PAGI itu sunyi. Kabut lembut menyelimuti Thursia, kampung kecil yang jauh dari hiruk-pikuk dunia, tempat Imam Al-Ghazali memilih untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya. Di tengah kesunyian itulah, seorang pemikir besar, ulama agung yang telah mengguncang dunia dengan Ihya’ Ulumuddin, menutup matanya dalam damai. Tapi sebelum itu, ada jejak-jejak kebijaksanaan yang ia tinggalkan, dengan ketenangan yang menyentuh langit.
Ibnu Katsir meriwayatkan, di masa senja hidupnya, Imam Al-Ghazali kembali ke Thursia. Ia tak memilih istana, tak memilih mimbar megah. Ia membangun rumah yang sederhana namun teduh, dikelilingi taman yang sejuk dan bersahaja. Ia hidup dengan tenang, mengisi harinya dengan membaca Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Tidak lagi menulis risalah-risalah filsafat atau menantang pemikiran kaum batiniyah. Ia memilih jalan sunyi: mendekat kepada Allah melalui sabda Nabi-Nya.
Suatu siang, dalam keheningan rumah itu, terdengar suara lembaran-lembaran kitab dibalik perlahan. Imam Al-Ghazali tengah menelaah Shahih Bukhari, berguru langsung kepada Abu Suhail Muhammad Abdullah Al-Hafshi. Beliau juga belajar Sunan Abu Dawud dari Al-Qadhi Abu Fath Al-Hakimi Ath-Thusi. Ia tidak merasa tinggi untuk duduk sebagai murid, meskipun gelar dan kemasyhurannya telah melintasi dunia Islam dari Baghdad hingga Damaskus.
Murid-muridnya mencatat dengan takjub betapa dalam usia yang renta pun, gurunya masih bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Salah seorang dari mereka berkata, “Jika saja beliau diberi umur lebih panjang, beliau akan menguasai hadits seperti halnya beliau menguasai tasawuf dan filsafat. Bahkan bisa melampaui para gurunya.”

Ibnu Taimiyah yang dikenal keras pun menyimpan kekaguman. Ia berkata, “Di akhir hidupnya, Al-Ghazali mendekat kepada ahli hadits. Ia wafat dalam keadaan memeluk Shahih Bukhari.”
Bayangkan, seorang ulama besar, yang telah menempuh jalan panjang intelektualisme, justru menutup hidupnya dalam pelukan hadits Nabi. Bukan karena kekurangan ilmu, tapi karena tahu, bahwa jalan pulang harus ditempuh dengan kesederhanaan.
Dan pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 514 Hijriah, fajar belum lagi menyingsing, Imam Al-Ghazali bangun lebih awal. Ia berwudhu, lalu shalat dengan khusyuk. Saudaranya, Ahmad, yang menemaninya kala itu, merekam momen-momen terakhir sang imam:
“Setelah shalat, beliau berkata, ‘Ambilkan kain kafanku.’ Aku pun mengambilnya. Ia memegangnya, mencium dengan penuh khidmat, lalu meletakkannya di hadapannya.”
Lalu ia berkata lirih, “Kafani aku.”
Ahmad, dengan tangan gemetar, mulai membungkus tubuh saudaranya yang agung itu dengan kain kafan, menyisakan kedua mata yang masih terbuka menatap langit-langit rumah.
“Tunduk dan patuhlah kepada Sang Penguasa,” kata Imam Al-Ghazali, suaranya tenang seperti air yang mengalir.
“Aku telah berserah diri jika malaikat hendak mengambil nyawaku.”
Kemudian beliau meluruskan kedua kakinya, menghadap kiblat. Tidak ada jerit kesakitan, tidak ada ketakutan. Hanya ketenangan yang luas seperti samudra. Sebelum matahari terbit, ruhnya telah kembali ke hadirat Allah.
Sebuah kematian yang dirindukan para pencinta hikmah: wafat dalam keikhlasan, dalam ibadah, dalam kedekatan pada ilmu dan Al-Qur’an.
Suasana Thursia pagi itu berubah. Seolah alam pun turut berduka. Taman yang biasanya diselimuti embun, kini dihiasi diam yang panjang. Murid-muridnya, para pecinta ilmunya, tak kuasa membendung air mata.
Al-Abyuri, salah satu yang sangat kehilangan, menuliskan sajak:
“Telah berlalu dan merasa sangat kehilangan, hingga aku sedih karenanya. Orang yang tiada bandingannya di masyarakat dan menggantikan kedudukannya.”
Al-Ghazali tak hanya wafat. Ia seperti membawa serta satu zaman bersamanya. Zaman di mana ilmu, hikmah, dan ketawadhu’an bersatu dalam satu jiwa.
Ia bukan hanya sosok rasional yang mampu membantah para filsuf. Ia bukan hanya sufi yang menulis Ihya’. Tapi ia adalah anak kecil yang terus belajar. Ia adalah murid yang tak pernah lelah mencari kebenaran. Dan di ujung usianya, ia kembali seperti seorang santri: mencintai hadits, mencintai Rasulullah, mencintai Allah dengan segala kesederhanaan.
Kematian Imam Al-Ghazali adalah pengingat bagi kita semua: bahwa ilmu setinggi langit pun akan merunduk saat berhadapan dengan akhir. Bahwa pada akhirnya, hanya keikhlasan yang menjadi bekal sejati.
BACA JUGA: Saat Heraklius dan Rustum Mengagumi Umat Rasulullah ﷺ
Seorang sahabat sempat bertanya padanya menjelang ajal, “Wahai Imam, nasihati aku.”
Ia menjawab singkat, “Hendaklah kamu ikhlas.” Dan beliau mengulanginya. Lagi dan lagi. Hingga ruhnya meninggalkan jasad.
Tidak ada pesan tentang kekuasaan. Tidak ada pesan tentang popularitas. Hanya satu kata: ikhlas.
Itulah dzikir terakhir seorang pemikir besar.
Hari itu, Thursia menjadi saksi bisu wafatnya seorang wali ilmu. Dan di atas ranjang sederhana, seorang manusia agung telah dikafani oleh dirinya sendiri sebelum malaikat datang. Meninggalkan dunia dengan pelukan Shahih Bukhari di dadanya.
Sungguh, seperti disebutkan dalam riwayat, orang-orang pilihan seringkali tahu kapan waktunya pulang. Dan mereka pulang bukan dalam gelap, tapi dalam cahaya yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang hatinya bening.
Maka, pelajarilah dari akhir hidup Imam Al-Ghazali, bahwa jalan kembali ke Allah adalah jalan yang sunyi. Tidak ramai. Tidak butuh tepuk tangan. Tapi selalu dibuka dengan ilmu, disirami oleh zikir, dan diakhiri dengan keikhlasan yang bulat. []
Sumber: Ali Muhammad Shalabi, Bani Seljuk, Pustaka Al-Kautsar.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

