HIDUP bertetangga tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya kita memiliki tetangga yang sederhana dan rendah hati, tetapi ada pula yang gemar menunjukkan kekayaan, mulai dari mobil baru, rumah yang semakin besar, barang mahal, hingga liburan ke berbagai tempat. Jika dilakukan berulang kali, perilaku seperti ini bisa membuat orang lain merasa terganggu, minder, iri, atau bahkan kesal.
Lalu, apakah merasa kesal kepada tetangga yang suka pamer kekayaan termasuk dosa? Perasaan yang muncul secara spontan di dalam hati pada dasarnya tidak selalu menjadi dosa, karena manusia memang bisa merasakan senang, sedih, kecewa, atau kesal. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menyikapi perasaan tersebut dan apakah rasa kesal itu kemudian mendorong kita melakukan sesuatu yang dilarang agama.
BACA JUGA: Hati Panas dan Kesal Saat Tetangga Beli Mobil Baru, Bagaimana?
Dalam Islam, seseorang tidak boleh membenci orang lain hanya karena Allah memberikan rezeki yang lebih banyak kepadanya. Bisa jadi tetangga tersebut memang memiliki harta yang jauh lebih besar, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Harta yang banyak bukan otomatis tanda bahwa seseorang lebih mulia, sebagaimana kehidupan sederhana juga bukan tanda bahwa seseorang lebih rendah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Ayat ini memberikan pelajaran bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah rumah mewah, kendaraan mahal, pakaian bermerek, atau jumlah uang yang dimiliki. Karena itu, ketika melihat tetangga mendapatkan banyak kenikmatan, kita perlu mengingat bahwa setiap orang memiliki ujian dan rezeki yang berbeda.
Namun, persoalannya menjadi berbeda apabila tetangga tersebut sengaja memamerkan kekayaannya untuk merendahkan orang lain. Misalnya, ia sering membicarakan harga barang yang baru dibeli sambil menyindir tetangga yang tidak mampu, atau sengaja memperlihatkan kemewahan untuk membuat orang lain merasa rendah. Perilaku seperti itu tentu tidak baik karena kekayaan seharusnya membuat seseorang semakin bersyukur dan rendah hati, bukan semakin meremehkan orang lain.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kesombongan merupakan perkara yang berbahaya. Kesombongan bukan sekadar memiliki harta atau memakai barang mahal, tetapi ketika seseorang menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Jadi, memiliki rumah besar atau mobil mahal bukanlah dosa dengan sendirinya, tetapi sikap sombong dan merendahkan orang lain karena harta merupakan perkara yang harus diwaspadai.
Bagaimana jika kita merasa kesal karena terus-menerus melihat pameran kekayaan tersebut? Kita boleh merasa terganggu sebagai manusia, tetapi jangan biarkan rasa kesal berkembang menjadi kebencian, kedengkian, atau keinginan agar nikmat orang tersebut hilang. Sebaiknya kita belajar mengatakan dalam hati bahwa rezeki setiap orang sudah diatur Allah dan tugas kita adalah menjaga hati serta berusaha memperbaiki kehidupan kita sendiri.
Perasaan iri juga perlu dibedakan. Jika kita melihat seseorang mendapatkan nikmat lalu berharap agar nikmat tersebut hilang darinya, ini merupakan bentuk iri yang tercela. Tetapi jika kita melihat orang lain mendapatkan kebaikan kemudian berharap Allah memberikan rezeki yang serupa kepada kita tanpa menginginkan nikmat tersebut hilang dari orang lain, maka sikap seperti ini berbeda dan tidak sama dengan kedengkian.
Daripada terus membandingkan kehidupan dengan tetangga, lebih baik menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi. Jika tetangga memiliki usaha yang maju, kita bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana ia bekerja keras dan mengelola bisnisnya. Jika ia memiliki rumah bagus karena bertahun-tahun menabung, kita dapat belajar tentang kedisiplinan finansial tanpa harus merasa bahwa kehidupan kita tidak berarti.
Kita juga perlu menyadari bahwa apa yang terlihat di depan mata belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan seseorang. Tetangga mungkin terlihat memiliki banyak harta, tetapi kita tidak mengetahui beban, masalah keluarga, tanggung jawab, atau persoalan lain yang sedang dihadapinya. Karena itu, membandingkan kehidupan kita dengan tampilan luar kehidupan orang lain sering kali hanya membuat hati semakin tidak tenang.
Jika perilaku pamer tersebut sudah mengganggu hubungan bertetangga, kita tetap harus menjaga adab. Jangan membalas pamer dengan pamer, jangan menyindir melalui status media sosial, dan jangan mengajak tetangga lain untuk membicarakannya di belakang. Islam mengajarkan agar seorang muslim menjaga lisan dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan hiburan.
Jika memang ada kesempatan yang tepat, teguran dapat disampaikan secara halus tanpa mempermalukan orang tersebut. Namun, tidak semua perilaku harus langsung ditegur, terutama jika kita belum mengetahui apakah ia benar-benar berniat menyombongkan diri atau sekadar berbagi kebahagiaan. Berprasangka buruk hanya karena seseorang membeli barang mahal juga tidak tepat, karena bisa jadi ia memang sedang bersyukur atas rezeki yang diperolehnya.
Sebaliknya, jika kita sendiri memiliki rezeki lebih, sebaiknya berhati-hati agar tidak membuat tetangga merasa direndahkan. Islam tidak melarang seseorang menikmati rezeki yang halal, tetapi seorang muslim tetap dianjurkan menjaga sikap dan perasaan orang lain. Ada perbedaan antara bersyukur atas nikmat Allah dengan sengaja mempertontonkan kekayaan untuk mendapatkan pujian atau membuat orang lain merasa kecil.
Tetangga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial. Bahkan Rasulullah SAW memberikan banyak perhatian terhadap hak tetangga dan mengajarkan agar seorang muslim tidak menyakiti orang yang tinggal di dekatnya. Karena itu, meskipun kita merasa tidak nyaman dengan perilaku tetangga, jangan sampai rasa kesal tersebut membuat kita ikut melakukan tindakan yang merusak hubungan sosial.
Kita juga perlu belajar mengendalikan hati ketika melihat keberhasilan orang lain. Daripada berkata, “Kenapa dia bisa punya semuanya sementara saya tidak?”, cobalah menggantinya dengan doa, “Semoga Allah memberkahinya dan memberikan saya rezeki yang baik.” Kalimat sederhana seperti ini dapat membantu mengubah rasa iri menjadi doa dan membuat hati lebih tenang.
BACA JUGA: Suami Sering Membandingkan Istri dengan Istri Tetangga, Apa Hukumnya?
Pada akhirnya, merasa kesal karena tetangga sering pamer kekayaan tidak otomatis membuat seseorang berdosa. Yang menjadi masalah adalah ketika rasa kesal tersebut berubah menjadi hasad, kebencian, ghibah, fitnah, atau tindakan menyakiti tetangga. Selama kita berusaha mengendalikan hati, tidak menginginkan nikmatnya hilang, dan tetap menjaga hubungan baik, insyaallah kita dapat melewati ujian tersebut dengan lebih baik.
Kekayaan tetangga bukanlah ukuran keberhasilan hidup kita. Setiap orang memiliki rezeki, ujian, waktu, dan jalan kehidupan yang berbeda-beda, sehingga membandingkan semuanya hanya akan membuat hati lelah. Lebih baik fokus mensyukuri apa yang dimiliki, bekerja dan berusaha dengan cara yang halal, serta memohon kepada Allah agar diberikan rezeki yang cukup, berkah, dan membawa kita semakin dekat kepada-Nya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

