PAGI hari, jalanan penuh sesak. Suara motor bersahutan, mobil berlomba-lomba menyalip, klakson berseru seolah dunia akan tamat bila mereka terlambat dua menit saja. Di media sosial, orang-orang pamer kesibukan: kerja, meeting, deadline, proyek, “productive hustle”. Semua sibuk. Semua bergerak. Tapi satu pertanyaan perlahan menyelinap di kepala:
Ke mana sebenarnya mereka pergi?
Apakah semua kesibukan ini benar-benar membawa kita ke tempat yang lebih baik? Ataukah kita hanya berputar-putar dalam roda tak berujung yang membuat kita merasa penting, padahal sebenarnya kita hanya… kelelahan?
Miskin Waktu, Tapi Bukan karena Tidak Ada Waktu
Kita hidup di zaman yang sibuk. Bahkan remaja pun sudah merasa “burnout”, anak kuliah merasa “overwhelmed”, dan orang dewasa merasa waktu 24 jam tak cukup untuk mengejar mimpi dan tagihan. Ironisnya, kita sibuk sepanjang hari, tapi tetap merasa belum cukup. Belum puas. Belum selesai.
BACA JUGA: Tau Gak Apa yang Mahal dalam Rumah Tangga?
Bahkan ketika tubuh berhenti bekerja, pikiran tetap berisik. Di kamar, kita tetap membuka notifikasi. Di tempat makan, kita masih menanggapi email. Bahkan di tengah obrolan dengan orang tersayang, pikiran kita berkelana ke hal-hal yang tak pernah selesai. Apa yang sedang kita cari, sebenarnya?
Kesibukan yang Kosong
Ada kesibukan yang menghasilkan. Tapi ada juga kesibukan yang hanya menjadi topeng agar kita tidak merasa hampa. Kita takut terlihat tidak berguna, takut dianggap tertinggal, takut kehilangan momentum. Kita ingin dianggap penting. Ingin diingat. Ingin diakui.
Namun betapa sering kita mengejar pengakuan dari orang-orang yang bahkan tidak mengenal kita. Kita letakkan kebahagiaan kita di tangan dunia, lalu bingung saat dunia tak pernah benar-benar memuaskan.
Kita terus bergerak, tapi seperti treadmill—lari, tapi tak sampai ke mana-mana.
Sibuk, tapi kosong. Bergerak, tapi tidak tumbuh.
Berhenti Sejenak: Mengatur Arah, Bukan Hanya Kecepatan
Islam mengajarkan bukan sekadar bergerak, tapi bergerak dengan niat, tujuan, dan kesadaran. Bukan seberapa cepat langkahmu, tapi ke mana arah langkah itu menuju.
Kesibukan yang tidak disandarkan pada nilai akan melelahkan jiwa. Sedangkan kesibukan yang diniatkan sebagai bentuk pengabdian—kepada keluarga, ilmu, sesama manusia, dan pada akhirnya, kepada Allah—akan memberi kekuatan dan keberkahan, meski terasa berat.
Orang bijak dalam tradisi Islam sering berkata:
“Istirahatkan hatimu dari dunia sesekali, agar engkau tahu apa yang benar-benar penting.”
Karena bukan banyaknya aktivitas yang membuat hidupmu berarti, melainkan **makna yang kau sematkan di dalamnya.
Kesimpulan: Pulanglah Sebelum Terlalu Jauh
Kesibukan adalah bagian dari kehidupan modern yang tak bisa dihindari. Namun dalam pandangan Islam, kesibukan bukanlah sebuah kebanggaan semata, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat pun sibuk, namun mereka menjadikan kesibukan sebagai jalan untuk memberi manfaat, bukan sekadar pencapaian duniawi.
BACA JUGA: Dampak Main HP Seharian untuk Hiburan Saat Kesepian
Islam mengajarkan bahwa waktu adalah salah satu nikmat terbesar, dan setiap detik akan dimintai pertanggungjawaban. Maka penting bagi kita untuk memastikan bahwa kesibukan kita bukan hanya membuat kita terlihat penting di mata manusia, tapi juga bernilai di hadapan Allah.
Di tengah tuntutan hidup dan hiruk-pikuk produktivitas, seorang Muslim diajak untuk tidak kehilangan arah. Menyempatkan waktu untuk refleksi, mendekat pada Allah, dan menata niat adalah bagian dari spiritualitas yang sehat.
Kesibukan yang membawa keberkahan adalah yang mendekatkan kita pada kebaikan, bukan yang menjauhkan dari keluarga, ibadah, atau diri sendiri. Maka, saat semua orang sibuk, tanyakan pada diri: Apa kesibukan ini membuatku lebih dekat pada tujuan hidupku yang hakiki? []
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
