Umar bin Khattab Pernah Tolak Permintaan Nabi, Kenapa?

Umar Faqih
3 Min Read
Foto: Freepik

DI tengah teriknya mentari Madinah, tampak sosok lelaki tinggi, berkulit putih kemerahan, dengan kepala bagian depan yang botak. Dialah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, sang Al-Faruq – pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Kendati memiliki wibawa yang menjulang, Umar tetap sederhana. Kain bajunya sering ia tambal sendiri dengan kulit, dan di tangannya, cincin yang bertuliskan: “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu, hai Umar.”

Imam Al-Muzani rahimahullah pernah berkata tentang Umar, “Ia adalah manusia terbaik kedua setelah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, yang keduanya adalah sahabat terdekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan kuburnya pun bersebelahan dengan beliau.” Umar tak hanya dicintai oleh para sahabat karena keberanian dan ketegasannya, tetapi juga karena kerendahan hati yang begitu tulus.

BACA JUGA:   Mengapa Mekah Tertinggal, dan Madinah Menang?

Suatu hari, di masa perjanjian Hudaibiyah, suasana menjadi tegang. Rasulullah ﷺ hendak mengutus seseorang untuk menemui kaum Quraisy di Makkah demi membawa pesan perdamaian. Pilihan beliau jatuh kepada Umar bin Khattab. Umar, yang terkenal sebagai tangan kanan Rasulullah ﷺ dan pembela kebenaran, diminta menjadi utusan.

Namun, kali ini Umar menundukkan kepalanya. Dengan jujur ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku khawatir mereka akan mencelakaiku. Di kalangan Bani ‘Adi ibn Ka’ab, aku tak punya siapa pun yang mampu melindungiku. Orang-orang Quraisy sudah sangat tahu bagaimana keras dan tegasnya sikapku terhadap mereka.”

Ia pun melanjutkan, “Aku menyarankan kepada engkau, wahai Rasulullah, seseorang yang lebih terhormat di sisi Quraisy daripada aku. Dia adalah ‘Utsman ibn ‘Affan.”

BACA JUGA: Abu Bakar: Cinta Sejati pada Rasulullah ﷺ yang Mengalahkan Segalanya

Rasulullah ﷺ memandang Umar dengan penuh pengertian. Beliau pun menerima alasan sahabatnya ini dan mengutus ‘Utsman ibn ‘Affan untuk membawa misi perdamaian.

Kisah itu menjadi saksi, bahwa Umar bukanlah seorang pengecut. Justru ia berani menyampaikan kelemahannya kepada Rasulullah ﷺ demi kebaikan Islam. Umar mengerti bahwa keberanian tak selalu berarti maju sendiri ke garis depan. Kadang, keberanian sejati adalah mengakui keterbatasan diri dan mengusulkan pilihan yang lebih bijak demi maslahat umat.

Demikianlah Umar bin Khattab: pemilik wibawa, kejujuran, dan ketegasan yang melegenda. Sosok yang berjalan di jalanan Madinah dengan kain tambalan, menunggang keledai tanpa pelana, namun membuat para raja dan pendeta takjub dengan kewibawaannya. Seorang pemimpin yang selalu mengingat mati, dan mengajarkan dunia bahwa kesederhanaan adalah mahkota yang sejati. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *