HOTEL sering dikaitkan dengan tempat untuk beristirahat ketika seseorang bepergian, bekerja, atau membutuhkan tempat tinggal sementara. Namun di tengah masyarakat, hotel juga kerap mendapat stigma sebagai tempat yang digunakan sebagian orang untuk melakukan perbuatan maksiat, termasuk zina. Lalu, benarkah banyak orang yang melakukan zina di hotel?
Jawabannya, kita tidak bisa mengatakan bahwa banyaknya orang yang menginap di hotel berarti banyak pula yang melakukan zina. Hotel pada dasarnya hanyalah tempat, sedangkan baik atau buruknya suatu perbuatan bergantung kepada orang yang menggunakannya. Ada orang yang datang bersama pasangan sah untuk beristirahat, ada yang melakukan perjalanan bisnis, ada keluarga yang sedang berlibur, dan ada pula orang yang mungkin menyalahgunakan kamar hotel untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama.
BACA JUGA: Apa yang Harus Diwaspadai saat Suami Istri Berhubungan Intim di Hotel?
Dalam Islam, zina merupakan dosa besar yang sangat jelas larangannya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” Larangan tersebut bahkan menggunakan kalimat “jangan mendekati”, yang menunjukkan bahwa seorang Muslim bukan hanya diperintahkan menjauhi zina, tetapi juga menghindari jalan dan keadaan yang dapat menyeret seseorang menuju perbuatan tersebut.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah zina dilakukan di hotel atau di tempat lain. Zina dapat terjadi di berbagai tempat apabila seseorang sengaja melanggar batas yang telah ditetapkan agama. Hotel hanya menjadi salah satu tempat yang memiliki privasi tinggi sehingga jika seseorang memang berniat melakukan maksiat, kesempatan untuk melakukannya bisa lebih besar.
Namun kita juga tidak boleh menuduh seseorang hanya karena melihatnya masuk ke kamar hotel bersama lawan jenis. Bisa saja mereka adalah pasangan suami istri, saudara, rekan kerja, atau memiliki alasan lain yang dibenarkan. Dalam Islam, menuduh seseorang melakukan zina merupakan perkara yang sangat berat dan tidak boleh dilakukan berdasarkan dugaan atau sekadar melihat keadaan yang tampak mencurigakan.
Hal ini penting karena terkadang masyarakat mudah membuat kesimpulan. Seorang laki-laki dan perempuan terlihat masuk hotel bersama, kemudian langsung dianggap melakukan zina. Padahal kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar tersebut. Islam mengajarkan umatnya untuk menjauhi prasangka buruk dan tidak mencari-cari kesalahan orang lain.
Di sisi lain, seseorang yang belum menikah juga harus menyadari bahwa menjaga diri membutuhkan kehati-hatian. Menginap berdua dengan lawan jenis yang bukan mahram dalam situasi yang memungkinkan terjadinya khalwat atau membuka pintu menuju maksiat tentu merupakan sesuatu yang perlu dihindari. Jangan sampai seseorang merasa dirinya kuat menahan godaan, tetapi kemudian justru terjerumus karena keadaan yang sejak awal sengaja diciptakan terlalu dekat dengan maksiat.

Bagi pasangan yang sudah menikah, hotel tentu bukan tempat yang haram. Suami dan istri bahkan boleh menikmati waktu bersama, beristirahat, maupun melakukan hubungan intim selama tetap dalam batas-batas syariat. Yang menjadi persoalan bukan bangunan hotelnya, melainkan siapa yang berada di sana, hubungan antara mereka, serta apa yang dilakukan di dalamnya.
Kita juga perlu membedakan antara fakta dan stigma. Tanpa data yang dapat dipercaya, tidak tepat mengatakan bahwa hotel adalah tempat yang dipenuhi orang yang berzina. Bahkan jika memang pernah terjadi kasus zina di sebuah hotel, hal tersebut tidak membuat seluruh orang yang menginap di hotel tersebut melakukan dosa yang sama.
Yang lebih penting adalah bagaimana seorang Muslim menjaga dirinya ketika berada di tempat yang memberikan privasi. Jangan membuka peluang terjadinya maksiat hanya karena merasa tidak ada orang yang melihat. Sebab seorang Muslim meyakini bahwa manusia mungkin tidak melihat, tetapi Allah SWT selalu mengetahui apa yang dilakukan hamba-Nya.
Zina juga bukan dosa yang hanya berkaitan dengan hubungan badan. Sebelum sampai kepada zina, seseorang bisa saja memulai dari pandangan yang tidak dijaga, percakapan yang semakin intim, berkhalwat, sentuhan, hingga akhirnya melakukan perbuatan yang lebih jauh. Karena itu, menjaga batas sejak awal jauh lebih mudah daripada berusaha menghentikan diri setelah seseorang sudah berada dalam situasi yang penuh godaan.
BACA JUGA: 7 Ciri Orang yang Pura-pura Pengen Terlihat Kaya
Pada akhirnya, hotel tidak bisa dicap sebagai tempat zina. Hotel hanyalah sarana yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk keperluan yang halal. Jika seseorang menggunakannya untuk melakukan zina, maka dosanya berasal dari perbuatannya, bukan semata-mata karena tempatnya.
Maka, jangan mudah menuduh orang yang menginap di hotel melakukan zina, tetapi jangan pula menganggap remeh keadaan yang dapat membuka pintu menuju zina. Bagi seorang Muslim, menjaga kehormatan bukan hanya dilakukan ketika ada orang lain yang melihat, melainkan juga ketika berada sendirian di tempat yang sangat pribadi. Sebab ukuran ketakwaan bukan apakah manusia mengetahui perbuatan kita, tetapi apakah kita tetap takut kepada Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
