MALAM itu seorang ayah pulang membawa uang.
Jumlahnya cukup banyak.
Wajahnya terlihat bahagia.
Istrinya tersenyum.
Anak-anak berlari menyambut.
Besoknya mereka membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan.
Tidak ada yang bertanya.
Dari mana uang itu berasal?
Yang terlihat hanya hasilnya.
Rumah menjadi lebih nyaman.
Makanan lebih banyak.
Kebutuhan keluarga terpenuhi.
Tetapi ada satu hal yang tidak terlihat.
Cara mendapatkannya.
Beberapa tahun kemudian, keadaan mulai berubah.
Sang ayah menjadi lebih mudah marah.
Ia sering pulang dalam keadaan lelah.
BACA JUGA: Apa Rahasia Tubuh Sehat, Hati Tenang in This Economy?
Bukan hanya tubuhnya yang lelah.
Pikirannya juga.
Ia sulit tidur.
Sering terbangun di tengah malam.
Kadang duduk sendirian.
Memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada keluarganya.
Istrinya mulai bertanya.
“Apakah ada masalah?”
Ia menjawab singkat.
“Tidak ada.”

Padahal ada.
Ada sesuatu yang selama ini disimpan sendiri.
Ada rasa takut.
Ada rasa bersalah.
Ada kekhawatiran.
Dan ada beban yang semakin berat.
Kondisi seperti ini tidak boleh langsung disimpulkan sebagai akibat biologis dari “uang haram”.
Secara ilmiah, uang bukanlah zat yang masuk ke dalam tubuh dan kemudian merusak sel.
Hubungannya jauh lebih kompleks.
Yang dapat memengaruhi kesehatan adalah kondisi psikologis dan perilaku yang menyertai kehidupan seseorang.
Kebohongan.
Ketakutan.
Konflik.
Tekanan.
Rasa bersalah.
Dan stres yang berlangsung lama.
Ketika seseorang mengalami tekanan, tubuh memiliki sistem pertahanan alami.
Otak membaca keadaan sebagai ancaman.
Sistem saraf menjadi lebih aktif.
Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dapat meningkat.
Dalam jangka pendek, mekanisme ini berguna.
Tubuh sedang bersiap menghadapi masalah.
Namun ketika stres berlangsung terus-menerus, tubuh dapat mengalami beban yang lebih besar.
Tidur terganggu.
Emosi berubah.
Konsentrasi menurun.
Tekanan darah dapat ikut terpengaruh.
Sistem kekebalan dan proses peradangan juga dapat mengalami perubahan.
Pada tingkat sel, stres oksidatif dapat meningkat ketika keseimbangan antara molekul reaktif dan sistem antioksidan tubuh terganggu.
Inilah sebabnya kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kondisi psikologis dan lingkungan kehidupannya.
Tetapi sekali lagi.
Tidak tepat mengatakan bahwa setiap penyakit disebabkan oleh harta haram.
Tidak tepat pula mengatakan bahwa harta haram secara langsung merusak sel.
Kita perlu melihatnya secara utuh.
Tubuh.
Pikiran.
Perilaku.
Dan lingkungan keluarga.
Semuanya saling berhubungan.
Kemudian kita kembali kepada keluarga.
Anak-anak melihat ayahnya.
Mereka mungkin tidak memahami persoalan uang.
Tetapi mereka memahami kemarahan.
Mereka memahami suasana rumah.
Mereka merasakan ketika ayah dan ibu mulai sering bertengkar.
Anak belajar dari apa yang dilihat.
Bukan hanya dari apa yang didengar.
Jika anak melihat bahwa kebohongan dianggap biasa demi mendapatkan uang, ia dapat membawa pelajaran itu ke masa depannya.
Karena itu, persoalan harta bukan hanya persoalan ekonomi.
Ia dapat menjadi persoalan karakter.
Persoalan hubungan.
Bahkan persoalan kesehatan keluarga.
Dalam Islam, rezeki yang halal memiliki kedudukan penting.
Bukan semata-mata karena jumlahnya.
Tetapi karena cara mendapatkannya.
Karena keberkahan tidak selalu terlihat dalam angka.
Kadang keberkahan terlihat dalam ketenangan.
Dalam hubungan suami istri yang lebih hangat.
Dalam anak yang tumbuh dengan kejujuran.
Dalam tidur yang lebih nyenyak.
Dan dalam hati yang tidak lagi terus-menerus takut.
Lalu bagaimana jika seseorang sudah terlanjur berada dalam keadaan seperti itu?
Jangan langsung menghakimi dirinya.
Jangan pula memendam semuanya sendirian.
Ada kalanya seseorang membutuhkan tempat untuk berbicara.
Bukan untuk dicari kesalahannya.
Tetapi untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Mungkin ada kecemasan yang selama ini disimpan.
Mungkin ada konflik rumah tangga.
Mungkin ada rasa bersalah.
Mungkin ada tekanan pekerjaan.
Atau mungkin seseorang hanya terlalu lama menjadi kuat untuk semua orang.
Konseling dapat menjadi salah satu ruang untuk berhenti sejenak.
Bercerita dengan lebih aman.
Mengenali apa yang sedang dirasakan.

Melihat persoalan dengan lebih jernih.
Kemudian mencari langkah yang lebih sehat.
Konseling bukan berarti seseorang lemah.
Justru terkadang keberanian dimulai ketika seseorang berani mengatakan,
“Saya sedang tidak baik-baik saja.”
Jika ada persoalan yang berkaitan dengan harta, keluarga, atau keputusan hidup, tentu sisi agama juga penting untuk diperhatikan.
Taubat.
Memperbaiki kesalahan.
Mengembalikan hak orang lain jika ada.
Meninggalkan sumber penghasilan yang tidak benar.
Dan mencari jalan rezeki yang halal.
Semua itu dapat menjadi bagian dari proses perubahan.
Tidak harus dilakukan dalam satu malam.
Satu langkah kecil pun tetap berarti.
Karena keluarga tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.
Keluarga membutuhkan orang tua yang mau memperbaiki diri.
Mungkin hari ini belum terlambat.
BACA JUGA: Lebih Sering Hubungan Suami Istri, Rezeki Akan Semakin Lancar?
Mungkin masih ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan.
Mungkin masih ada kesempatan untuk berbicara dengan pasangan.
Mungkin masih ada kesempatan untuk meminta maaf kepada anak.
Dan mungkin masih ada kesempatan untuk memulai kembali.
Jika beban terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri, carilah ruang untuk bercerita.
Dengan pendamping yang tepat.
Dengan pendekatan yang menghargai manusia.
Tanpa menghakimi.
Karena terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Dan dari sebuah cerita yang didengarkan dengan baik, seseorang bisa menemukan keberanian untuk mengambil langkah berikutnya.
Ruang aman untuk cerita.
Ruang nyaman untuk pulih. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


