Iffah

Dini Koswarini
6 Min Read
Foto: Freepik

ADA satu sikap hati yang amat agung dalam ajaran Islam, namun sering terabaikan di tengah gemuruhnya dunia modern: iffah — menahan diri dari meminta-minta, menjaga kehormatan, dan merasa cukup dengan rezeki yang telah Allah anugerahkan. Sifat ini bukan hanya soal menolak tangan untuk meminta, tetapi lebih dalam lagi: soal bagaimana hati dididik untuk tunduk, ridha, dan tidak selalu berharap kepada manusia.

عن عُمَرَ بن الخطاب رضي الله عنه يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، حَتَّى أَعْطَانِي مَرَّةً مَالًا فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ وَتَصَدَّقْ بِهِ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ (رواه البخاري ومسلم وأحمد)

Dari Umar ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberiku sebuah pemberian, maka aku berkata kepada beliau, “Berikan saja kepada orang lain yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Sampai suatu ketika beliau memberiku lagi harta dan aku berkata, “Berikan saja kepada orang yang lebih membutuhkannya daripada aku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ambillah dan kembangkanlah (investasikanlah) harta itu, lalu bersedekahlah dengannya. Apa yang datang kepadamu dari suatu harta (pemberian), sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak meminta-mintanya maka terimalah. Dan apabila tidak seperti demikian maka janganlah kamu memperturutkan nafsumu padanya.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i dan Ahmad)

Hadis ini menyimpan mutiara hikmah yang sangat dalam. Di antaranya, adalah tentang keutamaan sifat iffah: sifat menahan diri dari meminta-minta dan merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang telah Allah karuniakan.

BACA JUGA: Jangan Seperti Ikan dalam Akuarium: Renungan untuk Muslimah yang Suka Posting Foto di Medsos!

Sifat iffah adalah kemuliaan hati yang memancarkan rasa malu kepada Allah dan rasa hormat terhadap diri sendiri. Kata “iffah” berasal dari “عفف” yang bermakna menahan diri dari hal-hal yang tidak pantas, menjaga kehormatan, serta kesucian jiwa. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Iffah adalah meninggalkan apa yang tidak pantas, meskipun jiwa condong kepadanya.” (Madarijus Salikin)

Iffah bukan hanya menahan diri dari meminta-minta, tetapi juga menahan hati agar tidak selalu berharap dari manusia. Seseorang yang beriffah yakin bahwa rizki sejatinya hanya dari Allah ﷻ. Ia lebih memilih untuk bekerja keras, bersabar, dan berdoa daripada merendahkan diri dengan meminta. Sebagaimana perkataan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Sesungguhnya seorang mukmin itu menahan lidahnya dari meminta, meskipun ia dalam keadaan butuh.”

Renungkan pula bagaimana Umar bin Khattab رضي الله عنه begitu tulus menolak pemberian, bukan karena sombong atau tak butuh, tetapi karena lebih mengutamakan orang lain. Namun, Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan: tidak meminta-minta, tetapi juga tidak menolak rezeki yang datang tanpa diharap atau diminta. Karena dalam rezeki yang datang dengan cara seperti ini, terkadang Allah titipkan kebaikan, amanah, dan peluang untuk beramal.

Sifat iffah sangat erat dengan qana’ah, yaitu merasa cukup dan ridha dengan pembagian Allah. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika engkau memiliki hati yang qana’ah, maka engkau dan pemilik dunia ini sama saja.” Dengan qana’ah, seorang muslim tak akan mudah terguncang oleh kefakiran atau tertipu oleh kelimpahan harta. Ia selalu merasa cukup, sebab ia yakin apa yang Allah beri itulah yang terbaik.

Di zaman sekarang, sifat iffah dan qana’ah sangat relevan. Banyak orang lebih suka pamer kesuksesan di media sosial, bahkan tak segan untuk berhutang demi gengsi. Sebagian lagi, mudah tergoda meminta bantuan bukan karena butuh, tetapi demi menambah kemewahan. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksudnya, tangan yang memberi lebih mulia daripada tangan yang meminta.

BACA JUGA:  13 Ayat Alquran Tentang Sabar, Penting Diketahui Muslim

Iffah bukan berarti menolak semua pemberian atau menolak rezeki yang halal. Nabi ﷺ menegaskan: jika datang pemberian yang tidak diminta dan tidak diharap, maka ambillah. Jadikan sebagai modal untuk memberi manfaat lebih luas; investasikan, sedekahkan, atau gunakan di jalan kebaikan. Ini adalah bentuk syukur: menerima nikmat Allah dan memanfaatkannya untuk kebaikan.

Dengan iffah, hati menjadi lebih tenang dan bersih. Kita tak lagi sibuk membandingkan hidup dengan orang lain. Kita lebih fokus pada apa yang bisa kita syukuri dan apa yang bisa kita bagi. Seperti perkataan Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, “Sesungguhnya kalian adalah di pagi dan petang dalam perjalanan, maka pergunakanlah kesempatan dalam beramal.”

Semoga kita termasuk orang yang berhati iffah: menahan diri dari meminta, merasa cukup dengan apa yang Allah tetapkan, dan tetap membuka tangan untuk memberi. Karena di situlah letak kemuliaan seorang mukmin di dunia dan akhirat. []

Referensi:
Shahih Bukhari no. 1473, Shahih Muslim no. 1045, Musnad Ahmad no. 211
Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin
Perkataan Al-Hasan Al-Bashri dan Imam Asy-Syafi’i dalam Hilyatul Awliya karya Abu Nu’aim
Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah: 273

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *