Firasat Imam Abu Hanifah terhadap Abu Yusuf Kecil

Nasrulloh Baksolahar
3 Min Read
Foto: Islampos AI

QADHI Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim salah seorang murid Imam Abu Hanifah bercerita:

“Saya biasa duduk bersama khalifah Harun ar-Rasyid dan makan dari hidangannya. Suatu hari, disajikan kepadanya faludzaj (sejenis makanan mewah), maka khalifah berkata,

“Hai Ya’qub, makanlah ini, sebab makanan seperti ini tidak dibuat setiap hari untuk kami.”

Saya bertanya,

“Apa ini, wahai Amirul Mu’minin?”

Dijawab,

“Ini adalah faludzaj yang disiram dengan minyak fustuq.”

Saya pun tertawa.

Khalifah bertanya,

“Mengapa engkau tertawa?”

Saya jawab, “Tidak apa-apa. Semoga Allah mengekalkan Amirul Mu’minin.”

Khalifah berkata, dan benar-benar mendesak saya,

“Sungguh, ceritakan kepadaku!”

Saya pun menceritakan sebabnya:

“Ayah saya – Ibrahim bin Habib – meninggal dunia, sedang saya masih kecil dan diasuh ibu. Saya pun diserahkan kepada tukang binatu untuk magang bekerja padanya.”

“Suatu hari, saya meninggalkan tukang binatu dan melewati halaqah Abu Hanifah. Saya pun duduk mendengarkan. Ibu menyusul saya ke halaqah itu, menarik tangan saya dan membawa saya kembali kepada tukang binatu.”

“Abu Hanifah sangat memperhatikan saya, sebab beliau melihat keinginan kuat saya untuk belajar. Karena peristiwa itu terus berulang dan ibu merasa bosan dengan “pelarian” saya ke majlis Abu Hanifah.”

Ibu pun berkata kepada Abu Hanifah,

“Anak ini tidak memiliki kekurangan selain kamu! Ia anak yatim yang tidak punya apa-apa. Aku memberinya makan dari alat pemintal benangku. Aku berharap ia bisa bekerja mendapatkan uang satu daniq untuk menghidupi dirinya sendiri.”

Abu Hanifah pun menjawab,

“Pulanglah, bu. Anak ini sebenarnya sedang belajar makan faludzaj yang disiram dengan minyak fustuq.”

Ibu pun pergi sambil berkata,

“Engkau ini orang tua yang sinting dan tidak waras!”

Banner Buku 101 Kisah Hebat Rasulullah Sirah Anak

Khalifah Harun ar-Rasyid sangat takjub mendengar kisah itu, lalu berkata,

“Sungguh, aku bersumpah, ilmu itu benar-benar mengangkat derajat seseorang dan bermanfaat baginya, baik bagi agamanya maupun kehidupan dunianya.”

Khalifah kemudian mendoakan Abu Hanifah, dan berkata,

“Beliau melihat dengan mata hatinya, sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dilihat dengan mata kepalanya.”

Inilah yang – dalam Islam– disebut firasat, yakni lintasan pikiran yang terbit dari kekuatan iman dan kedekatan dengan Allah. Dengannya seseorang bisa menyaksikan apa yang tersembunyi dari mata kepala.

Ibnu Syuja’ Al-Kirmani berkata,

“Siapa yang memakmurkan lahiriahnya dengan mengikuti Sunnah,”

“Siapa memakmurkan batiniah-nya dengan muraqabah (penjagaan kepada Allah),”

“Siapa menahan nafsunya dari syahwat,”

“Siapa menahan pandangannya dari apa yang diharamkan,”

“Serta membiasakan diri makan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan salah.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *