Benarkah Suami Istri Jima di Malam Jumat Memiliki Keutamaan?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Unsplash

MALAM Jumat sering dianggap sebagai malam yang istimewa oleh umat Islam. Pada waktu tersebut, banyak orang memperbanyak membaca Al-Qur’an, bershalawat, berdzikir, berdoa, dan melakukan berbagai amal kebaikan. Karena itu, muncul pula anggapan di sebagian masyarakat bahwa hubungan intim antara suami dan istri pada malam Jumat memiliki keutamaan atau pahala khusus dibandingkan malam lainnya.

Hubungan suami istri dalam Islam pada dasarnya merupakan sesuatu yang halal dan bahkan dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dalam pernikahan yang sah serta dengan niat yang baik. Suami dan istri diperbolehkan menikmati hubungan tersebut selama tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan syariat. Namun, persoalannya adalah apakah ada dalil sahih yang secara khusus menyatakan bahwa jima pada malam Jumat memiliki keutamaan tertentu?

BACA JUGA: Apakah Jima Tanpa Doa Berdampak Buruk Terhadap Calon Anak?

Dalam masalah ini, kita perlu berhati-hati membedakan antara sesuatu yang memang dianjurkan secara syariat dengan sesuatu yang hanya menjadi kebiasaan masyarakat. Tidak semua perbuatan yang dilakukan pada malam atau hari tertentu otomatis memiliki pahala khusus. Sebuah amalan yang dinyatakan memiliki keutamaan tertentu membutuhkan dasar dari Al-Qur’an atau hadits yang dapat dipertanggungjawabkan.

Memang terdapat hadits yang sangat populer di masyarakat mengenai orang yang mandi, berangkat lebih awal untuk shalat Jumat, berjalan menuju masjid, mendekati imam dan mendengarkan khutbah, lalu mendapatkan pahala yang besar. Hadits tersebut berbicara mengenai persiapan dan pelaksanaan shalat Jumat, bukan mengenai hubungan intim suami istri pada malam Jumat.

Ada pula riwayat yang sering dikaitkan dengan hubungan suami istri pada malam Jumat. Sebagian orang bahkan menyebutkan bahwa melakukan jima pada malam Jumat memiliki pahala seperti mendapatkan pahala tertentu yang sangat besar. Namun, riwayat-riwayat semacam ini perlu diperiksa kualitasnya dan tidak seharusnya langsung disebarkan sebagai hadits sahih tanpa penjelasan dari para ulama ahli hadits.

Karena itu, seseorang sebaiknya tidak mengatakan dengan pasti bahwa “jima malam Jumat memiliki pahala khusus sekian” apabila tidak memiliki dasar yang kuat. Mengaitkan suatu ibadah atau aktivitas tertentu dengan pahala khusus atas nama Rasulullah SAW merupakan perkara yang serius. Jika sebuah hadits ternyata lemah atau tidak dapat dijadikan landasan, penyampaiannya harus dilakukan dengan hati-hati agar umat tidak menganggapnya sebagai ajaran yang pasti berasal dari Rasulullah SAW.

Lalu apakah suami istri boleh melakukan hubungan intim pada malam Jumat? Tentu saja boleh selama dilakukan dalam pernikahan yang sah dan memenuhi ketentuan syariat. Tidak ada larangan khusus yang membuat pasangan suami istri harus menghindari hubungan intim pada malam Jumat. Hubungan tersebut pada dasarnya halal, baik dilakukan pada malam Jumat maupun malam-malam lainnya.

Bahkan hubungan intim antara suami dan istri dapat menjadi amal yang berpahala apabila diniatkan untuk menjaga kehormatan diri dan pasangan, memenuhi hak pasangan, serta menghindarkan diri dari perbuatan haram. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hubungan biologis yang dilakukan secara halal dapat bernilai sedekah ketika seseorang melakukannya melalui jalan yang dibenarkan syariat.

https://s.shopee.co.id/8V98ZIjKaa

Ini menunjukkan bahwa hubungan suami istri tidak harus menunggu malam tertentu agar bernilai ibadah. Jika dilakukan dengan niat yang benar, menjaga adab, dan tidak melanggar larangan agama, hubungan tersebut dapat menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga yang bernilai kebaikan. Jadi, tidak tepat jika seseorang menganggap bahwa hubungan intim pada malam biasa tidak memiliki nilai ibadah sama sekali.

Ada pula pasangan yang sengaja memilih malam Jumat karena memiliki waktu lebih longgar setelah menjalani aktivitas selama beberapa hari. Jika alasannya adalah kenyamanan, kesempatan untuk beristirahat bersama, atau membangun kedekatan dengan pasangan, tentu tidak menjadi masalah. Yang perlu dihindari adalah meyakini adanya keutamaan khusus yang pasti berasal dari Nabi SAW tanpa dalil yang sahih.

Dalam rumah tangga, hubungan intim juga bukan semata-mata persoalan memenuhi kebutuhan biologis. Hubungan tersebut dapat menjadi salah satu cara menjaga keharmonisan, memperkuat kasih sayang, dan memenuhi hak masing-masing pasangan. Karena itu, suami maupun istri hendaknya tidak menjadikan hubungan intim sebagai sesuatu yang hanya boleh dilakukan pada waktu tertentu saja.

Islam justru memberikan ruang bagi pasangan suami istri untuk menikmati hubungan yang halal. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa istri merupakan tempat bercocok tanam bagi suami dan suami boleh mendatangi tempat tersebut sesuai dengan cara yang dibenarkan. Ayat tersebut menunjukkan bahwa hubungan suami istri merupakan bagian yang diakui dalam kehidupan rumah tangga, selama dilakukan dalam batas-batas yang halal.

Pasangan juga dianjurkan memperhatikan adab sebelum melakukan hubungan intim. Di antaranya adalah membaca doa yang diajarkan Rasulullah SAW sebelum jima. Doa tersebut merupakan tuntunan yang jelas dan memiliki dasar hadits, sehingga lebih baik bagi pasangan untuk membiasakannya daripada sibuk mencari amalan khusus malam Jumat yang belum tentu memiliki dasar yang kuat.

Selain itu, hubungan intim harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi pasangan. Suami tidak seharusnya memaksakan ketika istri sedang sakit atau memiliki kondisi yang membuat hubungan tersebut membahayakan. Begitu pula istri dan suami sebaiknya membangun komunikasi yang baik sehingga hubungan intim menjadi bagian dari kasih sayang, bukan sekadar pemenuhan keinginan salah satu pihak.

Jadi, benarkah jima pada malam Jumat memiliki keutamaan khusus? Tidak ada dasar yang kuat untuk memastikan bahwa hubungan intim pada malam Jumat memiliki pahala khusus tertentu hanya karena dilakukan pada malam tersebut. Yang memiliki dasar adalah bahwa hubungan suami istri yang halal dapat bernilai sedekah dan ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Dengan demikian, pasangan suami istri boleh saja melakukan jima pada malam Jumat. Jangan pula merasa bahwa hubungan tersebut harus dilakukan karena menganggap malam Jumat memiliki pahala khusus untuk jima. Jika dilakukan dengan niat menjaga keharmonisan rumah tangga, memenuhi hak pasangan, menjaga diri dari zina, serta mengikuti adab yang diajarkan Islam, hubungan tersebut insya Allah menjadi bagian dari kebaikan dalam rumah tangga.

BACA JUGA: Bagaimana Jika Suami Istri Tak Tahu Doa Sebelum Jima?

Yang lebih penting daripada mencari “malam terbaik” untuk jima adalah membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang setiap hari. Jangan sampai pasangan hanya memperhatikan waktu hubungan intim, tetapi melupakan kewajiban shalat, nafkah, komunikasi, penghormatan, dan hak-hak pasangan lainnya. Dalam Islam, keharmonisan rumah tangga tidak dibangun hanya melalui hubungan fisik, tetapi juga melalui ketakwaan, kasih sayang, tanggung jawab, dan saling menjaga.

Maka, jika ada yang mengatakan bahwa “suami istri wajib atau sangat dianjurkan jima setiap malam Jumat karena memiliki pahala khusus”, sebaiknya jangan langsung mempercayainya. Tanyakan dalilnya dan periksa kualitas riwayat yang digunakan. Sebab, dalam urusan agama, keinginan untuk mendapatkan pahala harus diiringi dengan kehati-hatian agar kita tidak menisbatkan sesuatu kepada Rasulullah SAW tanpa dasar yang benar. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *