Saat Punya Uang Dianggap Saudara, Tapi saat Miskin Tidak Dipedulikan?

Yudi
By Yudi
12 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHKAH seseorang merasa begitu dekat dengan banyak orang ketika hidupnya berkecukupan? Saat punya uang, telepon tidak pernah sepi. Saudara datang berkunjung, teman mengajak berkumpul, tetangga mudah meminta bantuan. Ketika ada acara, namanya selalu disebut. Ketika ada kebutuhan, banyak orang tiba-tiba mengingat bahwa dirinya masih keluarga.

Namun keadaan bisa berubah ketika uang mulai habis.

Usaha bangkrut. Pekerjaan hilang. Tabungan menipis. Rumah tidak lagi semewah dulu. Kendaraan yang dahulu sering digunakan untuk mengantar orang lain mulai dijual untuk memenuhi kebutuhan.

Anehnya, orang-orang yang dulu begitu dekat perlahan menghilang.

Telepon semakin jarang. Undangan semakin sedikit. Ketika meminta bantuan, tidak banyak yang menjawab. Bahkan ada yang seolah-olah tidak mengenal lagi.

Pada saat seperti itu, seseorang mungkin bertanya dalam hati, “Apakah selama ini mereka menyayangiku karena diriku, atau karena hartaku?”

Pertanyaan tersebut memang menyakitkan.

Tetapi dalam Islam, pengalaman seperti ini justru bisa menjadi pelajaran penting tentang ketulusan, persaudaraan, dan cara kita memandang manusia.

BACA JUGA: Saudara Pinjam Uang, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Jangan Mengukur Harga Diri dari Banyaknya Harta

Salah satu kesalahan manusia adalah mengukur nilai seseorang berdasarkan kekayaannya.

Ketika seseorang punya rumah besar, mobil bagus, pekerjaan bergengsi, atau bisnis yang berkembang, ia lebih mudah dihormati.

Sebaliknya, ketika ekonominya jatuh, penghormatan yang diterimanya bisa ikut berkurang.

Padahal dalam pandangan Allah, ukuran kemuliaan bukanlah saldo rekening, kendaraan, rumah, jabatan, atau pakaian.

Allah berfirman bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.

Artinya, seseorang tidak menjadi hina hanya karena miskin.

Kemiskinan tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang gagal di hadapan Allah. Begitu pula kekayaan tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih mulia.

Harta hanyalah salah satu bentuk ujian.

Orang kaya diuji dengan hartanya. Orang miskin diuji dengan kesabarannya. Orang yang memiliki kedudukan diuji dengan kekuasaannya. Dan orang yang memiliki kemampuan diuji dengan bagaimana ia memperlakukan mereka yang berada di bawahnya.

Ketika Kaya, Banyak Orang Datang

Kenyataan bahwa orang kaya lebih mudah mendapatkan perhatian bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru.

Orang yang memiliki kemampuan finansial biasanya lebih mudah membantu orang lain. Ketika ada saudara membutuhkan uang, ia bisa menolong. Ketika ada acara keluarga, ia mungkin menjadi salah satu orang yang paling banyak berkontribusi.

Akibatnya, keberadaannya terasa penting.

Namun masalah muncul ketika hubungan tersebut hanya berjalan satu arah.

Selama ia memberi, orang-orang mendekat.

Ketika ia tidak mampu lagi memberi, hubungan ikut menghilang.

Jika hal ini terjadi, tentu menyakitkan. Tetapi jangan sampai pengalaman tersebut membuat kita menyimpulkan bahwa semua manusia seperti itu.

Masih banyak orang yang tulus.

Masih ada saudara yang tetap datang meskipun kita tidak memiliki apa-apa. Masih ada teman yang mau mendengarkan keluhan tanpa meminta imbalan. Masih ada tetangga yang membantu tanpa bertanya berapa banyak uang yang kita punya.

Orang-orang seperti inilah yang layak dihargai.

Jangan Membalas dengan Membenci Semua Orang

Ketika merasa dimanfaatkan, seseorang bisa berubah menjadi sangat sinis.

“Tidak ada orang yang benar-benar tulus.”

“Semua orang hanya mendekati orang kaya.”

“Kalau nanti saya kaya lagi, saya tidak akan membantu siapa pun.”

Hati-hati.

Jangan sampai pengalaman buruk membuat kita menjadi orang yang buruk pula.

Jika pernah dimanfaatkan, kita boleh belajar lebih berhati-hati. Kita boleh menentukan batas dalam membantu. Kita boleh mengatakan tidak ketika memang tidak mampu.

Tetapi jangan membalas ketidakpedulian dengan kebencian kepada semua manusia.

Islam mengajarkan kita untuk tetap menjaga akhlak meskipun pernah disakiti.

Kemiskinan Bukan Aib

Ada orang yang ketika ekonominya jatuh justru merasa malu bertemu keluarga.

Dulu datang menggunakan mobil.

Sekarang datang menggunakan kendaraan sederhana.

Dulu bisa mentraktir.

Sekarang membeli makanan saja harus menghitung uang.

Akibatnya, ia memilih menjauh.

Padahal tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa hina hanya karena sedang miskin.

Kondisi ekonomi seseorang bisa berubah dengan sangat cepat.

Hari ini berkecukupan, besok bisa kehilangan pekerjaan.

Hari ini memiliki bisnis besar, beberapa bulan kemudian bisa bangkrut.

Hari ini memiliki banyak tabungan, suatu musibah bisa menghabiskannya.

Karena itu, jangan sombong ketika kaya dan jangan merasa hina ketika miskin.

Keduanya adalah kondisi yang bisa berubah.

Justru Saat Susah Kita Bisa Mengetahui Siapa yang Tulus

Ada hikmah yang sering baru terasa ketika kita mengalami kesulitan.

Saat kaya, kita mungkin tidak tahu siapa yang benar-benar menyayangi kita.

Sebab banyak orang datang.

Namun ketika kita jatuh, orang-orang mulai pergi.

Pada saat itulah kita bisa melihat siapa yang tetap bertahan.

Mungkin hanya satu atau dua orang.

Tetapi satu orang yang tetap menemani ketika kita tidak punya apa-apa bisa jauh lebih berharga daripada seratus orang yang datang ketika kita sedang berjaya.

Karena itu, jangan hanya mengingat orang yang meninggalkan kita.

Ingat juga orang yang tetap ada.

Jaga hubungan dengan mereka.

Doakan mereka.

Hargai kebaikan mereka.

Bagaimana dengan Saudara yang Hanya Datang Saat Butuh?

Ini persoalan yang sering terjadi dalam keluarga.

Ketika kita kaya, saudara datang dan meminta bantuan.

Kita bantu.

Ketika kita jatuh miskin, mereka tidak peduli.

Apa yang harus dilakukan?

Pertama, jangan langsung memutus hubungan kekeluargaan.

Hubungan silaturahmi tetap memiliki nilai yang besar.

Namun mempertahankan silaturahmi tidak berarti kita harus terus-menerus membiarkan diri dimanfaatkan.

Jika tidak mampu membantu secara finansial, katakan dengan baik.

“Maaf, sekarang saya belum mampu membantu dengan uang. Kondisi saya juga sedang sulit.”

Kalimat sederhana seperti itu lebih baik daripada memaksakan diri berutang hanya demi mempertahankan citra sebagai orang yang selalu mampu membantu.

https://s.shopee.co.id/60QNjLAHyP

Jangan Berutang Demi Terlihat Kaya

Ada orang yang sebenarnya sudah kesulitan, tetapi masih ingin terlihat mampu.

Ketika keluarga meminta uang, ia meminjam.

Ketika teman mengajak makan, ia tetap membayar meskipun tidak punya cukup uang.

Ketika ada acara, ia memaksakan diri mengeluarkan biaya besar.

Semua dilakukan karena takut dianggap miskin.

Padahal Islam tidak memerintahkan kita mempertahankan gengsi dengan cara yang merusak diri sendiri.

Tidak masalah mengatakan, “Saya sedang tidak punya uang.”

Tidak masalah hidup sederhana.

Tidak masalah menggunakan kendaraan lama.

Tidak masalah tinggal di rumah sederhana.

Yang berbahaya justru ketika seseorang rela mengambil jalan yang haram hanya demi mempertahankan penampilan di hadapan manusia.

Jangan Pula Mengingatkan Semua Bantuan yang Pernah Diberikan

Orang yang pernah membantu keluarga ketika kaya terkadang merasa sakit hati ketika sekarang tidak dibantu.

Kemudian ia berkata:

“Dulu siapa yang membantu mereka?”

“Dulu ketika mereka susah, saya yang menolong.”

“Sekarang ketika saya susah, mereka pura-pura tidak kenal.”

Perasaan kecewa itu manusiawi.

Namun, jika kita pernah membantu karena mengharap pahala Allah, jangan jadikan bantuan tersebut sebagai senjata untuk menyakiti orang lain.

Kebaikan yang kita lakukan karena Allah tidak perlu selalu dibayar oleh manusia.

Kalau mereka lupa, Allah tidak lupa.

Kalau mereka tidak menghargai, Allah mengetahui.

Kalau manusia tidak membalas, bukan berarti kebaikan kita hilang.

Kekayaan dan Kemiskinan Sama-Sama Ujian

Kita sering menganggap kemiskinan sebagai ujian dan kekayaan sebagai keberuntungan.

Padahal keduanya sama-sama ujian.

Orang miskin diuji: apakah ia sabar dan tetap mencari rezeki halal?

Orang kaya diuji: apakah ia bersyukur dan mau berbagi?

Orang miskin diuji ketika melihat orang lain memiliki lebih banyak.

Orang kaya diuji ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.

Karena itu, jangan iri kepada orang kaya dan jangan merendahkan orang miskin.

Sebab kita tidak pernah tahu kondisi seseorang di hadapan Allah.

Bisa jadi seseorang yang miskin justru jauh lebih mulia karena kesabaran dan ketakwaannya.

Sebaliknya, bisa jadi orang yang sangat kaya justru gagal dalam ujian hartanya.

Jika Sekarang Sedang Miskin, Jangan Putus Asa

Jika Anda sedang mengalami masa sulit, jangan menganggap kehidupan sudah berakhir.

Kondisi ekonomi bisa berubah.

Teruslah mencari rezeki yang halal.

Belajar.

Berusaha.

Berdoa.

Kurangi pengeluaran yang tidak perlu.

Jangan malu memulai dari bawah.

Jika dahulu memiliki bisnis besar, kemudian sekarang harus bekerja sederhana, tidak perlu merasa hina.

Pekerjaan halal tetap mulia.

Yang penting jangan menyerah dan jangan mengambil jalan haram karena ingin cepat kaya kembali.

Mungkin Allah sedang mengajarkan sesuatu yang tidak bisa dipelajari ketika kita sedang berada di atas.

Jika Suatu Hari Kembali Kaya, Ingat Masa Ketika Susah

Ini juga penting.

Jika suatu hari kondisi ekonomi kita kembali membaik, jangan berubah menjadi orang yang dahulu kita benci.

Jangan berkata:

“Dulu ketika saya miskin mereka tidak peduli. Sekarang saya kaya, saya juga tidak akan peduli.”

Justru jadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran.

Jika dahulu kita tahu betapa sakitnya diabaikan ketika tidak punya uang, jangan lakukan hal yang sama kepada orang lain.

Jika ada saudara yang sedang jatuh, bantu sesuai kemampuan.

Jika ada teman yang kehilangan pekerjaan, jangan menjauhinya hanya karena ia tidak lagi bisa memberikan manfaat kepada kita.

Jadilah orang yang tetap menghargai manusia ketika mereka tidak memiliki apa-apa.

Persaudaraan Sejati Tidak Seharusnya Berdiri di Atas Harta

Pada akhirnya, kita harus belajar membedakan antara orang yang menyukai kita dan orang yang menyukai apa yang kita miliki.

Orang yang hanya datang ketika kita punya uang mungkin memang ada.

Tetapi jangan sampai keberadaan mereka membuat kita kehilangan harapan kepada manusia.

Carilah dan jagalah orang-orang yang tetap hadir ketika kita tidak memiliki apa-apa.

Sebab pada saat kita jatuh, kita tidak membutuhkan seratus orang yang mengatakan, “Saya saudaramu.”

Kita membutuhkan satu orang yang benar-benar datang dan berkata:

“Tidak apa-apa. Kita hadapi bersama.”

Dan jika hari ini kita sedang berada di posisi yang sulit, jangan merasa bahwa diri kita sudah tidak berharga.

Nilai manusia tidak ditentukan oleh isi dompetnya.

Uang bisa habis.

Rumah bisa dijual.

Mobil bisa hilang.

Bisnis bisa bangkrut.

Jabatan bisa berakhir.

BACA JUGA: Saudaraku, Apa yang Menghalangimu untuk Shalat Malam?

Tetapi ketakwaan, akhlak, dan amal kebaikan adalah bekal yang jauh lebih bernilai.

Maka, jika pernah dianggap saudara ketika kaya tetapi dilupakan ketika miskin, jangan biarkan pengalaman itu menghancurkan hati.

Ambil pelajarannya.

Ketahui siapa yang tulus.

Belajar menetapkan batas.

Tetap jaga silaturahmi.

Dan yang paling penting, jangan pernah merasa bahwa Allah meninggalkan kita hanya karena manusia pergi.

Bisa jadi ketika satu per satu manusia menjauh, Allah justru sedang mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan harga diri dan kebahagiaan kepada manusia. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *