Ungkapan Pertama di Malam Pengantinnya Syuraih bin al-Harits al-Kindi

7 Min Read
Foto: Freepik

MALAM  itu, langit Kufah seperti permadani hitam bertabur cahaya. Angin yang lembut masuk melalui celah-celah jendela kayu, membawa aroma tanah yang dingin. Di dalam rumah, suasana perlahan berubah dari riuh menjadi hening. Para tamu, kerabat, dan sahabat telah pulang. Piring-piring kosong, gelas yang tersisa setengah terisi air, dan sisa wangi minyak kasturi masih menggantung di udara.

Syuraih, sang hakim agung di era Umar bin Khattab hingga Ali bin Abi Thalib, berdiri di tengah ruang utama, merasakan denyut aneh di dadanya. Ia biasa menghadapi persidangan, menimbang bukti, memutuskan perkara dengan tenang. Tapi malam ini, yang dihadapinya bukan perkara, melainkan takdir.

Di hadapannya, duduk seorang wanita yang baru saja menjadi istrinya. Wajahnya teduh, kulitnya memancarkan cahaya yang lembut. Mata itu… bening, seperti menyimpan danau yang tak semua orang diizinkan melihatnya. Rambutnya tersanggul rapi, dengan wangi yang seakan berasal dari kebun bunga di surga.

“Inilah dia,” batin Syuraih. “Seorang asing yang kini menjadi bagian dari hidupku. Seorang yang akan berbagi siang dan malam, suka dan duka.”

—

Shalat Syukur yang Tak Direncanakan

Syuraih merasa dadanya penuh. Ia berbisik dalam hati, “Aku ingin memulai ini dengan Allah.”

Ia melangkah ke tempat wudhu, membiarkan air dingin membasuh tangannya. Setiap basuhan membawa rasa tenang. Air itu menetes ke tanah, seperti membawa sisa-sisa kegugupan yang tadi menguasai hatinya.

Ia berdiri menghadap kiblat. Takbirnya terasa lebih berat namun lebih manis. Ia rukuk, ia sujud, ia merasa seluruh perjalanannya — dari masa mudanya hingga saat ini — bermuara pada dua rakaat ini.

Saat salamnya ke kanan dan ke kiri, ia terkejut. Istrinya, di sisi lain ruangan, juga mengerjakan shalat. Ia menyelesaikan salamnya bersamaan dengan salam Syuraih.

Mata mereka bertemu sejenak. Tidak ada kata. Tapi di balik tatapan itu, ada kalimat tanpa suara: “Kita bertemu di hadapan Allah sebelum bertemu di hadapan dunia.”

—

Kata-kata Pertama Sang Pengantin Perempuan

Lampu minyak bergoyang pelan, memantulkan cahaya ke dinding. Syuraih mendekat, duduk di hadapan istrinya. Tangannya ia ulurkan, sedikit gemetar, tapi hangat.

Istrinya menatapnya. Ada gugup, tapi lebih besar lagi ada keyakinan. Lalu ia bicara:

“Berdasarkan risalah Nabimu, wahai Abu Umayyah, apa yang menjadi keinginanmu akan aku lakukan.”

Syuraih menahan napas. Kata-kata itu, diucapkan di malam pertama, terasa seperti janji yang bukan sekadar lahir dari adat, tapi dari iman.

Istrinya menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi:

“Alhamdulillah, aku memuji Allah, aku memohon pertolongan-Nya, dan aku sampaikan salam kepada Muhammad ﷺ dan keluarganya. Sungguh, aku adalah wanita asing, aku tidak pernah tahu tentang akhlakmu. Maka katakanlah kepadaku, apa yang engkau sukai sehingga akan aku lakukan, dan apa yang engkau benci sehingga akan aku tinggalkan.”

Suara itu bergetar ringan, seperti riak air di danau yang tenang.

“Di antara kaummu, banyak wanita yang bisa engkau nikahi, dan di antara kaumku, banyak laki-laki yang layak menikahi aku. Tetapi jika Allah telah berkehendak, niscaya itulah yang terjadi — engkau telah memiliki aku. Maka lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Demikianlah aku berkata, aku memohon ampunan kepada Allah atas dosaku dan dosamu.”

Di dalam hatinya, Syuraih berkata, “Jika ini tulus, ini akan menjadi permulaan yang indah. Jika dibuat-buat, ini akan menjadi beban baginya.”

—

Balasan Syuraih

Syuraih mengangguk perlahan. Ia merasakan tangannya yang tadi dingin mulai hangat.

“Engkau telah mengucapkan perkataan yang, jika benar, akan menjadi nasib baik bagimu, dan jika berpura-pura, akan memberatkanmu. Maka, hal-hal yang aku sukai adalah ini dan itu, dan hal-hal yang tidak aku sukai adalah ini dan itu. Jika menurutmu itu kebaikan, sebarkanlah. Jika menurutmu itu kesalahan, sembunyikanlah.”

Istrinya mendengarkan, matanya tidak berpaling. Ia seperti sedang mencatat setiap kata di hatinya.

“Sejauh mana kesenanganmu untuk mengunjungi keluargaku?” tanya istrinya.

“Aku berharap agar saudara-saudaramu tidak menyusahkanku,” jawab Syuraih, memilih kata dengan hati-hati.

“Siapakah di antara tetanggamu yang boleh masuk ke rumah kita, sehingga aku memberinya izin, dan siapa yang tidak boleh masuk?”

Syuraih menyebut nama-nama yang ia percaya dan nama-nama yang ia hindari. Istrinya mengangguk pelan.

—

Malam yang Tenang

Malam itu tidak diwarnai dengan gelak tawa keras atau euforia berlebihan. Malam itu diwarnai dengan keheningan yang berbicara, tatapan yang mengerti, dan kata-kata yang menanam.

Syuraih merasa, malam itu bukan sekadar awal pernikahan, tapi awal dari sebuah perjanjian yang disaksikan oleh Allah.

—

Setahun Kemudian

Setahun berlalu. Suatu hari, saat Syuraih pulang dari majelis peradilan, ia mendapati seorang wanita duduk di ruang utama. Ternyata, itu mertuanya.

“Menurutmu, bagaimana istrimu?” tanya sang mertua.

“Dia adalah istri yang paling baik,” jawab Syuraih tanpa ragu.

Mertuanya menghela napas, lalu berkata:

“Wahai Abu Umayyah, seorang wanita tidak akan menjadi lebih buruk darinya dalam dua hal: ketika ia melahirkan anak laki-laki, atau ketika ia mendapatkan restu penuh dari suaminya. Demi Allah, tidak ada laki-laki yang hidup bersama sesuatu yang paling jahat kecuali bersama wanita yang manja. Didiklah dan haluskanlah ia sebagaimana kehendakmu.”

Kata-kata itu menancap di hati Syuraih. Ia memegangnya seperti seseorang memegang kompas di tengah padang luas.

—

BACA JUGA:  Kumis yang Tak Bisa Dicukur

Dua Puluh Tahun Tanpa Pertengkaran

Waktu berjalan. Dua puluh tahun mereka lalui. Tidak pernah sekalipun ia marah kepada istrinya, kecuali sekali — dan itu pun karena kesalahannya sendiri.

Setiap kali ia mengingat malam pertama mereka, ia menyadari sesuatu: ketenangan rumah tangga bukan hanya dibangun dari cinta, tapi dari perjanjian yang jelas, saling menjaga kehormatan, dan menempatkan Allah sebagai saksi pertama.

—

Malam Pertama sebagai Titik Arah

Banyak pasangan memulai rumah tangga dengan janji manis yang menguap begitu masalah datang. Tapi Syuraih dan istrinya memulai dengan kejujuran yang sederhana: “Apa yang engkau sukai akan aku lakukan, apa yang engkau benci akan aku tinggalkan.”

Malam itu, cahaya lampu minyak, aroma kasturi, suara angin, dan tatapan mata mereka menjadi saksi. Mereka tahu, hidup bersama bukan hanya tentang berbagi tempat tidur, tapi berbagi tujuan dan aturan yang sama.

Itulah sebabnya dua puluh tahun kemudian, ketika banyak rumah tangga runtuh oleh hal-hal kecil, rumah tangga Syuraih tetap berdiri kokoh. Karena mereka tidak memulai perjalanan di tengah jalan — mereka memulainya tepat dari titik yang benar. []

Sumber: Said Abdul Adhim, Redakan Kegelisahan, Ziyad Books

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *