampuan untuk berhaji, maka ia perlu mempertimbangkan kewajiban tersebut dengan serius.
Islam tidak mengajarkan memilih ibadah yang kita sukai lalu meninggalkan ibadah yang diwajibkan.
Bagaimana dengan Orang yang Sama Sekali Tidak Pernah Sedekah?
Kalau maksudnya seseorang tidak pernah melakukan sedekah sunnah, hal tersebut tidak otomatis membuat tabungan hajinya haram.
Tetapi jika seseorang tidak pernah bersedekah karena sifat kikir, tidak peduli terhadap orang miskin, dan hatinya hanya terpaut pada mengumpulkan harta, maka kondisi tersebut patut menjadi bahan introspeksi.
Sebab tujuan ibadah bukan hanya mengumpulkan simbol-simbol kesalehan.
Seseorang bisa saja memiliki impian pergi ke Tanah Suci, tetapi jangan sampai perjalanan tersebut hanya menjadi pencapaian pribadi sementara hatinya tetap keras terhadap penderitaan orang lain.
Haji seharusnya membawa perubahan dalam diri seseorang.
Haji dan Sedekah Sama-Sama Jalan Menuju Allah
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan “mana yang lebih keren, haji atau sedekah?”
Keduanya memiliki tempat masing-masing.
Jika belum mampu berhaji, seseorang boleh menabung secara bertahap. Jangan merasa rendah hanya karena belum pernah ke Tanah Suci.
Jika sudah mampu berhaji, jangan menunda tanpa alasan yang benar.
Dan dalam proses menabung tersebut, jangan tutup mata terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Sisihkan sesuatu sesuai kemampuan.
Mungkin uang yang kita keluarkan hari ini untuk membantu seorang ibu membeli makanan tidak terlihat besar. Mungkin nominalnya bahkan membuat target tabungan haji mundur sedikit.
Tetapi jangan pernah menganggap kebaikan itu sia-sia.
Yang perlu dijaga adalah keseimbangan: jangan meninggalkan kewajiban demi sedekah sunnah, tetapi jangan pula menjadikan rencana haji sebagai alasan untuk tidak peduli kepada sesama.
BACA JUGA: Gimana Sih Ceritanya Sedekah Ga Mengurangi Rezeki?
Sebab menjadi tamu Allah di Tanah Suci memang sebuah impian besar.
Tetapi sebelum sampai ke sana, bukankah kita juga perlu belajar menjadi hamba Allah yang peduli kepada manusia?
Maka, kalau saat ini kita sedang menabung untuk haji, teruskan ikhtiar tersebut. Namun, jangan lupa sisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah, meskipun sedikit.
Karena boleh jadi, bukan hanya uang tabungan yang mengantarkan kita menuju Baitullah, tetapi juga sedekah kecil yang kita keluarkan dengan ikhlas ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

