MENABUNG adalah kebiasaan yang baik. Dengan menabung, kita belajar mengatur keuangan. Kita juga bisa mempersiapkan kebutuhan di masa depan. Namun, bagaimana jika seseorang rajin menabung tetapi tidak pernah bersedekah?
Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam?
Jawabannya perlu dilihat dari tujuan dan cara seseorang mengelola hartanya. Islam tidak melarang umatnya memiliki harta dan menabung. Tetapi, Islam juga mengajarkan agar harta tidak hanya dinikmati sendiri.
Menabung Bukan Sesuatu yang Dilarang
Islam tidak mengajarkan kita untuk menjadi miskin. Memiliki harta bukan sebuah kesalahan. Yang penting adalah bagaimana harta tersebut diperoleh dan digunakan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Furqan ayat 67 bahwa orang-orang yang baik dalam membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir.
Artinya, seorang Muslim perlu memiliki keseimbangan.
Menabung untuk kebutuhan masa depan tentu boleh. Misalnya untuk biaya pendidikan, kebutuhan keluarga, membeli rumah, biaya kesehatan, atau menghadapi keadaan darurat.
BACA JUGA: Bolehkah Sedekah atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?
Menabung juga dapat menjadi bentuk perencanaan.
Nabi Muhammad saw. mengajarkan pentingnya mempersiapkan kebutuhan keluarga. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda bahwa meninggalkan ahli waris dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan membutuhkan kepada orang lain.
Jadi, menabung bukan berarti tidak percaya kepada rezeki Allah.
Tetapi Jangan Sampai Menjadi Pelit
Masalahnya bukan pada kegiatan menabung.
Masalah muncul ketika seseorang terlalu mencintai hartanya. Ia menjadi sulit berbagi. Bahkan ketika ada orang lain yang benar-benar membutuhkan, ia tetap tidak mau membantu.
Allah Swt. mengingatkan dalam QS. Ali Imran ayat 92:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Ayat ini mengajarkan bahwa harta juga memiliki fungsi sosial.
Kita tidak hidup sendirian. Ada keluarga. Ada tetangga. Ada orang miskin. Ada anak yatim. Ada orang yang sedang mengalami kesulitan.
Sedekah menjadi salah satu cara untuk membantu mereka.
Sedekah Tidak Harus Membuat Kita Miskin
Sebagian orang mungkin berpikir, “Kalau uang saya disedekahkan, tabungan saya akan berkurang.”
Padahal, sedekah tidak harus dalam jumlah besar.
Seribu rupiah pun bisa menjadi sedekah. Sepuluh ribu rupiah juga bisa. Yang penting adalah keikhlasan dan kemampuan kita.
Rasulullah saw. bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Hadis ini memberikan motivasi kepada umat Islam agar tidak takut berbagi.
Secara sosial, kebiasaan bersedekah juga dapat menumbuhkan rasa empati. Kita belajar melihat kehidupan bukan hanya dari kebutuhan diri sendiri.
Bagaimana Kalau Tidak Pernah Bersedekah?
Jika seseorang tidak pernah bersedekah, tetapi memang belum memiliki kemampuan, tentu kondisinya berbeda.
Islam tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.
Namun, jika seseorang sebenarnya mampu, memiliki kelebihan harta, tetapi sengaja tidak pernah mau berbagi karena terlalu mencintai hartanya, maka sikap tersebut perlu diperbaiki.
Apalagi jika hartanya sudah mencapai nisab dan memenuhi syarat zakat.
Zakat berbeda dengan sedekah.
Zakat merupakan kewajiban bagi orang yang memenuhi syarat. Sedangkan sedekah pada dasarnya merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan.
Karena itu, jangan sampai seseorang merasa sudah cukup hanya dengan menabung, tetapi melupakan kewajiban zakat dan mengabaikan kesempatan bersedekah.
Menabung Boleh, Berbagi Jangan Dilupakan
Menabung dan bersedekah sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Sisihkan sebagian penghasilan untuk kebutuhan masa depan. Sisihkan juga sebagian untuk membantu orang lain.
Tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah.
Mulailah dari jumlah kecil. Lakukan secara rutin. Misalnya setiap mendapatkan penghasilan, langsung pisahkan sebagian untuk sedekah.
Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus lebih mudah dijaga.
BACA JUGA: Mengapa Harus Bersedekah dalam Berbisnis?
Harta Adalah Titipan
Pada akhirnya, harta bukanlah milik kita secara mutlak.
Harta adalah amanah dari Allah Swt.
Kita akan ditanya dari mana harta diperoleh dan untuk apa digunakan.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak yang bisa saya kumpulkan?”
Tetapi tanyakan juga, “Berapa banyak manfaat yang bisa saya berikan?”
Menabung mengajarkan kita tentang masa depan.
Sedekah mengajarkan kita tentang kepedulian.
Keduanya bisa menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Kesimpulannya
Jadi, boleh saja menabung. Tetapi jangan sampai karena terlalu fokus menabung, kita lupa bersedekah, membantu sesama, dan menunaikan zakat ketika sudah wajib.
Sebab harta yang baik bukan hanya harta yang banyak.
Tetapi harta yang diperoleh dengan cara halal, dikelola dengan bijak, dan memberikan manfaat bagi diri sendiri serta orang lain. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

