NAMAKU Satoru. Tahun ini adalah 1945, dan aku baru berusia tiga belas tahun. Tapi rasanya usiaku telah bertambah puluhan tahun hanya dalam hitungan bulan sejak bom pertama jatuh di tanah airku.
Aku masih ingat bagaimana semuanya bermula. Tepatnya tanggal 7 Desember 1941, saat Jepang menyerang Pearl Harbor di Hawaii. Kata ayahku, itu adalah langkah berani untuk melumpuhkan kekuatan armada Amerika Serikat di Pasifik. Sehari setelahnya, Amerika menyatakan perang. Waktu itu, semua orang di kampungku di luar Kobe bersorak gembira. Mereka bilang Jepang akan menang, karena kita punya semangat yamato damashii—semangat jiwa besar bangsa Jepang. Tapi aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa arti semua itu, dan aku hanya menggenggam tangan adikku, Hana, yang waktu itu baru berusia tiga tahun.
Awalnya, perang hanya terasa seperti cerita di koran dan radio. Tapi perlahan, perang itu mendatangi rumah kami. Pada bulan April 1942, aku mendengar nama “Doolittle Raid”—ketika pesawat Amerika untuk pertama kalinya membom Tokyo. Orang-orang bilang tidak banyak kerusakan, tapi aku mulai merasa ada sesuatu yang menakutkan sedang merangkak mendekat.
Pada tahun-tahun berikutnya, Jepang mulai kalah di banyak tempat. Tahun 1944, Saipan jatuh. Ayahku yang bekerja di pelabuhan sering pulang dengan wajah lelah, dan ibuku mulai menukar perhiasan untuk mendapatkan makanan. Aku berusaha tetap terlihat kuat demi Hana, meski di dalam hati, aku juga ketakutan.
Lalu datanglah musim panas 1945. Pada malam tanggal 5 Juni, sirene peringatan berbunyi panjang. Suara dentuman bom dan cahaya merah memenuhi langit Kobe. Aku memeluk Hana erat-erat sambil berlari bersama ibuku ke tempat perlindungan. Api menelan rumah kami. Pagi harinya, kami hanya punya pakaian yang melekat di badan.
Setelah pengeboman besar-besaran itu, makanan menjadi semakin sulit. Beras hanya dapat dibeli dengan kupon, itupun tak cukup. Kadang, aku dan Hana berjalan jauh untuk mencari ubi liar di ladang yang telah dibom. Tubuh Hana makin kurus, tulangnya menonjol di balik kulitnya. Tapi ia masih tersenyum padaku, meski bibirnya pecah-pecah.
“Niisan… besok kita makan nasi putih, ya?” katanya suatu malam, matanya berbinar.
Aku hanya mengangguk, menahan air mata. Dalam hati, aku tahu itu adalah janji yang mungkin tak bisa kutepati.
Pada tanggal 6 Agustus 1945, terdengar kabar bom baru yang belum pernah ada sebelumnya dijatuhkan di kota Hiroshima. Kata orang, satu bom itu saja menghancurkan seluruh kota. Tiga hari kemudian, tanggal 9 Agustus, bom lain jatuh di Nagasaki. Tak lama setelah itu, tanggal 15 Agustus, Kaisar Hirohito berbicara di radio—untuk pertama kalinya dalam sejarah—mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat. Suaranya terdengar sedih dan gemetar, meski aku tak benar-benar mengerti semua kata-katanya.
Aku hanya tahu, perang sudah berakhir. Tapi bagi kami, penderitaan belum selesai.
Suatu malam, Hana demam. Napasnya pendek-pendek, dan ia menggigil meski musim panas masih terasa panasnya. Aku membawanya ke rumah sakit darurat, tapi dokter hanya menggeleng.
“Gizi buruk… tubuhnya terlalu lemah,” katanya pelan.
Aku duduk di samping Hana, menggenggam tangan kecilnya. “Maafkan aku, Hana,” bisikku.
Ia membuka matanya perlahan. “Niisan… jangan menangis…” katanya dengan suara lemah, lalu menutup matanya selamanya. Tubuhnya terasa ringan sekali di pelukanku, seperti daun kering yang ditiup angin.
Malam itu, aku menggali lubang kecil di dekat sungai, tempat Hana sering bermain. Aku menguburkan Hana di sana, bersama satu-satunya boneka kain yang masih tersisa. Aku berjanji akan selalu mengingatnya, meski dunia ini sudah tak ada lagi yang bisa kupercaya.
Sering aku bertanya dalam hati, kenapa semua ini terjadi. Kenapa negara kami diserang, kenapa Hana harus mati kelaparan. Guru sejarahku dulu bilang Jepang memulai perang karena ingin membebaskan Asia dari penjajahan Barat. Tapi sekarang, kota-kota kami hancur, keluarga kami hilang, dan tak ada yang merasa merdeka.
Aku juga mendengar orang-orang dewasa berbicara pelan di pengungsian. Mereka menyalahkan para jenderal yang terlalu percaya diri, memulai perang melawan negara sebesar Amerika Serikat. Mereka bicara tentang embargo minyak yang diberlakukan Amerika sejak pertengahan 1941, memaksa Jepang menyerang Pearl Harbor demi mendapatkan sumber daya di Asia Tenggara. Katanya, jika tidak menyerang duluan, Jepang akan kehabisan bahan bakar dan kalah juga. Tapi semua alasan itu tak pernah bisa menjawab rasa sakit di hatiku.
Setiap malam, aku mendengar suara Hana memanggilku dalam mimpi. Kadang ia tersenyum, kadang ia tampak lapar dan kedinginan. Aku terbangun dengan wajah basah oleh air mata. Aku selalu menyesal, kenapa aku tak bisa memberinya satu mangkuk nasi putih saja, seperti yang pernah kujanji.
Sekarang, musim gugur telah tiba. Daun-daun merah berguguran di jalan setapak yang dulu kulalui bersama Hana. Kota Kobe perlahan mencoba bangkit; ada yang membangun rumah, ada yang membuka kedai kecil. Tapi di mataku, semua tampak hampa.
BACA JUGA: Bantal Guling
Kadang aku melihat tentara Amerika berkeliaran, memberi permen pada anak-anak kecil. Mereka terlihat muda, seperti kakak-kakakku sendiri. Dan aku sadar, mungkin mereka pun punya adik perempuan yang mereka cintai di seberang laut sana. Mungkin mereka juga menangis saat membaca surat kabar tentang saudara mereka yang gugur.
Perang ini bukan hanya tentang bom, senjata, dan kemenangan. Perang ini tentang hati manusia yang remuk—tentang anak-anak yang kehilangan masa kecil, dan saudara yang kehilangan saudara. Tentang tangisan yang tak pernah terdengar di medan perang, tapi bergema di hati kami selamanya.
Kini, aku hanya punya kenangan dan penyesalan. Tapi setiap langkahku, aku membawa nama Hana di dalam hati. Mungkin suatu hari, Jepang akan benar-benar damai, dan tak ada lagi anak yang harus menahan lapar seperti Hana. Sampai saat itu tiba, aku akan terus berjalan—sendiri, tapi tidak sepenuhnya sendiri, karena Hana akan selalu bersamaku.
Dan saat aku menengadah ke langit malam yang tenang, aku berbisik pelan, “Hana… maafkan aku. Semoga kau tidur nyenyak, tanpa rasa lapar, di tempat yang lebih baik dari sini.” []
______
Kirim Cerita Pendek (Cerpen) Anda ke Islampos. dengan ketentuan tema Islami, perjuangan, renungan kehidupan, sosial budaya, jodoh dan rumah tangga, Times New Roman, 12 pt, minimal 1000 karakter Microsoft Word. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel. Silakan kirim ke: [email protected].
______
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

