Waktu Sehari Semalam 24 Jam, Bagaimana Awal Mulanya?

5 Min Read
Foto: Freepik

WAKTU adalah anugerah tak ternilai yang Allah berikan kepada manusia. Sehari semalam kita diberi 24 jam – jumlah yang mungkin terasa singkat bagi sebagian orang, namun juga bisa terasa panjang bagi mereka yang memanfaatkannya dengan baik. Pernahkah kita bertanya, mengapa sehari semalam terdiri dari 24 jam? Dari mana asal perhitungan ini?

Awal Mula Pembagian Waktu

Konsep membagi waktu menjadi 24 jam bukanlah temuan baru. Sejarah mencatat bahwa ide ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tepatnya di Mesir Kuno. Bangsa Mesir yang hidup sekitar 2000 SM menggunakan sistem bilangan berbasis 12 – sistem duodecimal – yang berbeda dengan sistem desimal (basis 10) yang kita kenal sekarang.

Mengapa angka 12? Karena mereka memperhatikan langit. Di langit, mereka melihat ada sekitar 12 siklus bulan purnama dalam setahun. Selain itu, saat mengamati tangan, mereka menghitung ruas jari (tidak termasuk ibu jari) yang jumlahnya ada 12 pada satu tangan. Inilah yang kemudian menjadi dasar pembagian waktu mereka.

Pada awalnya, orang Mesir membagi siang hari menjadi 12 jam dan malam menjadi 12 jam, sehingga total menjadi 24 jam sehari semalam. Pembagian ini disesuaikan berdasarkan panjang siang dan malam yang berubah sepanjang tahun. Oleh karena itu, jam Mesir kuno tidak selalu berdurasi sama – di musim panas, “jam” siang bisa lebih panjang daripada “jam” malam, dan sebaliknya di musim dingin.

Pengaruh Peradaban Lain

Setelah Mesir Kuno, peradaban Babilonia juga memegang peranan penting dalam sejarah waktu. Mereka mengembangkan sistem waktu berbasis 60 (seksagesimal), yang masih kita gunakan hingga sekarang, seperti 60 menit dalam satu jam dan 60 detik dalam satu menit.

Bangsa Romawi kemudian menyempurnakan ide ini. Mereka mengadopsi pembagian sehari menjadi 24 jam, meski bentuk jamnya masih sederhana, seperti jam matahari (sundial). Seiring berjalannya waktu, teknologi jam berkembang – mulai dari jam air, jam pasir, hingga jam mekanik di abad pertengahan, yang akhirnya memantapkan pembagian waktu menjadi 24 jam dengan panjang yang sama, tak tergantung musim.

Waktu dan Kehidupan Modern

Di masa kini, sistem 24 jam menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Setiap aktivitas – bekerja, belajar, istirahat – diatur dengan presisi. Namun ironisnya, meskipun hidup di era jam digital super akurat, kita sering merasa “tidak punya waktu”.

Padahal, Allah memberikan waktu yang sama kepada setiap hamba-Nya. Perbedaan terletak pada bagaimana kita memanfaatkannya. Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah:

“Waktu adalah modal utama seorang hamba. Dialah yang akan menentukan keberhasilan dan kerugiannya di akhirat.”

Renungan: Waktu adalah Amanah

Waktu dalam Islam bukan sekadar hitungan detik, menit, dan jam. Ia adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Nabi ﷺ bersabda:

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang… umurnya untuk apa dihabiskan.” (HR. Tirmidzi)

Renungan ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga waktu dengan sebaik-baiknya. Betapa banyak amal kebaikan yang bisa kita lakukan dalam satu jam, bahkan satu menit, jika kita benar-benar menyadari nilainya.

Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata: “Aku tidak pernah menyesali sesuatu sebagaimana penyesalanku atas hari yang tenggelam mataharinya, sedangkan amalku tidak bertambah sedikit pun.”

Inilah sikap seorang mukmin sejati: selalu merasa rugi atas waktu yang berlalu tanpa kebaikan.

Penutup

Sehari semalam memang terdiri dari 24 jam, warisan peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu. Namun bagi seorang muslim, waktu bukan hanya soal sejarah atau teknologi, melainkan soal amanah, keberkahan, dan bekal menuju akhirat.

Marilah kita menjaga setiap jam, menit, dan detik yang Allah titipkan, mengisinya dengan ibadah, kebaikan, dan ilmu yang bermanfaat. Karena kelak, waktu itulah yang akan menjadi saksi: apakah kita termasuk orang yang sukses di sisi Allah, atau justru orang yang merugi.

“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Al-‘Ashr: 2-3) []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *