WAHAI kawan, coba tahan sebentar jarimu yang lincah,
Saat makan, pegang sendok – bukan HP yang tak kenal lelah.
Apalagi di tempat umum, di restoran atau warung tenda,
Tidakkah lebih indah kalau fokus nikmati rasa, syukur pun merenda?
Coba bayangkan: nasi padang hangat mengepul,
Sambal ijo wangi, rendang empuk pula,
Tapi apa yang kau lakukan? Scroll reels tanpa ampun,
Sampai kuahnya pun dingin, kau tak sadar betapa nikmatnya sirna.
Padahal, kata Nabi ﷺ, sunnahnya jelas: makan sambil duduk, tenang, dan fokus.
Bukan sambil sibuk balas chat, baca status, atau update stories baru.
Karena makan bukan sekadar isi perut kosong,
Tapi momen syukur, rehat, dan nikmatnya kebersamaan yang agung.
BACA JUGA: Kepada Para Pejuang 2 Juta Rupiah
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah berkata:
“Seseorang hendaknya memperhatikan adab makan, karena makan adalah nikmat dari Allah, dan sudah seharusnya ia mengingat-Nya ketika menikmatinya.”
Bayangkan betapa kita lalai, hanya karena genggaman benda tipis, layar kaca.
Bisa ga sih… makan sambil liat orang di depan?
Daripada liat notifikasi nyasar, yang kadang bikin kita baper tak karuan.
Saudaraku, nikmatnya makan itu bukan hanya di lidah,
Tapi juga di hati, saat kau dengar tawa kawan, sapa lembut keluarga yang ramah.
Betul, sekarang zamannya digital, semua cepat, semua viral,
Tapi bukan berarti saat makan pun harus jadi wartawan amatir: foto dulu, edit filter, baru suap.
Sampai-sampai, lauk sudah dingin, teh manis sudah hambar,
Hanya demi konten: “Lunch time!” yang likes-nya pun kadang nyaris tak segar.
Mari tertawa sejenak…
Kita ini kadang kocak juga, ya:
Nasi sudah di depan, tangan malah sibuk scroll,
Satu suap, sepuluh swipe, padahal mulut kosong bolak-balik.
Ada yang lebih kocak lagi:
Saat makan bareng kawan lama, bukannya ngobrol tanya kabar,
Malah sama-sama sibuk tunduk menatap layar,
Seakan yang di depan cuma tembok kosong tak berdaya.
Ulama salaf dahulu berkata:
“Di antara tanda hati yang hidup adalah ia hadir sepenuhnya saat makan, dan hadir sepenuhnya saat ibadah.”
Ah, betapa jauhnya kita dari mereka yang hatinya penuh syukur, bukan sekadar penuh memori HP.
Bisa ga sih… fokus makan?
Tak perlu buka kamera setiap piring datang,
Tak usah upload dulu, baru kunyah perlahan.
Biar tangan kananmu sibuk suap nasi, bukan sibuk mengetik komentar.
Saudaraku, apa tak kau rasa nikmatnya:
Mengunyah perlahan sambil dengar cerita kawan,
Menghela nafas syukur setelah suapan terakhir,
Memandang wajah orang terdekat, bukan layar HP yang penuh ilusi.
Ada yang bilang: “Tapi kan penting, ini kerjaan, ini balas chat klien.”
Benar, ada keadaan darurat, semua paham itu.
Tapi kalau setiap makan selalu darurat,
Bukankah itu tandanya kita sudah jadi hamba notifikasi, bukan hamba Allah yang bersyukur?
Ingatlah pesan Imam Al-Ghazali rahimahullah:
“Janganlah engkau menjadi hamba perutmu, dan jangan pula menjadi hamba hawa nafsumu.”
Termasuk nafsu scrolling tanpa henti yang bikin makan jadi hambar.
Bisa ga sih… saat makan, pegang sendok, bukan HP?
Karena makanan itu rezeki Allah, bukan sekadar konten.
Karena di tiap kunyahan, ada nikmat yang harus disyukuri,
Bukan di-skip sambil nonton video lucu atau drama Korea.
Karena makan bareng keluarga itu momen mahal:
Anak tersenyum, istri bercerita, suami menanggapi,
Semua saling bertukar kata, bukan saling membisu menatap layar.
Apa artinya makan enak, kalau hati dingin, rumah jadi sepi?
Mari coba, sekali saja,
Tantang dirimu: taruh HP, diamkan lima belas menit.
Nikmati suara sendok bertemu piring, hirup aroma masakan,
Tertawalah kalau ada yang keselek sambil cerita konyol.
Bukankah itu jauh lebih nyata daripada emoji tertawa di layar?
Bisa ga sih…?
Tentu bisa, kalau kau mau.
Karena kita yang pegang HP, bukan HP yang pegang kita.
Karena makanan ini nikmat, bukan pajangan untuk like semata.
Karena Nabi ﷺ mengajarkan makan itu ibadah, bukan sekadar kebiasaan.
BACA JUGA: Ini Dia Buah-buahan yang Bagus untuk Dikonsumsi setelah Makan!
Penutup…
Kawan, makan sambil lihat HP itu memang lumrah,
Tapi jangan sampai jadi kebiasaan yang membuat kita lalai.
Lalai syukur, lalai silaturahmi, lalai menikmati rezeki.
Mulai sekarang, mari kita coba:
Saat makan, pegang sendok – bukan HP.
Fokus mengunyah – bukan fokus scroll.
Nikmati nikmat Allah – bukan nikmat konten semata.
Siapa tahu, setelah makan, hati kita lebih lapang,
Dan rezeki pun jadi lebih berkah.
Karena kita hadir sepenuhnya, untuk syukur dan untuk sesama.
Bisa ga sih?
InsyaAllah… BISA! []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

