Henry Kissinger, Raja Faisal, dan Keinginan Shalat 2 Rakaat di Al Aqsa

6 Min Read
Foto: My Catbird Seat

DALAM gulir waktu, di tengah gejolak global yang menguji ketahanan dan prinsip, muncul sosok Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud, seorang pemimpin yang memancarkan keteguhan dan visi. Kisahnya adalah sebuah epik keberanian, sebuah penolakan heroik terhadap dominasi dan sebuah seruan untuk keadilan yang bergema hingga kini.

Pada bulan Oktober 1973, dunia Barat terhenyak dalam cengkeraman krisis. Pasokan minyak, urat nadi peradaban industri, tiba-tiba mengering. Keputusan monumental ini datang dari Riyadh, dari hati seorang raja yang tak gentar. Raja Faisal telah menarik tuas kendali, memutus aliran minyak, dan dengan tindakan itu, ia mengirimkan pesan yang tak terbantahkan.

Di tengah kekalutan pasar global dan kepanikan di ibu kota-ibu kota Barat, Raja Faisal melontarkan sebuah kalimat yang menjadi legenda, sebuah deklarasi yang menohok sanubari: “Kami dan leluhur kami telah mampu bertahan hidup hanya mengandalkan kurma dan susu, dan kami akan kembali dengan cara itu lagi untuk bertahan hidup (tanpa bantuan barang-barang dari Barat).”

Kalimat ini bukanlah sekadar ancaman, melainkan penegasan identitas, pengingat akan ketahanan warisan, dan sebuah janji bahwa martabat jauh lebih berharga daripada kenyamanan materi. Ini adalah ucapan seorang pemimpin yang siap membawa rakyatnya kembali ke dasar jika itu berarti mempertahankan kehormatan dan tujuan yang lebih tinggi.

Dampak keputusan ini terasa instan dan melumpuhkan. Harga minyak melonjak, ekonomi terguncang, dan ketidakpastian merayap di setiap lini. Washington panik. Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang terkenal cerdas dan berpengaruh, segera terbang ke Arab Saudi, misi diplomatiknya adalah untuk meredakan ketegangan dan membujuk Raja Faisal agar menarik kembali keputusannya yang berani.

Pertemuan antara dua tokoh besar ini adalah duel kecerdasan dan tekad. Kissinger, dengan segala keahlian retorikanya, berusaha melunakkan pendirian Sang Raja. Namun, Raja Faisal tetap teguh, wajahnya memancarkan ketenangan yang dingin, tak tergoyahkan oleh tekanan atau bujukan. Jawaban singkatnya, lugas, dan menusuk langsung ke inti permasalahan: “Hancurlah Israel!” Pernyataan ini bukan tentang ekonomi atau politik energi semata, melainkan tentang hati nurani, tentang penderitaan rakyat Palestina, dan tentang keadilan yang telah lama dinanti.

Kissinger, mungkin mencoba mencairkan suasana atau menemukan celah, mencoba melontarkan sebuah lelucon, sebuah upaya untuk menghibur Sang Raja di tengah ketegangan yang memuncak. “Pesawat saya kehabisan minyak, berkenankah yang mulia memerintahkan orang agar mengisinya dengan minyak kembali? Dan kami siap membayarnya dengan kurs internasional.”

Namun, Sang Raja tak bergeming, tak ada senyum, tak ada tawa. Matanya menatap Kissinger dengan intens, penuh makna yang mendalam. Jawabannya adalah sebuah permohonan yang lebih kuat dari setiap ancaman, lebih tulus dari setiap tawar-menawar ekonomi. “Dan aku hanyalah seorang lelaki tua yang menginginkan untuk dapat shalat dua rakaat di Masjid Al Aqsa sebelum aku mati; maka maukah engkau (Amerika) mengabulkan permintaanku ini?”

Kata-kata ini bukan hanya keinginan pribadi seorang raja, melainkan gema aspirasi jutaan Muslim di seluruh dunia. Ini adalah pertanyaan yang melampaui politik, menyentuh ranah spiritual dan historis. Dalam pertanyaan ini terkandung seluruh tuntutan akan keadilan, kebebasan, dan kedaulatan atas situs-situs suci. Kisah ini adalah monumen bagi keberanian seorang pemimpin yang rela mengorbankan segalanya demi prinsip, seorang pahlawan yang menggunakan kekuasaannya bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk membela yang tertindas dan memperjuangkan kebenaran. Raja Faisal adalah bukti bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keteguhan hati dan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap keadilan.

Foto di atas tampak fasih menggambarkan sikap Raja Faisal yang tak menyukai Kissinger dan Kissinger yang berusaha menarik hati Sang Raja.

Siapa Raja Faisal dari Saudi?

Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud (1906–1975) adalah Raja Arab Saudi ketiga, memerintah dari tahun 1964 hingga pembunuhannya pada tahun 1975. Ia dikenal sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah modern Arab Saudi dan dunia Arab.

BACA JUGA:  Detik-detik Pemakaman Buya Hamka

Sebelum menjadi raja, Faisal memegang berbagai posisi penting, termasuk Menteri Luar Negeri dan Perdana Menteri. Ia memainkan peran kunci dalam modernisasi dan perkembangan Arab Saudi. Di bawah kepemimpinannya, negara ini mengalami reformasi ekonomi yang signifikan, termasuk peningkatan pendapatan dari minyak dan investasi besar dalam infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Ia juga berupaya keras untuk menghilangkan perbudakan di Arab Saudi.

Di kancah internasional, Raja Faisal adalah pendukung kuat pan-Islamisme dan persatuan Arab. Ia adalah seorang advokat gigih bagi hak-hak Palestina dan kembalinya Yerusalem Timur ke kendali Muslim. Embargo minyak pada tahun 1973, yang dijelaskan dalam narasi di atas, adalah salah satu tindakan paling berani dan ikoniknya yang bertujuan untuk menekan negara-negara Barat agar mengubah kebijakan mereka terhadap Israel.

Ia percaya bahwa kekuatan minyak harus digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan politik dan keadilan bagi dunia Arab dan Muslim. Warisannya sebagai pemimpin yang berprinsip dan visioner terus dihormati hingga saat ini. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *