PERNAHKAH kita melihat tubuh sendiri hanya sebagai milik kita?
Kita bangun sesuka hati.
Tidur sesuka hati.
Makan sesuka hati.
Bekerja tanpa mengenal waktu.
Bahkan memaksa tubuh terus berjalan ketika ia sudah meminta berhenti.
Kita sering lupa.
Tubuh ini bukan sekadar kendaraan untuk mengejar dunia.
Ia adalah amanah.
Ada jantung yang terus berdetak tanpa kita perintah.
Ada paru-paru yang bekerja tanpa kita sadari.
BACA JUGA: Tidak Olahraga, Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?
Ada mata yang menemani kita membaca.
Ada kaki yang membawa kita menuju tempat kerja.
Juga menuju masjid.
Semua bekerja setiap detik.
Tanpa meminta upah.
Lalu bagaimana kita memperlakukannya?
Dalam sebuah hadis yang sangat indah, Rasulullah ﷺ mengingatkan Abdullah bin Amr agar tidak berlebihan dalam ibadah sampai mengabaikan kebutuhan tubuh.
Beliau bersabda,
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari 5199.
Kalimatnya pendek.

Tetapi maknanya dalam.
Tubuh memiliki hak.
Ia memiliki hak untuk beristirahat.
Memiliki hak untuk mendapatkan makanan yang baik.
Memiliki hak untuk bergerak.
Memiliki hak untuk dijaga.
Bahkan dalam ibadah pun Islam mengajarkan keseimbangan.
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan manusia untuk menyiksa tubuh demi mengejar kesalehan.
Beliau justru mengingatkan bahwa tidur juga memiliki tempat.
Istirahat juga memiliki nilai.
Keseimbangan adalah bagian dari sunnah.
Al-Qur’an juga memberikan prinsip yang sederhana.
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31).
Perhatikan kalimatnya.
Allah tidak mengatakan jangan makan.
Tidak pula melarang menikmati makanan yang halal.
Yang dilarang adalah berlebihan.
Di sinilah Islam terasa sangat dekat dengan ilmu kesehatan modern.
Tubuh membutuhkan nutrisi.
Tetapi tubuh juga membutuhkan keseimbangan.
Makan berlebihan secara terus-menerus dapat berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan.
Karena itu, pola makan yang wajar bukan sekadar persoalan penampilan.
Ia bagian dari menjaga tubuh.
Begitu juga dengan gerak.
Kita hidup di zaman yang membuat tubuh semakin banyak duduk.
Duduk di depan komputer.
Duduk di kendaraan.
Duduk sambil bermain ponsel.
Duduk sambil menonton.
Padahal tubuh manusia membutuhkan aktivitas.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu, atau 75 menit aktivitas berat.
Tidak harus selalu olahraga berat.
Berjalan kaki juga termasuk aktivitas fisik.
Pekerjaan rumah juga termasuk.
Bergerak lebih banyak daripada sebelumnya pun sudah merupakan langkah baik.
Aktivitas fisik secara teratur berkaitan dengan kesehatan jantung, metabolisme, kesehatan otak, tidur, serta kesehatan mental yang lebih baik.
Lalu ada satu hal yang sering kita korbankan.
Tidur.
Kita menunda tidur demi pekerjaan.
Demi film.
Demi media sosial.
Demi percakapan yang sebenarnya bisa dilanjutkan besok.
Padahal tubuh tidak bisa terus-menerus dipaksa.
Orang dewasa pada umumnya membutuhkan setidaknya tujuh jam tidur setiap hari.
Tidur bukan kemalasan.
Tidur adalah kebutuhan biologis.
Maka ketika kita tidur dengan cukup, kita bukan sedang membuang waktu.
Kita sedang memenuhi hak tubuh.
Begitu pula ketika kita berhenti sejenak.
Menarik napas.
Berjalan.
Makan dengan tenang.
Minum air.
Berolahraga.
Dan memeriksakan diri ketika sakit.
Semua itu dapat menjadi bentuk syukur.
Sebab menjaga amanah bukan hanya dengan mengucapkan alhamdulillah.
Tetapi juga dengan memperlakukan nikmat sebagaimana mestinya.
Ada orang yang baru menghargai tubuh setelah jatuh sakit.
Baru menghargai kaki setelah sulit berjalan.
Baru menghargai mata setelah penglihatannya terganggu.
Baru menghargai tidur setelah mengalami malam-malam panjang tanpa istirahat.
Padahal kesehatan adalah nikmat yang sering kita sadari setelah kehilangannya.
Karena itu, jangan menunggu tubuh benar-benar rusak untuk mulai merawatnya.
Jangan menunggu dokter mengatakan ada masalah.
Jangan menunggu usia bertambah.
Mulailah dari hal sederhana.

Makan secukupnya.
Tidur dengan cukup.
Bergerak setiap hari.
Kurangi kebiasaan yang merusak.
Kelola stres.
Dan jangan malu mencari pertolongan medis ketika tubuh membutuhkan bantuan.
Kita boleh mengejar kesuksesan.
Boleh bekerja keras.
Boleh memiliki cita-cita besar.
Tetapi jangan sampai kita mendapatkan dunia dengan mengorbankan tubuh yang Allah titipkan.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Sebab tubuh ini akan menemani kita dalam perjalanan hidup.
Ia membantu kita bekerja.
Membantu kita beribadah.
Membantu kita melayani keluarga.
Membantu kita berbuat baik kepada sesama.
Maka merawat tubuh bukan sekadar urusan kesehatan.
Ia adalah bagian dari tanggung jawab.
Tubuhmu bukan milikmu sepenuhnya.
Ia amanah.
Dan setiap amanah memiliki tanggung jawab.
Maka rawatlah.
Bukan karena takut tua.
Bukan hanya karena ingin terlihat sehat.
Tetapi karena kita ingin menggunakan tubuh ini untuk semakin banyak melakukan kebaikan.
Sebab ketika tubuh sehat dan jiwa terjaga, kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk bersujud, bekerja, mencintai, membantu, dan berbuat baik.
Itulah mungkin salah satu makna sederhana dari sabda Nabi ﷺ:
“Tubuhmu memiliki hak atasmu.”
Jangan abaikan hak itu.
Sebab tubuh yang kita miliki hari ini adalah titipan yang suatu hari akan kita tinggalkan. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


