ZIKIR adalah amalan hati dan lisan yang paling ringan namun paling berat pahalanya di sisi Allah. Ia tidak memerlukan tempat khusus, waktu yang terbatas, atau kondisi fisik tertentu. Zikir bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Meski demikian, terdapat waktu-waktu istimewa yang memiliki nilai lebih untuk berzikir. Di saat-saat itulah, pintu langit terbuka lebar dan rahmat Allah melimpah ruah.
Allah ﷻ berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Zikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Maka bagaimana kondisi ikan jika dipisahkan dari airnya?”
Zikir bukan sekadar rutinitas lisan, tetapi amalan yang menumbuhkan cinta kepada Allah, ketenangan jiwa, dan kekuatan iman. Terlebih jika dilakukan pada waktu-waktu yang utama sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
Enam Waktu Terbaik untuk Berzikir
1. Pagi dan Petang
Zikir pagi dan petang merupakan perlindungan harian seorang Muslim dari gangguan dunia dan akhirat. Allah ﷻ berfirman:
“Dan sebutlah (nama) Rabbmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41)
Zikir di waktu pagi memberikan energi spiritual untuk menjalani hari, sedangkan zikir petang menjadi penutup yang menenangkan hati dan menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Zikir pagi dan sore laksana dua perisai yang melindungi seorang hamba dari segala keburukan, lahir dan batin.”
2. Sepertiga Malam Terakhir
Waktu sepertiga malam adalah waktu paling utama dalam sehari. Di saat manusia lain tertidur, hamba yang bangun berzikir akan mendapatkan kedekatan yang luar biasa dengan Allah.
Allah ﷻ berfirman: “Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).”
(QS. Ath-Thur: 48-49)
Inilah waktu turunnya Allah ke langit dunia, menjawab doa-doa, mengampuni hamba yang memohon ampun. Zikir di waktu ini bukan hanya ibadah, melainkan juga bentuk cinta dan pengharapan tertinggi kepada Rabbul ‘Alamin.
3. Setelah Shalat Wajib
Allah ﷻ berfirman: “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” (QS. Qaf: 40)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali, lalu menutupnya dengan Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in qodiir, maka dosa-dosanya akan diampuni, walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)
Inilah momentum spiritual setelah menghadap langsung kepada Allah dalam shalat, lalu memperkuatnya dengan zikir sebagai bentuk kesempurnaan ibadah.
4. Setelah Menunaikan Haji atau Umrah
Allah ﷻ berfirman: “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Haji dan umrah adalah momentum transformasi spiritual. Zikir setelah menyelesaikannya menjadi bentuk syukur atas nikmat ibadah tersebut, sekaligus menjaga hati tetap terikat kepada Allah di tengah suasana duniawi.
5. Siang Hari Saat Matahari Tergelincir
Allah ﷻ berfirman: “Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS. Thaha: 130)
Zikir di tengah kesibukan duniawi siang hari adalah bukti kecintaan sejati kepada Allah. Ia mampu menyuntikkan ketenangan dan menjaga fokus ruhani meski dikepung hiruk pikuk dunia.
6. Saat Berhadapan dengan Musuh
Allah ﷻ berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al-Anfal: 45)
Zikir adalah kekuatan batin seorang Muslim. Ketika berhadapan dengan ujian besar seperti musuh atau ketakutan, zikir akan menguatkan hati, menenangkan jiwa, dan menumbuhkan rasa tawakal kepada Allah.
Teladan Rasulullah ﷺ dalam Menumbuhkan Zikir dalam Rumah Tangga
Salah satu cara Rasulullah ﷺ menjaga atmosfer iman dalam rumah tangganya adalah dengan menanamkan kebiasaan zikir kepada keluarganya, khususnya istri-istrinya. Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai istri beliau adalah sosok wanita cerdas dan penuh cinta, yang turut mencontohkan kehidupan zikir dalam kesehariannya.
Diriwayatkan dari Aisyah RA: “Ketika Aisyah marah, maka Nabi ﷺ mencubit hidungnya dan berkata, ‘Wahai ‘Uwaisy, katakanlah: Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku, dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan.’” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
BACA JUGA: 7 Keutamaan Dzikir Laa Ilaaha Illaallah
Zikir di sini menjadi terapi emosi. Rasulullah ﷺ tidak membalas marah dengan marah, tetapi mengajak istrinya kembali pada Allah. Inilah bentuk kelembutan dan pendidikan ruhani yang menjadi pilar rumah tangga sakinah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Keutamaan Aisyah atas semua wanita seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Aisyah adalah simbol wanita ahli ilmu, ahli ibadah, dan pecinta zikir. Rumah tangga Nabi ﷺ adalah madrasah zikir yang mencetak generasi rabbani.
Penutup: Zikir adalah Jalan Menuju Cinta Allah
Zikir bukan hanya bacaan, tapi jalan untuk mendekat kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata:
“Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga. Barang siapa yang belum memasukinya, dia tidak akan masuk surga di akhirat kelak. Surga dunia itu adalah zikir kepada Allah.”
Semakin sering seorang hamba mengingat Allah, semakin Allah mengingatnya. Allah ﷻ berfirman:
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Maka jadikanlah zikir sebagai teman dalam kesunyian, kekuatan dalam ujian, penyejuk dalam kegelisahan, dan bekal menuju akhirat. []
Referensi:
Al-Qur’anul Karim
Shahih Muslim
Shahih Bukhari
Tafsir Ibnu Katsir
Al-Wabil Ash-Shayyib karya Ibnul Qayyim
Majmu’ Al-Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Aisyah RA
HR. Muslim dari Abu Hurairah RA
Adz-Dzikir wa Atsaruhu karya Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
